//
you're reading...
Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 2]

dreams

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini kami sajikan lanjutan seri pembahasan tafsir surat al-Fatihah masih dengan rujukan utama Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh as-Sa’di rahimahullah.

Tafsir Hamdalah

Syaikh rahimahullah melanjutkan:

[alhamdulillah] segala puji bagi Allah. Ini merupakan sanjungan kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan dan juga karena berbagai perbuatan-Nya yang berkisar antara al-fadhl [memberikan karunia] dan al-‘adl [menegakkan keadilan]. Oleh sebab itu Allah berhak untuk mendapatkan pujian yang sempurna dari segala sisi.

[Rabbil ‘alamiin] Yang memelihara seluruh alam. Kata ‘ar-Rabb’ bermakna sang murabbi/pemelihara dan penjaga seluruh alam. Alam yaitu segala sesuatu selain Allah. Bentuk pemeliharaan dan penjagaan Allah yaitu dengan menciptakan mereka, Allah sediakan untuk mereka segala sarana kehidupan.

Dan Allah juga curahkan kepada mereka kenikmatan-kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka kehilangan itu semua niscaya mereka tidak bisa lagi bertahan hidup di alam dunia. Kenikmatan apapun juga yang ada pada mereka itu semua adalah bersumber dari Allah ta’ala.

Bentuk tarbiyah [penjagaan dan pemeliharaan] dari Allah kepada makhluk-Nya ada dua macam; tarbiyah yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.

Tarbiyah yang umum adalah dengan Allah menciptakan seluruh makhluk. Allah pun memberikan rizki kepada mereka dan juga petunjuk menuju kemaslahatan hidup mereka yang dengan hal itu bisa terjaga kehidupan mereka di alam dunia.

Tarbiyah yang khusus adalah tarbiyah dari Allah bagi para wali-Nya [baca; orang beriman dan bertakwa, pent]. Yaitu Allah berikan bimbingan kepada mereka dengan keimanan. Allah berikan taufik kepada mereka kepadanya. Allah sempurnakan bagi mereka hal itu. Allah juga menyingkirkan dari mereka segala hal yang merintangi dan menghalangi mereka dari menghamba kepada-Nya.

Hakikat tarbiyah yang khusus ini adalah tarbiyah taufik menuju segala kebaikan serta penjagaan dari segala macam keburukan. Barangkali makna inilah yang menjadi rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan lafal ‘rabb’. Karena sesungguhnya segala cita-cita dan harapan mereka tercakup di dalam rububiyah Allah yang khusus ini.

Maka, firman-Nya [rabbil ‘alamin] ini menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal penciptaan, pengaturan serta pemberian nikmat. Sekaligus ia menunjukkan betapa kayanya Allah dan diri-Nya tidak membutuhkan kepada siapa pun, sementara seluruh alam/makhluk ini selalu membutuhkan-Nya dengan sepenuhnya, dari segala sisi dan tinjauan.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Ringkasan Keterangan

Dari keterangan Syaikh di atas, ada beberapa perkara pokok yang patut untuk kita cermati. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Ayat ini berisi sanjungan kepada Allah
  2. Sanjungan atau pujian bagi Allah ini didasari oleh kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Semua sifat Allah terpuji dan demikian pula semua perbuatan-Nya.
  3. Perbuatan-perbuatan Allah secara umum bisa dibagi menjadi dua macam; perbuatan yang mencerminkan sikap al-fadhl; yaitu mencurahkan karunia dan keutamaan kepada hamba-Nya, atau perbuatan yang mencerminkan sikap al-‘adl; yaitu menegakkan keadilan dan hukuman kepada yang berhak menerimanya
  4. Allah adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, dan pengatur seluruh alam
  5. Segala macam kenikmatan yang ada pada makhluk maka itu adalah datang dari sisi Allah ta’ala. Dengan kenikmatan-kenikmatan itulah mereka bisa hidup dan bertahan di alam dunia.
  6. Penjagaan dan pemeliharaan Allah kepada hamba terbagi dua; yang umum dan yang khusus. Tarbiyah yang umum berupa kenikmatan-kenikmatan dunia. Sedangkan tarbiyah yang khusus adalah berupa kenikmatan hidayah dan agama

Tambahan Penjelasan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, memang apabila kita lihat sekilas ayat tersebut sangat singkat dan tidak banyak berisi kata-kata. Meskipun demikian, ternyata setelah dipaparkan oleh para ulama tentang kandungan hikmah dan pelajaran yang ada di dalamnya teranglah bagi kita bahwa ayat yang setiap hari kita baca dalam sholat ini menyimpan mutiara hikmah yang sangat-sangat berharga.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, “Firman-Nya [alhamdulillah] ini adalah kalimat yang bernada pemberitaan. Seolah-olah Allah ingin mengatakan bahwasanya yang berhak untuk mendapatkan segala pujian Allah ‘azza wa jalla semata. Di dalamnya terkandung suatu bentuk pengajaran kepada makhluk/hamba. Bisa ditafsirkan maknanya adalah ‘ucapkanlah alhamdulillah’. Kata ‘alhamdu’ ini bisa bermakna ungkapan syukur atas kenikmatan dan bisa juga bermakna pujian atas segala sifat terpuji yang ada pada diri-Nya.”

[lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 9]

Oleh sebab itu dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ pada hakikatnya kita sedang mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Di sisi lain, dengan ucapan ‘alhamdulillah’ kita juga sedang memuji dan menyanjung Allah karena kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Allah terpuji karena telah melimpahkan nikmat kepada hamba, dan Allah juga terpuji karena kemuliaan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh sebab itu -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh as-Sa’di- Allah itu terpuji dari segala sisi dan tinjauan…

Kecintaan dan Pengagungan

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam Tafsir Juz ‘Amma-nya [hal. 11-12] menerangkan, bahwasanya di dalam kata ‘alhamdu’ terkandung unsur mahabbah/kecintaan dan ta’zhim/pengagungan. Karena tidaklah dikatakan pujian itu sebagai ‘alhamd’ kecuali apabila dibarengi dengan cinta dan pengagungan. Pujian yang tidak disertai kedua hal ini -dalam bahasa arab- dinamakan dengan istilah mad-h [sanjungan].

Kemudian, apabila kita cermati kembali ternyata kedua hal ini -yang beliau sebutkan- yaitu cinta dan pengagungan, merupakan pondasi ibadah kepada Allah ta’ala. Perhatikanlah keterangan beliau pada kesempatan lain diantara majelis ilmu beliau yang diberkahi…

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.” [lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam, tahun 1416 H].

Nilai Sebuah Kecintaan

Berikut ini marilah kita simak keterangan indah dari seorang ulama besar di masa kini tentang kandungan makna ayat yang sedang kita bahas.

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Segala puji bagi Allah atas dasar apa? Atas dasar nikmat-nikmat-Nya. Maka Dia (Allah) subhanahu wa ta’ala dipuji karena kesempurnaan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dia lah Sang pemberi nikmat atas hamba-hamba-Nya. Siapa pun yang memberikan nikmat tentu berhak mendapat pujian sesuai kadar nikmat yang diberikan. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa Allah mesti dicintai. Jiwa manusia pun tercipta dalam keadaan mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala, Dia lah yang mencurahkan kebaikan dan nikmat. Dia lah yang paling berjasa kepada hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hati manusia mencintai-Nya karena berbagai macam nikmat, karunia, dan kebaikan yang diberikan-Nya kepada mereka. Sebuah kecintaan yang tidak boleh ditandingi dengan kecintaan kepada apapun juga.” [lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 12 cet. Dar al-Imam Ahmad]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menegaskan, “Kecintaan merupakan pokok agama Islam yang menjadi poros segala ajaran agama. Dengan kesempurnaan cinta maka sempurnalah agama islam -pada dirinya-, dan dengan berkurangnya cinta maka berkuranglah tauhid seorang insan. Yang dimaksud cinta di sini adalah kecintaaan penghambaan yang mengandung perendahan diri dan ketundukan serta ketaatan secara mutlak dan lebih mendahulukan dzat yang dicintai dari segala sesuatu selain-Nya. Kecintaan semacam ini murni untuk Allah, tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya dalam hal ini sesuatu apapun.” [lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 84]

Konsekuensi Ma’rifatullah

Kecintaan kepada Allah merupakan konsekuensi dari ma’rifat seorang hamba kepada Rabbnya. Karena dia mengenal Allah maka dia pun mencintai-Nya.

Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu adalah cabang pengenalan terhadapnya. Manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling mencintai-Nya. Setiap orang yang mengenal Allah pasti akan mencintai-Nya. Tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” [lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16]

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Pemuja dunia telah keluar dari dunia, sedangkan mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” Orang-orang bertanya, “Apakah hal itu wahai Abu Yahya?”. Beliau menjawab, “Mengenal Allah ‘azza wa jalla.” [lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 28 cet. Dar al-Imam Ahmad]

Perlu diingat, bahwa yang dimaksud ‘mengenal Allah’ di sini bukanlah sekedar wawasan, dimana orang yang taat maupun ahli maksiat sama-sama memilikinya. Namun, yang dimaksud adalah pengenalan yang diiringi dengan rasa malu kepada Allah, kecintaan, ketergantungan hati, rindu bertemu dengan-Nya, takut kepada-Nya, bertaubat dan meningkatkan ketaatan untuk-Nya, merasa tentram bersama-Nya, dan rela meninggalkan makhluk untuk mengabdi kepada-Nya [lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 22]

Oleh sebab itu, ibadah yang benar adalah ibadah yang dilandasi dengan kecintaan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah].

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ibadah adalah kecintaan dan tundukan secara total, disertai kesempurnaan rasa takut dan perendahan diri.” [lihat Tafsir al-Fatihah, hal. 49 tahqiq Dr. Fahd ar-Rumi]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka adalah jalannya kaum Khawarij.” [lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35]

Hakikat dan Intisari Ibadah

Dari penjelasan di atas, tampaklah bagi kita bahwa di dalam ayat ini terkandung nilai spiritual yang sangat agung, yaitu kecintaan. Kecintaan menduduki posisi dan peranan yang sangat besar di dalam agama, sebab ia merupakan pondasi tegaknya ibadah. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa cinta merupakan ruh daripada ibadah!

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak mudharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab lain yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakikat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu terasa hampa tidak ada ruhnya sama sekali di dalamnya…” [lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakikat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” [lihat al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95]

Dari sinilah, sepatutnya bagi kita untuk senantiasa memupuk kecintaan kepada Allah dan menjaganya dengan dzikir, ketaatan, dan amal salih. Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Kecintaan kepada Allah ta’ala itu semestinya membuahkan kecintaan terhadap ketaatan kepada-Nya. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang taat kepada-Nya. Sementara seorang yang mencintai -kekasihnya- niscaya akan mencintai apa saja yang dicintai oleh kekasihnya, itu sudah pasti.” [lihat Fath al-Majid, hal. 326]

Ibnul A’rabi al-Maliki rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Umair bin Habib, beliau berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Lalu ada orang yang bertanya, “Apa yang dimaksud bertambah dan berkurangnya?”. Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah dan merasa takut kepada-Nya itu pertambahannya. Dan apabila kita lalai, melupakan dan menyia-nyiakan maka itulah pengurangannya.” [lihat Mu’jam [1/235]]

Rabi’ bin Anas rahimahullah menyebutkan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya. Sebab sesungguhnya tidaklah kamu mencintai sesuatu melainkan kamu pasti akan banyak-banyak menyebut/mengingatnya.” [lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 559].

Oleh sebab itu, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu [dzikir] adalah ruh dalam amal-amal salih. Apabila suatu amal tidak disertai dengan dzikir maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” [lihat Madarij as-Salikin [2/441]]

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Bagi seorang yang jatuh cinta, nama kekasih yang dicintainya tentu tidak akan lenyap dari dalam hatinya. Seandainya dia dibebani untuk melupakan kekasihnya dari ingatannya niscaya dia tidak mampu melakukannya. Seandainya dibebani untuk menahan lisan dari menyebut-nyebutnya niscaya dia pun tidak sanggup bersabar menahannya.” [lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 560]

Tidak heran, jika Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang mencintai al-Qur’an maka dia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [lihat Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha, hal. 48]

Discussion

3 thoughts on “Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 2]

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 2] | citramultikreasi64 - January 11, 2014

  2. Pingback: Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 2] « agus88 Mobile Blog - January 26, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,961 other followers

%d bloggers like this: