//
you're reading...
Telaah

Amal Apa Yang Paling Utama?

08-amal-paling-utama

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya.” Dia [Ibnu Mas'ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia [Ibnu Mas'ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”

Dia [Ibnu Mas'ud] berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku, seandainya aku menambah pertanyaan niscaya beliau pun akan menjawabnya.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari Jilid 2 hal. 12 tahqiq Syaibatul Hamd]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan -sembari menukil pendapat ulama yang lain- bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadits ini adalah jihad yang bukan fardhu ‘ain, sebab jihad yang semacam itu -jihad yang fardhu kifayah- dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua; sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 13 tahqiq Syaibatul Hamd]

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, dia berkata: Ada seorang yang datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon ijin ikut berjihad. Beliau pun bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Muhammad -salah seorang periwayat- meriwayatkan, “Apakah kamu memiliki kedua orang tua?”. Dia menjawab, “Iya.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada mereka berdua.” [lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 25]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ‘Ubaidullah bin Abi Yazid bertanya kepada ‘Ubaid bin ‘Umair, “Apakah seorang lelaki boleh berangkat perang sementara kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka berdua tidak suka?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” [lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 35]

Zurarah bin Aufa rahimahullah menceritakan: Ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya aku telah bernazar untuk berperang melawan Romawi. Akan tetapi ternyata kedua orang tuaku melarangku berangkat.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Taatilah kedua orang tuamu. Adapun Romawi, akan kamu dapatkan orang lain yang memeranginya selain dirimu.” [lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 36]

Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam kiranya bisa disimpulkan bahwa jihad lebih didahulukan -keutamaannya- daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan sholat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus [tidak temporer, pent]. Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 1 tahqiq Syaibatul Hamd]

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amal manakah yang lebih utama?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Haji mabrur.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1 hal. 97]

Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya, sementara iman kepada Allah dan rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah sholat tepat pada waktunya; hal itu disebabkan sholat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut iman kepada Allah dan rasul-Nya sebagai amal yang paling utama; hal itu disebabkan ia merupakan amal hati yang paling utama…” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadits-hadits itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah; dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau sholat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya yang merupakan perkara yang sifatnya fardhu ‘ain dan termasuk bentuk penunaian hak-hak Allah ‘azza wa jalla. Kemudian yang paling utama setelah itu perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu amal-amal sunnah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama diantaranya [amal-amal sunnah] adalah jihad.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 21]

Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu; menuntut ilmu -yang sifatnya sunnah-, jihad, dan dzikir. Secara berurutan -berdasarkan penilitian para ulama – disimpulkan bahwa amal sunnah yang paling utama adalah; ilmu, setelah itu jihad, kemudian dzikir [silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid al-Ittiba’, hal. 25-31]

Lakukan Apa Yang Anda Mampu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Perkara yang disyari’atkan bagi setiap orang adalah hendaknya dia melakukan apa-apa yang mampu dia kerjakan diantara kebaikan yang ada. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah sekuat kemampuan kalian.”

Oleh sebab itu apabila ternyata berbagai cabang keimanan itu berdesakan/berbenturan maka semestinya didahulukan hal-hal yang lebih dicintai Allah dan paling mampu untuk dikerjakan olehnya. Bisa jadi amalan yang mafdhul [kurang utama] ternyata jauh lebih mampu untuk dilakukannya daripada amalan [lain] yang fadhil/lebih utama.

[lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 199]

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

Banyak diantara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan dzikir pada masa-masa permulaan daripada membaca [ilmu]. Karena dzikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan al-Qur’an memberikan pasokan ilmu; namun terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada sekedar pasokan ilmu; dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya adalah jauh lebih utama dengan kesepakatan [para ulama].

[lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202]

Pentingnya Ilmu Bagi Kita

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Umat manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sepanjang waktu.” [lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 91]

Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” [lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah, hal. 58]

Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa berpandangan bahwa berangkat di awal siang atau di akhir siang untuk menghadiri majelis ilmu bukanlah jihad, maka sungguh akal dan pikirannya sudah tidak beres.” [lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang melata di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” [lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96]

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” [lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu jika disertai dengan niat yang lurus.” [lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26]

al-Hasan rahimahullah menafsirkan makna doa yang terdapat dalam firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” Beliau mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.” [lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 40]

Discussion

One thought on “Amal Apa Yang Paling Utama?

  1. Reblogged this on Salsabila.

    Posted by Ummu Muhammad Ima | January 14, 2014, 1:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,961 other followers

%d bloggers like this: