//
you're reading...
Kalam Ulama, Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 3]

high-tech

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Tafsir ‘ar-Rahmanir rahiim’ sudah berlalu dalam pembahasan tafsir basmalah. Oleh sebab itu Syaikh langsung membahas tafsir ayat selanjutnya, yaitu ‘maaliki yaumid diin’.

Di dalam ayat ini terkandung salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada hari akhir. Selain itu, di dalam ayat ini juga terkandung salah satu pilar ibadah, yaitu khauf/takut kepada Allah. Di samping itu, ayat ini juga mengisyaratkan kepada kita untuk senantiasa ber-muhasabah/introspeksi diri dan bertaubat dari segala dosa dan kesalahan.

Beliau rahimahullah menjelaskan :

‘Maaliki yaumid diin'; yang berkuasa pada hari pembalasan. ‘maalik’/penguasa adalah pihak yang disifati dengan kepemilikan/kekuasaan. Sifat ini memiliki konsekuensi berupa perintah dan larangan, memberikan pahala dan hukuman. Dia pula yang berhak untuk mengatur segala kepemilikan-Nya dengan segala bentuk pengaturan.

Disandarkannya kekuasaan ini pada hari pembalasan -yaitu hari kiamat, hari dimana manusia akan dibalas atas amal mereka, yang baik dan yang buruk- dikarenakan pada hari itu tampak jelas bagi seluruh makhluk akan kesempurnaan kekuasaan, keadilan, dan hikmah-Nya. Ketika itulah terputus segala kepemilikan dan kekuasaan yang ada pada makhluk.

Sampai-sampai pada hari itu menjadi setara antara pemimpin/raja dengan rakyat jelata, antara budak dengan orang-orang merdeka. Mereka semua tunduk kepada keagungan-Nya, patuh kepada kemuliaan-Nya, dan menunggu-nunggu balasan yang datang dari-Nya.  

Ketika itu, mereka mengharapkan pahala dari-Nya. Mereka juga diliputi rasa takut akan hukuman dari-Nya. Oleh sebab itulah maka hari ini [kiamat] disebutkan secara khusus -di dalam ayat ini- padahal sebenarnya Allah adalah penguasa baik pada hari pembalasan maupun pada hari-hari selainnya.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Tambahan Faidah

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Di dalamnya juga terkandung penetapan hari kebangkitan, dalam ayat Maaliki yaumid diin. Yang dimaksud Yaumud diin adalah hari penghisaban. Karena kata diin di sini bermakna hisab/perhitungan. Hari perhitungan itu adalah hari kiamat. Ia disebut dengan yaumud diin karena Allah menghisab hamba-hamba-Nya dan memberikan balasan atas amal yang telah mereka lakukan.” [lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 10 cet. Dar al-Imam Ahmad]

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman. Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “[Iman itu adalah] kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim no. 1)

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu ciri orang yang beruntung. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada nabi sebelum kamu, dan terhadap hari akherat mereka pun meyakini. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 4-5)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Bagaimana mungkin dianggap berakal, seseorang yang menjual surga demi mendapatkan kesenangan sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakikat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan; menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendali- dan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya. Adapun Rabb (Allah) ta’ala, apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.” [lihat al-Fawa'id, hal. 34]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, beliau berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kelak kalian dihisab -di hari kiamat-. Timbanglah amal-amal kalian sebelum kelak -amal- kalian ditimbang. Karena itu akan lebih ringan di timbangan kalian esok -di akherat- dengan kalian menghisab diri kalian pada hari ini -di dunia-. Hiasilah diri kalian -dengan takwa- untuk menyambut hari persidangan yang besar, yang pada hari itu kalian akan disidang dan tiada satu perkara pun yang tersembunyi dari kalian.” [lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 106]

al-Hasan rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah tawanan di dunia. Dia terus berusaha untuk membebaskan tengkuknya dari perbudakan [kepada selain Allah, pent]. Ia tidak bisa merasa aman dari sesuatu apapun, sampai bertemu dengan Allah tabaraka wa ta’ala.” [lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra' 'alaiha, hal. 122]                     

Abu Hazim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah apa-apa yang kamu sukai akan bersamamu kelak di akhirat maka persiapkanlah ia sejak sekarang. Dan perhatikanlah apa-apa yang tidak kamu sukai bersamamu kelak di akhirat, kemudian tinggalkanlah ia sekarang.” [lihat at-Tahdzib al-Maudhu'i li Hilyat al-Auliyaa', hal. 703]

Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Seorang mukmin adalah orang yang selalu merasa diawasi oleh Rabbnya, berusaha untuk terus mengintrospeksi dirinya, dan dia membekali diri untuk menyambut hari saat ia kembali kepada-Nya.” [lihat at-Tahdzib al-Maudhu'i li Hilyat al-Auliyaa', hal. 711]

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Seandainya setiap kali usai melakukan maksiat seorang insan melemparkan ke dalam rumahnya sebuah batu, niscaya rumahnya akan penuh dengan batu dalam jangka waktu yang singkat. Akan tetapi kenyataannya orang cenderung bermudah-mudahan, sehingga ia terus ‘memelihara’ maksiat-maksiat, padahal maksiat-maksiat itu dicatat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menghitung/mencatatnya, namun mereka jutsru melupakannya.” (QS.al-Mujadilah: 6).” [lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 472]

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 3] « agus88 Mobile Blog - January 26, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Santri Tauhid

  • Cuplikan Nasihat Syaikh Shalih al-Fauzan shar.es/1anjpL via @kajianmubarok 2 weeks ago
  • RT @Drsalehs: على قدر نور الإيمان في هذه الدار يكون نور العبد في تلك الدار وعلى قدر حياته في هذه الدار تكون حياته هناك #ابن_القيم مدارج ال… 2 weeks ago
  • RT @al_7adith: طُوبى لمن وُجِدَ في صحيفتِه استغفار ٌكثيرٌ الراوي: عبدالله بن بسر المازني المحدث: الألباني - المصدر: صحيح الترغيب خلاصة حكم… 2 weeks ago
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,961 other followers

%d bloggers like this: