//
you're reading...
Manhaj, Nasehat

Membaca Hakikat Ikhlas Dan Bercermin

Ebadat0225

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, para sahabatnya, dan pengikut setia mereka.

Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, Islam adalah agama yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi orang-orang yang ikhlas. Ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam beramal, dan ikhlas dalam berdakwah. Ikhlas inilah poros utama dakwah para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Ikhlas inilah pondasi kebahagiaan dan pokok ketentraman hati. Ikhlas inilah yang menjadi syarat untuk merasakan indahnya surga.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dengan hanif/menjauhi syirik, mendirikan sholat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah -Muhammad- inilah jalanku, aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, aku sama sekali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Ikhlas Dalam Beribadah

Ibadah sebagaimana diterangkan oleh para ulama, adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah ditopang oleh puncak rasa cinta dan pengagungan serta perendahan diri kepada Allah. Ibadah terwujud dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ikhlas dalam beribadah inilah yang terkandung dalam ayat di surat al-Fatihah yang setiap hari kita baca di dalam sholat, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Ayat tersebut menunjukkan wajibnya kita mempersembahak ibadah ikhlas dan murni untuk Allah semata, tidak kepada selain-Nya.

Segala bentuk ibadah, apakah itu doa, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan lain sebagainya, semuanya hanya boleh ditujukan kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah siapa pun juga.” (QS. Al-Jin : 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah mereka harus beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun. Adapun hak hamba yang pasti diberikan oleh Allah adalah Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu)

Inilah ajaran segenap rasul kepada umatnya. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyerukan- sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Orang yang menyembah kepada selain Allah maka tidak ikhlas ibadahnya, dan ibadahnya itu tidak diterima di sisi-Nya. Bahkan orang yang mempersekutukan Allah dalam beribadah diharamkan untuk masuk surga. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Maa’idah : 72)

Ikhlas Dalam Beramal Salih

Ikhlas dalam beramal artinya seorang melakukan amalan semata-mata karena Allah, bukan karena mencari pujian manusia atau kedudukan di hadapan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu)

Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman, “Aku adalah Dzat yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan ia bersama syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Yang demikian itu, karena amalan tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keikhlasan dan dilakukan dengan cara yang sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Allah] yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)

Yang terbaik amalnya maksudnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar apabila sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian penafsiran Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang dinukil dalam kitab-kitab tafsir para ulama.

Ikhlas memiliki lawan yaitu riya’ dan ujub. Riya’ adalah beramal karena dilihat orang atau untuk mencari sanjungan dan kedudukan di mata mereka. Adapun ujub adalah merasa hebat dan bangga dengan amalannya dan mengira bahwa apa yang diperolehnya adalah karena keunggulan dan kemampuan dirinya. Orang yang riya’ mempersekutukan Allah dengan makhluk/orang lain. Adapun orang yang ujub telah mempersekutukan Allah dengan dirinya sendiri. Dan kedua hal itu sama-sama merusak amalan, bahkan menyebabkan amal itu sirna pahalanya, dan berdosa.

Oleh sebab itu, sebagian ulama menerangkan bahwa hakikat ikhlas itu adalah ‘melupaka pandangan orang dengan senantiasa melihat kepada pandangaan al-Khaliq/Allah’. Ulama yang lain mengatakan, ‘orang yang ikhlas adalah suka menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan keburukan-keburukannya’.

Oleh sebab itulah salah satu orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah ‘seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya dengan dia berikan secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahuinya’ demikian pula ‘seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi/sendiri lalu berlinanglah air matanya’ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Amal apapun yang dilakukan oleh seorang hamba hendaklah dilakukan dengan ikhlas. Tanpa keikhlasan maka amal itu akan sia-sia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami teliti amal-amal yang dahulu mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan : 23)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,960 other followers

%d bloggers like this: