//
you're reading...
Langkah Awal

Mukadimah 2

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kitab-kitab ulama salaf sebagaimana kita ketahui sangat banyak jumlahnya. Baik yang ringkas, yang sedang maupun yang berjilid-jilid. Kitab-kitab itu ditulis dalam bidang ilmu yang beraneka ragam dan dengan latar belakang yang bermacam-macam. Penulisnya pun memiliki tingkat keilmuan yang berbeda-beda.

Diantara sekian banyak kitab ulama yang telah ditulis dan diterbitkan, maka kita dapati bahwa kitab-kitab yang memberikan manfaat luas dan besar kepada manusia maka itulah yang tetap bertahan dan terus dicetak berulang-ulang dan dikaji di berbagai penjuru dunia. Sebutlah misalnya, kitab al-Arba’in an-Nawawiyah karya Imam Nawawi rahimahullah yang hanya memuat 42 hadits pilihan.

al-Arba’in an-Nawawiyah dicetak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa serta dikaji oleh para ulama dan penimba ilmu dari berbagai negara. Hal itu dikarenakan kandungan kitab ini yang istimewa, sebab ia mengandung pokok-pokok ajaran agama Islam yang telah tercakup dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang singkat namun sarat akan makna.

Selain itu, tulisan Imam Nawawi yang lain yang sangat dikenal oleh umat Islam adalah kitab Riyadhus Shalihin. Sebuah kitab yang menghiasi perpustakaan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Di dalamnya tercantum ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi bimbingan bagi umat manusia menuju kebahagiaan hidup mereka.

Dalam bidang tafsir, kita juga mengenal tafsir karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah yang telah dikenal luas di tengah umat Islam di berbagai penjuru dunia. Di dalamnya terdapat penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan mencantumkan riwayat-riwayat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ulama salaf.

Di bidang tauhid, kita juga mengenal Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah. Sebuah kitab yang membeberkan masalah tauhid uluhiyah yang merupakan misi dakwah seluruh rasul yang diutus oleh Allah. Kitab ini telah dicetak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, yang menunjukkan besarnya kebutuhan umat terhadapnya.

Nah, apabila kita cermati munculnya terjemah dari kitab-kitab tersebut, akan kita dapati bahwa secara umum para penerjemah mencukupkan diri dengan penerjemahan yang tidak dilengkapi dengan keterangan penyempurna. Betapa banyak kita dapati ungkapan dan permasalahan yang diterjemahkan namun ternyata dari sekian banyak ungkapan dan permasalahan itu hanya sedikit yang benar-benar masuk ke alam pikiran pembaca dan mempengaruhi perilaku dan pemahamannya.

Oleh sebab itulah, perlu dibedakan antara penerjemahan komersial dengan penerjemahan dalam rangka dakwah dan tarbiyah. Untuk kepentingan komersial, mungkin seorang penerjemah bisa merasa cukup dengan menerjemahkan kata-kata yang ada selama bisa ‘dipahami’ tanpa menambahkan keterangan apa-apa.

Akan tetapi, jika kita sudah berbicara tentang apakah si pembaca bisa memetik faidah dan mendapatkan gambaran ilmu yang semestinya? Maka di situlah letak dan peran para da’i dan ustadz untuk menjelaskan dalam majelis-majelis mereka. Nah, upaya-upaya semacam ini sebenarnya tidak bisa berhenti pada penjelasan secara lisan. Bahkan, penjelasan dalam bentuk tulisan yang dicetak bersama kitab aslinya jauh lebih diperlukan!

Mengapa demikian? Sebab betapa banyak kita dapati kekeliruan penafsiran dan penyimpangan pemahaman gara-gara buku-buku terjemah yang tidak digarap dengan baik dan tidak dilengkapi dengan keterangan-keterangan tambahan. Sehingga akhirnya orang bisa berkesimpulan, bahwa menerjemah memang tidak sama dengan berdakwah. Apalagi sampai ke tingkat tarbiyah!

Dari keprihatinan inilah, kami terdorong untuk mengajak kepada segenap penerjemah agar lebih memperhatikan sisi pemahaman atas hasil terjemahan yang dikerjakan olehnya. Sehingga terjemah yang mereka lakukan tidak hanya berkutat masalah arti dan makna kata serta kalimat yang ada. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu bagaimana agar kata dan kalimat itu bisa diterapkan dan dipahami dengan mudah oleh pembaca dengan berbagai latar belakang pemikiran mereka.

Bukankah selama ini kitab-kitab tentang aqidah dan tauhid telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa kita? Namun di saat yang sama kita pun bisa bertanya; sudah sejauh mana peranan kitab-kitab terjemah ini bisa memperbaiki pemahaman aqidah dan tauhid yang ada di tengah masyarakat kita? Memang peran da’i dan ustadz lebih banyak berperan di sana.

Namun, alangkah ruginya umat Islam apabila segala bentuk keterangan ini susah mereka dapatkan gara-gara penerjemahan yang tidak memberikan sebuah solusi atas masalah yang sehari-hari mereka hadapi. Penerjemahan yang hanya memperhitungkan berapa lembar kitab yang sudah berhasil dialihbahasakan, sementara lalai dari esensi kitab dan dakwah itu sendiri…

Allahul musta’aan.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Menebarkan Dakwah Tauhid « DAKWAH TAUHID - December 21, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: