//
you're reading...
Kitab Ulama

Kedudukan Risalah al-Qawa’id al-Arba’

al-Qawa’id al-Arba’ berisi penjelasan masalah tauhid yang sangat mendasar. Risalah ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah. Di dalam kumpulan karya beliau yang berjudul Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, risalah ini berada di halaman 199 – 202 (4 halaman).

Sekilas Tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Nama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentu bukanlah nama yang asing di tengah umat Islam, terutama para ulama dan penimba ilmu agama. Beliau adalah salah seorang ulama besar dari timur tengah, tepatnya dari negara Saudi Arabia. Beliau lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H (1792 M). Kebesaran nama beliau telah dikenal oleh kawan maupun lawan, umat Islam maupun non Islam.

Hanya saja yang patut disayangkan, terjadi berbagai pemutarbalikan fakta dan kepalsuan yang disandarkan kepada beliau dan dakwahnya. Namun, memang seperti itulah sunnatullah yang dialami oleh para da’i yang mengajak manusia kepada agama Allah. Gangguan dan permusuhan. Tekanan dan hambatan. Cemoohan dan kedustaan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul pun kecuali mereka (kaumnya) mengatakan: Ini adalah penyihir dan orang gila. Apakah mereka saling berwasiat dengannya? Bahkan, mereka itu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Adz-Dzariyat: 52-53)

Selain buku ini, karya-karya beliau dalam bidang aqidah yang populer dikaji dan dibaca oleh para ulama dan penimba ilmu antara lain: Tsalatsatul Ushul (Tiga Landasan Utama), Kasyfu asy-Syubuhat (Menyingkap Kerancuan Pemahaman), al-Ushul as-Sittah (Enam Kaidah Pokok), Kitab at-Tauhid alladzi Huwa Haqqullahi ‘ala al-‘Abiid (Kitab Tauhid).

Bagi siapa saja yang merasa ragu terhadap dakwah yang beliau serukan silahkan membaca buku-buku tersebut dengan bantuan penjelasan para ulama yang terpercaya. Niscaya mereka akan mendapati bahwa aqidah yang beliau ajarkan adalah aqidah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajma’in. Bukan aqidah yang baru (baca: bid’ah)!

Perhatian Para Ulama Terhadap Risalah Ini

Salah satu bukti yang menunjukkan kemuliaan risalah ini adalah munculnya berbagai penjelasan para ulama terhadapnya. Diantara para ulama dan da’i yang kami ketahui telah membahas risalah ini adalah:

  • Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
  • Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alusy-Syaikh hafizhahullah
  • Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah
  • Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah al-Jabiri hafizhahullah
  • Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah
  • Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Rajihi hafizhahullah
  • Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih hafizhahullah
  • Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahumallah
  • Syaikh Abdurrahman al-‘Adani hafizhahullah
  • Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Rayyis hafizhahullah

Diantara penjelasan-penjelasan tersebut, yang sudah sampai kepada kami dalam bentuk tulisan adalah sebagai berikut:

  • Abraz al-Fawa’id  min Arba’ al-Qawa’id oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
  • Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alusy-Syaikh hafizhahullah
  • Syarh al-Qawa’id al-Arba’  oleh Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah
  • Ta’liq ‘ala Risalah al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah al-Jabiri hafizhahullah
  • Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah
  • Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih hafizhahullah

Adapun yang selain itu, ada pada kami dalam bentuk rekaman ceramah audio. Tentu saja apa yang kami sebutkan di sini hanya sebagian kecil penjelasan yang pernah diberikan oleh para ulama Islam di berbagai penjuru dunia terhadapnya.

Kandungan Risalah

Diantara pelajaran penting yang terkandung di dalam risalah ini adalah:

  1. Pelajaran bagi para da’i agar memadukan dalam dakwah mereka antara ta’lim/pengajaran ilmu dan mendoakan kebaikan bagi orang yang didakwahi
  2. Penjelasan tentang pentingnya syukur, sabar, dan istighfar demi terwujudnya kebahagiaan setiap hamba
  3. Penjelasan tentang hakikat millah/ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
  4. Penegasan tentang pentingnya tauhid sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah
  5. Penegasan tentang besarnya bahaya syirik bagi agama seorang hamba
  6. Hakikat kesyirikan yang terjadi pada orang-orang kafir Quraisy dahulu bukanlah dalam masalah tauhid rububiyah, akan tetapi dalam masalah tauhid uluhiyah
  7. Alasan orang kafir Quraisy dalam beribadah kepada selain Allah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperolah syafa’at di sisi-Nya
  8. Penjelasan bahwa sesembahan selain Allah adalah batil apa pun bentuknya, apakah ia berwujud malaikat, nabi, wali, matahari, bulan, apalagi batu dan pohon
  9. Penjelasan bahwa kesyirikan yang terjadi pada masa sekarang lebih buruk daripada bentuk kesyirikan yang terjadi di masa silam

Pentingnya Penerjemahan Dengan Tambahan Penjelasan

Pentingnya penerjemahan risalah ini dengan tambahan penjelas disebabkan banyak faktor, diantaranya adalah:

Pertama: Demi memberikan gambaran pemahaman yang lebih sempurna kepada masyarakat tentang kandungan pelajaran tauhid yang ada di dalamnya.

Karena alasan semacam inilah kita dapati para ulama sangat bersemangat untuk membahas risalah ini di dalam kajian-kajian mereka, sebagaimana sudah kami sebutkan di atas. Karena tanpa tambahan penjelasan, faidah yang dicapai tidak sebagus apabila diberikan tambahan penjelasan. Dan ini adalah perkara yang sudah teramat jelas. Padahal, tujuan utama penerjemahan risalah semacam ini adalah untuk memahamkan hakikat dakwah tauhid. Sehingga penerjemahan dengan tambahan keterangan adalah sangat-sangat dibutuhkan, apalagi di masa seperti sekarang ini tatkala kebodohan tentang agama telah merembet ke berbagai lapisan masyarakat.

Kedua: Munculnya berbagai gerakan Islam yang bersemangat menyerukan penegakan syari’ah dan pendirian khilafah namun sangat minim perhatiannya terhadap tauhid.

Hal ini juga menjadi salah satu sebab eksternal mengapa risalah ini perlu diterjemahkan dan diberikan tambahan keterangan atau komentar. Karena mayoritas gerakan tersebut -yang notabene aktivis Islam- telah mengalami kerancuan pemahaman, bahkan di dalam masalah agama yang paling mendasar, yaitu tauhid dan syirik.

Mengapa hal ini perlu dipertimbangkan? Sebab tidak mungkin kita bisa memahamkan umat terhadap tauhid tanpa kita singkirkan berbagai penyimpangan pemahaman yang melekat di dalam alam pikiran mereka. Diantara penyimpangan yang marak di masa kita ini adalah orang-orang yang menyerukan tegaknya syari’ah namun di saat yang sama mereka adalah orang yang sangat bodoh terhadap tauhid dan manhaj dakwah!!

Ketiga: Kesalahpahaman yang ada di tengah umat, bahwa menurut mereka dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah gerakan yang suka mengkafirkan sesama muslim dan gemar melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan dakwah.

Mengapa Tidak Menerjemahkan Kitab Syarah-nya Saja?

Mungkin ini adalah pertanyaan yang muncul berikutnya. Kalau memang penjelasan terhadap risalah ini penting, mengapa tidak langsung menerjemahkan syarahnya saja? Mengapa yang diterjemahkan matannya dan hanya diberikan catatan atau tambahan penjelasan. Tidakkah lebih bermanfaat jika yang diterjemahkan adalah kitab syarahnya dan kita biarkan umat membaca dan menyimak langsung penjelasan ulama?

Sebenarnya pertanyaan semacam ini mudah untuk kita jawab. Karena apa yang telah dilakukan oleh para ulama dan da’i dengan mengadakan berbagai kajian untuk membahas kitab ini yang berpegang kepada matannya dan bukan membahas kitab syarahnya adalah jawaban atasnya. Bukankah kita juga bisa melontarkan pertanyaan serupa? Mengapa kebanyakan para ulama membahas matannya dan tidak membahas buku syarahnya?

Sebab dengan fokus kepada matan akan membuat pendengar tidak bercabang-cabang pemikirannya. Adapun tambahan keterangan yang lain dari kitab-kitab syarah bisa disampaikan secara lisan dan dirangkum sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Inilah yang menunjukkan sikap hikmah para ulama dalam men-tarbiyah umat.

Maka, demikian pula halnya dalam hal penerjemahan. Apabila yang kita inginkan adalah umat memahami maksud utama buku (matan) sementara kita menyadari bahwa kondisi umat yang kita hadapi berbeda dalam banyak hal dengan kondisi penuntut ilmu yang dihadapi para ulama dalam majelis-majelis mereka; tentu saja sebuah langkah yang bijak jika kita pun berusaha untuk memberikan kemudahan kepada umat dalam memahami matannya tanpa harus terbingungkan oleh model pembahasan kitab-kitab syarah yang ada.

Sekali lagi perlu dicermati, bahwa buku yang kita terjemahkan adalah buku yang membawa misi dakwah tauhid. Buku yang berusaha memahamkan tentang tauhid dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat yang ada di hadapan kita. Sehingga seorang penerjemah buku dakwah tidak bisa mencukupkan diri dengan terjemahan apa adanya tanpa berusaha menggali berbagai keterangan ulama dan mengaplikasikannya dalam realita kehidupan yang ada di sekitar kita.

Bukankah kebanyakan umat Islam adalah orang-orang yang lebih suka membaca berita, menonton sandiwara, mendengar lagu-lagu dan melakukan beragam aktifitas sia-sia yang lainnya? Kemudian tiba-tiba kita datang dengan pembicaraan yang jarang menyinggung realita yang mereka saksikan sehari-hari. Aduhai, betapa beratnya bagi mereka untuk bisa memahami pelajaran yang disampaikan dengan metode semacam ini.

Oleh sebab itulah kitab-kitab para ulama ini membutuhkan jembatan yang bisa mengantarkannya kepada tujuan penulisannya, yaitu untuk mendakwahi dan menyadarkan umat manusia. Jembatan itu adalah pendekatan pemahaman, penjelasan segala sesuatu yang butuh dijelaskan terhadap apa yang mereka tuangkan, tanpa mengabaikan sisi realitas masyarakat dan latar belakang pemahaman mad’u yang menjadi sasaran.

Sebuah contoh saja. Jika kita berbicara syirik, tentu masyarakat akan lebih mudah memahami jika kita berikan contoh-contoh yang ada di zaman ini. Ambillah contoh seperti mitos Nyi Roro Kidul, ngalap berkah kotoran Kerbau Kyai Slamet, ramalan bintang di koran-koran atau majalah, dan lain sebagainya. Kenyataan-kenyataan yang memang disaksikan oleh mereka itu lebih bisa memahamkan daripada kita berbicara dengan contoh-contoh yang jauh dari pandangan mereka.

Sebagaimana halnya seorang ustadz atau da’i berusaha memahamkan mad’unya dengan memberikan contoh dan gambaran untuk memperjelas keterangan yang disampaikannya, maka demikian pula seharusnya seorang penerjemah buku dakwah para ulama.

Dia harus benar-benar memahami kandungan dakwah yang termuat di dalam buku yang diterjemahkannya. Sehingga dengan begitu dia akan bisa memberikan tambahan keterangan yang memudahkan pembaca untuk menangkap maksud para ulama. Dan lebih penting daripada itu, dia harus berpikir dan mencari cara supaya kandungan buku terjemah yang kelak sampai ke tangan umat ini bisa lebih mempengaruhi alam pikiran mereka untuk semakin mendekat kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebuah buku dakwah semestinya adalah sebuah buku yang bisa menginspirasi kepada kebaikan dan mendobrak kekeliruan pemahaman yang telah melekat dalam pikiran banyak orang. Sebuah buku yang mudah dicerna dan dinikmati oleh masyarakat, bukan karena sampulnya yang indah dan menawan, namun lebih karena kualitas isi serta bahasanya yang ringan/mudah dipahami dan lebih bisa diterapkan.

Wallahul muwaffiq.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Menebarkan Dakwah Tauhid « DAKWAH TAUHID - December 21, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: