//
you're reading...
Telaah

Catatan Seputar Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang memelihara seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat [1]

Definisi Yang Lebih Singkat

Tauhid rububiyah juga bisa didefinisikan dengan: mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. [2]

Dengan ungkapan yang lebih ringkas, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya [3]  

Tauhid Rububiyah Sudah Fitrah

Tauhid rububiyah adalah sesuatu yang telah menjadi fitrah manusia dan hakikat yang diterima oleh akal sehat mereka. Orang-orang kafir sekalipun sebenarnya mengimani hal ini di dalam hatinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, ‘Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.”(QS. az-Zukhruf: 9)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. az-Zukhruf: 87).

Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.” [4]

Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup

Iman terhadap rububiyah Allah belum cukup memasukkan seorang hamba ke dalam Islam.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).

Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” [5]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan, Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan…” [6]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya, dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat la ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, sehingga dia mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” [7]

Makna Istilah Rabb

Imam ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.” [8]

Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qor’awi berkata, “Secara bahasa Rabb bisa berarti sesembahan, tuan, pemilik/penguasa, sang pengurus segala urusan dan yang memperbaiki hal-hal yang rusak padanya. Kata ini bisa dipakai untuk makna-makna tersebut. Dan itu semua adalah benar jika disandarkan kepada Allah ta’ala.” [9]

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.” [10]

Konsekuensi Rububiyah Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya rububiyah memiliki konsekuensi pemberian perintah dan larangan kepada hamba serta pemberian balasan bagi perbuatan baik mereka dan penjatuhan hukuman bagi perbuatan buruk mereka.” [11]

Oleh sebab itu ahli kitab yang menaati pendeta dan rahib-rahib mereka dalam melanggar hukum-hukum Allah disebut dalam al-Qur’an dengan istilah ‘mengangkat rabb selain Allah’.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka telah menjadikan pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah, dan al-Masih putra Maryam pun mereka perlakukan demikian. Padahal, mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada sesembahan yang satu saja. Tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31)

Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu’anhu, dia berkata: Dahulu aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara di leherku masih terdapat salib dari emas. Maka beliau bersabda, “Wahai ‘Adi! Buanglah berhala ini.” Dan aku mendengar beliau membaca ayat dalam surat al-Bara’ah (yang artinya), “Mereka telah menjadikan pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah.” (QS. at-Taubah: 31). Beliau bersabda, “Mereka memang tidak beribadah kepada pendeta dan rahib-rahib itu. Akan tetapi apabila pendeta dan rahib menghalalkan sesuatu maka mereka pun menghalalkannya. Demikian juga apabila mereka mengharamkan sesuatu maka mereka pun ikut mengharamkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3095 dihasankan oleh Syaikh al-Albani) [12]

Ahli kitab disebut ‘menjadikan pendeta dan rahib sebagai rabb’ karena mereka mengangkat pendeta dan rahib sebagai pembuat syari’at untuk mereka yang menetapkan halal dan haram, sehingga pengikutnya pun menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Oleh sebab itu ahli kitab dinilai menjadikan pendeta dan rahib seolah-olah sebagai Rabb/Sang Maha Pengatur. Padahal, penetapan syari’at merupakan bagian rububiyah yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala [13]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Maksud dari ‘menjadikan rabb selain Allah’ adalah menjadikan mereka sebagai sekutu bagi Allah ‘azza wa jalla dalam hal pembuatan syari’at; sebab mereka berani menghalalkan apa yang diharamkan Allah sehingga para pengikut itu pun menghalalkannya. Mereka pun berani mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, sehingga membuat para pengikutnya juga ikut mengharamkannya.” [14]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Tauhid dengan judul “Barangsiapa yang menaati ulama dan umara’ dalam mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan-Nya maka pada hakikatnya dia telah mengangkat mereka pada kedudukan rabb.” [15]

Konsekuensi Lainnya

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah menjelaskan, “Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya’: 92). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.” [16]

Ridha Dengan Takdir-Nya

Termasuk konsekuensi iman terhadap rububiyah Allah adalah ridha dengan takdir-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.” (QS. at-Taghabun: 11).

‘Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, “Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.” [17]

Ridha Dengan Jatah Rizkinya

Termasuk konsekuensi beriman kepada rububiyah Allah adalah ridha atas rizki yang Allah berikan kepada kita. Karena harta, pangkat, dan jabatan bukanlah merupakan sebab kemuliaan seorang hamba. Kekayaan juga bukan bukti kecintaan Allah kepada manusia.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakannya dan memberikan nikmat kepadanya maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.” Akan tetapi apabila dia diberi ujian dengan dibatasi rizkinya maka dia berkata, “Rabbku telah menghinakanku.” Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Husnuzhan Kepada Allah

Ibnul Qayyim berkata, “Yang menjadi inti perkara dan rahasianya adalah: dia tidak menilai Rabbnya melainkan Dzat yang senantiasa melakukan kebaikan, dan dia tidak menilai dirinya melainkan orang yang sering berbuat kekeliruan, berlebihan atau barangkali terlalu menyepelekan. Dengan sebab itulah maka dia akan bisa memandang bahwa segala sesuatu yang menyenangkan dirinya muncul dari keutamaan dan kemurahan Rabbnya kepadanya, dan merupakan kebaikan yang dicurahkan Allah kepada dirinya. Adapun perkara-perkara yang menyedihkan dirinya muncul sebagai akibat dosa yang dilakukannya dan bentuk keadilan dari Allah kepada dirinya…” [18]

Wallahu a’lam bish shawaab.

Catatan Akhir:

[1] Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 13

[2] Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/5-6] cet. Maktabah al-‘Ilmu

[3] Lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17 dll

[4] Lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 81

[5] Lihat Fath al-Bari [13/556]

[6] Lihat Syarh Kasyf asy-Syubuhat, hal. 24-25

[7] Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16

[8] Lihat al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/245]

[9] Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 11

[10] Lihat transkrip ceramah Syarh Tsalatsat al-Ushul milik beliau

[11] Lihat Kitab at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-‘Aali, hal. 26

[12] Lihat juga Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/93]

[13] Lihat catatan kaki Fath al-Majid, hal. 96

[14] Lihat al-Qaul al-Mufid [2/66]

[15] Lihat al-Qaul al-Mufid [2/63]

[16] Lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 97

[17] Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 345-346

[18] Lihat al-Fawa’id, cet. Dar al-‘Aqidah, hal. 36

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: