//
you're reading...
Kisah Salaf

Kakek Tidak Perlu Khawatir

travel-picture-Africa-Morocco-Sahara-Dunes-Alexbip

Nama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu sangat akrab di telinga kita. Seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama. Lelaki pertama yang masuk Islam diantara para sahabat. Beliau membela dakwah ini dengan segala yang beliau punya. Hal itu menunjukkan betapa besarnya kecintaan beliau kepada Islam.

Diantara kisah menakjubkan tentang beliau yang dituturkan para ulama kita, adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh putrinya sendiri, yaitu Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anha berikut. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.

Asma’ berkata:

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berhijrah dan Abu Bakar menemani beliau. Ketika itu Abu Bakar membawa semua hartanya, sejumlah lima ribu atau enam ribu dirham. Dia pergi membawa harta itu semua bersamanya.

Asma’ melanjutkan:

Suatu saat, kakek kami yaitu Abu Quhafah masuk ke rumah kami sementara penglihatan beliau telah hilang (buta). Dia berkata, “Demi Allah, aku sungguh mengira bahwa dia telah menyusahkan kalian dengan kepergian dirinya bersama dengan seluruh hartanya.”

Asma’ berkata, “Sama sekali tidak, wahai Kakek. Sesungguhnya dia telah meninggalkan kebaikan (harta) yang banyak untuk kami.”

Asma’ berkata:

Maka aku pun mengambil batu-batu dan meletakkannya di celah dinding rumah tempat dimana ayah biasa menyimpan hartanya. Kemudian aku tutupi batu-batu itu dengan kain. Lalu aku pun meraih tangan beliau (Abu Quhafah). Aku katakan kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di atas tumpukan harta ini, wahai Kakek.”

Asma’ berkata:

Maka beliau pun meletakkan tangannya di atas kain itu. Lalu berkata, “Oo, tidak mengapa kalau begitu. Jika dia masih meninggalkan harta ini untuk kalian, sungguh dia telah berbuat baik. Ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian.”

Asma’ menuturkan kepada kita, “Demi Allah, beliau (Abu Bakar) tidaklah meninggalkan harta sedikit pun untuk kami. Namun, aku hanya ingin menenangkan hati orang tua itu (kakek) dengan perbuatanku itu.”

Demikianlah, sebuah kisah menyentuh hati yang menunjukkan betapa tingginya kecintaan para Sahabat kepada Islam di atas kecintaan mereka kepada segala sesuatu.

Sumber: Nubdzatun Min Sirati Abi Bakr radhiyallahu’anhu oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani hafizhahullah, hal. 4 dengan sedikit penyesuaian.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: