//
you're reading...
Nasehat

Obrolan Ringan Seputar Dakwah

Peta Khilafah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Beberapa waktu lalu, seorang teman mempertemukan penulis dengan seorang aktifis Hizbut Tahrir (HT). Sebagaimana kita kenal, gerakan dakwah yang satu ini sangat getol menyerukan penegakan khilafah. Kemudian, aktifis itu juga ‘menghadiahkan’ kepada kami majalah dan tabloid mereka.

Singkat cerita, terjadilah diskusi diantara kami bertiga seputar masalah dakwah. Setelah pertemuan itu, rupanya Allah mentakdirkan kami untuk bertemu kembali hingga terjadilah majelis diskusi antara saya dan teman saya -sebagai moderator- dengan beberapa aktifis Hizbut Tahrir di sebuah masjid.

Setelah saya ingat-ingat, ada kurang lebih 3 pertemuan yang kami lakukan sesudah itu. Pertemuan pertama, dihadiri oleh sekitar 5 orang dari mereka. Pertemuan kedua, dihadiri oleh 3 atau 4 orang dari mereka. Pertemuan ketiga -mungkin ini yang terakhir- dihadiri oleh 2 orang dari mereka. Sejak awal hingga pertemuan terakhir sebenarnya hanya ada satu topik yang ingin kami bicarakan, yaitu seputar makna laa ilaha illallah.

Yang ingin saya angkat di sini sebenarnya adalah semangat mereka untuk mendakwahi saya dan teman saya, untuk mengikuti pola pikir dan gerakan mereka. Yaitu untuk mengusung dakwah kepada khilafah. Demi ‘melanjutkan kembali kehidupan Islam’, sebagaimana semboyan mereka yang bisa kita baca terpampang di halaman muka buletin mereka.

Dalam salah satu diskusi, ada sebuah pertanyaan menggelitik yang disampaikan seorang peserta kepada mereka, “Sekarang ini ada tidak kehidupan Islam itu?” Ya, anda bisa menduga jawaban mereka, “Ya ada, tetapi tidak kaffah.” Sebuah jawaban yang ternyata masih menyimpan pertanyaan -dan bagi mereka hal itu adalah celah untuk mengobarkan semangat untuk menegakkan khilafah- yaitu: “Lantas, apa yang harus kita lakukan?”

Sebelum itu, dalam diskusi terdahulu sempat disampaikan oleh kami sebuah hadits yang terkenal, yaitu hadits pengutusan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke Yaman. Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu.

Dari hadits yang agung ini, sebenarnya jelas sekali bahwa pertama-tama yang didakwahkan dan harus lebih diutamakan dalam dakwah adalah masalah aqidah. Sebab, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” Sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari, di Kitab at-Tauhid.

Di dalam hadits itu pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan dakwah kepada syahadat sebelum dakwah kepada sholat dan zakat. Sebab sholat dan zakat tidak akan diterima jika dilakukan oleh orang musyrik atau kafir. Ini pun sebenarnya sangat jelas dan gamblang. Lebih terang daripada matahari di siang bolong.

Dengan kata lain, bisa kita katakan bahwa dakwah kepada sholat dan zakat itu tidak lebih penting daripada dakwah kepada tauhid. Meskipun kita semua sepakat sholat dan zakat adalah amalan yang sangat-sangat utama, karena ia adalah termasuk rukun Islam. Nah, dari situ sebenarnya kita bisa menarik sebuah pelajaran penting -yang sangat berharga dan sayangnya dilalaikan oleh kebanyakan gerakan dakwah dan jama’ah-jama’ah yang ada di medan dakwah- yaitu urgensi penanaman tauhid ke dalam hati masyarakat, sebelum ‘membebani’ mereka dengan segala bentuk ajaran syari’at. Apalagi yang bersifat kolektif dan membutuhkan banyak sekali perangkat dan syarat.

Dalam hadits yang sahih pula -sayangnya hadits ini belum tersampaikan dalam diskusi tersebut-, dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia sehat, sehatlah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit, maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita tentang pentingnya hati bagi amalan, sebagaimana pentingnya jantung bagi badan. Aqidah adalah amalan hati, sedangkan sholat, zakat -bahkan jihad- adalah amal anggota badan. Memperbaiki masalah hati lebih diprioritaskan daripada memperbaiki masalah lahiriyah. Karena, kebaikan hati itulah yang akan menentukan kebaikan lahiriyah seseorang.

Di dalam ayat-Nya Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari [kiamat] itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89). Seorang ulama salaf Abu ‘Utsman an-Naisaburi rahimahullah menafsirkan bahwa hati yang selamat adalah hati yang bersih dari bid’ah dan tentram di atas Sunnah [ajaran Nabi]. Bisa dibaca di Tafsir Ibnu Katsir.

Di dalam diskusi itu pun telah disampaikan firman Allah (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dan para ulama salaf lain menafsirkan maknanya adalah, “Supaya mereka mentauhidkan-Ku.” Hal ini pun sangat jelas menunjukkan bahwa ibadah -yaitu tauhid- adalah tujuan penciptaan jin dan manusia.

Sehingga, tidaklah aneh jika seluruh para rasul mengajak kepada umatnya (yang artinya), “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Malik rahimahullah, bahwa thaghut adalah segala yang disembah selain Allah. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu menafsirkan thaghut adalah setan. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu menafsirkan thaghut sebagai dukun-dukun. Ibnul Qayyim rahimahullah menafsirkan thaghut sebagai segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, baik dengan disembah, diikuti, atau ditaati. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa pentingnya perbaikan aqidah dan memprioritaskan dakwah tauhid sebelum yang lainnya.

Belum lagi, jika kita mau mencermati realitas yang ada di tengah umat, masih banyak diantara kaum muslimin yang terjerumus dalam berbagai praktek dan keyakinan syirik tanpa mereka sadari. Mereka berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, beristighotsah kepada selain Allah. Hal ini semakin menyadarkan kita tentang betapa besar kebutuhan umat ini kepada dakwah tauhid.

Dari sini pun, kita bisa memetik pelajaran bahwa yang menjadi tujuan utama dakwah adalah tegaknya tauhid. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa cabang keimanan yang tertinggi adalah kalimat laa ilaha illallah. Di dalam kalimat inilah seorang muslim mengikrarkan bahwa Allah satu-satunya sesembahan yang benar dan wajibnya mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Di dalam syahadat ini pula seorang muslim meyakini bahwa segala bentuk ibadah adalah hak Allah semata. Sedangkan menujukan ibadah kepada selain-Nya adalah syirik. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Bahkan, karena syirik itulah seorang harus merasakan hukuman kekal di dalam neraka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Dalil-dalil di atas sangat jelas menunjukkan kepada kita tentang pentingnya masalah tauhid dan aqidah, ban betapa besar bahaya syirik dan kekafiran. Bukan berarti kemudian, kita meremehkan masalah sholat dan zakat, atau syari’at Islam yang lain. Namun, dari sini kita harus bisa menempatkan sesuatu pada kedudukannya yang semestinya.

Apalagi seorang -atau sekelompok orang- yang berusaha untuk mendakwahkan Islam kepada publik. Tentu saja, dibutuhkan prioritas dalam berdakwah. Kita semua tahu bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, tidak ada yang mengingkari hal itu. Hanya saja, apakah segala macam syari’at dan aturan itu bisa secara sekaligus diterapkan begitu saja?! Kemudian dengan alasan itu kita merubah asas dakwah tauhid ini kepada masalah-masalah lainnya?

Sebuah contoh sederhana. Ibadah haji. Bukankah ibadah haji adalah rukun Islam? Bahkan hukumnya fardhu ‘ain bagi yang mampu dan belum berhaji. Namun, apakah dengan alasan itu kemudian prioritas dakwah Islam kita arahkan agar manusia menunaikan ibadah haji? Walaupun mereka tidak paham aqidah dan berkubang dengan kemusyrikan?

Tidakkah kita mendengar atau menyaksikan sebagian jama’ah haji yang justru berdoa kepada selain Allah di sela-sela ibadah haji mereka? Padahal, doa adalah ibadah dan tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada selain Allah siapapun juga.” (QS. Al-Jin: 19)

Tidakkah kita melihat tatkala bencana Tsunami dan letusan gunung berapi yang melanda sebagian negeri ini? Kemudian sebagian orang mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah dengan tujuan menolak bala dan melindungi diri? Apakah itu semua terjadi karena umat Islam di negeri ini banyak yang belum bertitel haji? Itukah sebab yang membuat mereka ‘memeluk’ keyakinan semacam itu? Apakah mereka berada di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya menyembah dewa-dewa dan beragama selain Islam; sehingga sedemikian mudah mereka terseret dalam kemusyrikan semacam itu?

Tidakkah mereka ingat kisah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bersama tiga khalifah yang ditunggangi ahli bid’ah untuk menyebarkan aqidah kekafiran kepada rakyatnya; yaitu keyakinan al-Qur’an makhluk? Apakah yang menjadi sumber fitnah yang sedemikian besar itu? Apakah karena ketiadaan khilafah dan daulah Islam?! Jawablah, wahai kaum…!

Tidaklah jawaban dari pertanyaan itu kecuali karena kebodohan umat dalam masalah tauhid dan aqidah! Sehingga kotoran kerbau pun dipuja, keris dan pusaka dikeramatkan, perdukunan pun laris diiklankan. Nas’alullahat taufiq was salamah.

Discussion

One thought on “Obrolan Ringan Seputar Dakwah

  1. Reblogged this on rosidasafitri.

    Posted by rosidasafitri | March 3, 2013, 11:26 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: