//
you're reading...
Telaah

Demonstrasi – Revolusi – Pertumpahan Darah

pisau_darah

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du.

Para penguasa negeri muslim adalah manusia. Sebagaimana rakyat juga manusia. Memiliki kesalahan adalah tabiat manusia. Dan tentu saja yang terbaik diantara mereka adalah yang senantiasa bertaubat kepada Rabbnya.

Diantara perkara yang sering dilupakan oleh para pejuang keadilan dan kesejahteraan serta kaum pembela hak-hak rakyat adalah bahwa menunaikan nasihat kepada penguasa adalah ibadah yang agung dan musti dilakukan dengan cara-cara yang bijaksana.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sudah seharusnya cara anda beramar ma’ruf adalah dengan cara yang ma’ruf, demikian pula cara anda dalam melarang kemungkaran adalah bukan berupa kemungkaran.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Orang-orang pun bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Untuk -mentauhidkan- Allah, beriman kepada kitab-Nya, taat kepada Rasul-Nya, dan nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya.” (HR. Muslim dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu)

Diantara bentuk nasihat dan menghendaki kebaikan penguasa -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah– adalah dengan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka di tengah rakyat sebab dengan begitu akan tumbuhlah kecintaan rakyat kepada mereka. Apabila rakyat telah mencintai pemimpinnya tentu mudah bagi mereka untuk patuh kepada perintah dan aturannya. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan apa yang sering dilakukan oleh sebagian orang yang menyebarkan aib-aib penguasa dan menyembunyikan kebaikan-kebaikan mereka; sesungguhnya tindakan semacam ini adalah termasuk perbuatan aniaya dan kezaliman! (lihat Syarh al-Arba’in, hal. 120) 

Imam Ibnu ash-Sholah rahimahullah berkata, “Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, mengingatkan mereka terhadap kebenaran, memberikan peringatan kepada mereka dengan lembut, menjauhi pemberontakan kepada mereka, mendoakan taufik bagi mereka, dan mendorong orang lain (masyarakat) untuk juga bersikap demikian.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 103)

Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, memerintahkan mereka untuk menjalankan kebenaran, memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka dengan lemah lembut dan halus, memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka lalaikan, menyampaikan kepada mereka hak-hak kaum muslimin yang belum tersampaikan kepada mereka, tidak memberontak kepada mereka, dan menyatukan hati umat manusia (rakyat) supaya tetap mematuhi mereka.” (lihat Syarh Muslim lil Imam an-Nawawi [2/117], lihat juga penjelasan serupa oleh Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah dalam Syarh al-Arba’in, hal. 33-34)  

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat seseorang yang mendoakan keburukan bagi penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pengekor hawa nafsu. Dan apabila kamu mendengar seseorang yang mendoakan kebaikan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pembela Sunnah, insya Allah.” (lihat Qa’idah Mukhtasharah, hal. 13)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma pernah ditanya tentang cara beramar ma’ruf dan nahi mungkar kepada penguasa, beliau menjawab, “Apabila kamu memang mampu melakukannya,  cukup antara kamu dan dia saja.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 105)

Dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, dia berkata: Ada orang yang bertanya kepada Usamah radhiyallahu’anhu, “Mengapa kamu tidak bertemu dengan ‘Utsman untuk berbicara (memberikan nasehat) kepadanya?”. Beliau menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak berbicara kepadanya kecuali harus aku perdengarkan kepada kalian? Demi Allah! Sungguh aku telah berbicara empat mata antara aku dan dia saja. Karena aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu fitnah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Bukanlah termasuk manhaj salaf membeberkan aib-aib pemerintah dan menyebut-nyebut hal itu di atas mimbar. Karena hal itu akan mengantarkan kepada kekacauan [di tengah masyarakat] sehingga tidak ada lagi sikap mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf, dan menjerumuskan kepada pembicaraan yang membahayakan serta tidak bermanfaat. Akan tetapi cara yang harus diikuti menurut salaf adalah dengan menasehatinya secara langsung antara dirinya dengan penguasa tersebut. Atau mengirim surat kepadanya. Atau berhubungan dengannya melalui para ulama yang memiliki hubungan dengannya, sehingga dia bisa diarahkan menuju kebaikan.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 271)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat atau dalam keadaan tidak menyenangkan, bahkan ketika mereka [pemimpin] lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka dia harus berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa yang mengingkarinya -dengan hatinya, pent- maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.” Mereka [para sahabat] bertanya, “Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (lihat Syarh Muslim [6/485])

Di masa seorang pemimpin yang kejam dan bengis al-Hajjaj berkuasa, Hasan al-Bashri memberikan nasehat kepada kaum muslimin, “Wahai umat manusia! Demi Allah, tidaklah al-Hajjaj dijadikan Allah berkuasa atas kalian kecuali sebagai bentuk hukuman [atas dosa-dosa kita]. Maka janganlah kalian menghadapi [ketetapan] Allah ini dengan pedang (memberontak). Akan tetapi wajib atas kalian untuk menghadapinya dengan sikap tenang dan penuh ketundukan.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 275)     

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan perhatikanlah hikmah yang Allah ta’ala simpan di balik mengapa Allah menjadikan para raja, pemimpin, dan penguasa bagi manusia orang-orang yang serupa [buruknya] dengan perbuatan mereka (rakyat). Bahkan, seolah-olah amal perbuatan mereka itu terekspresikan di dalam sosok para penguasa dan raja-raja mereka. Apabila rakyat itu baik niscaya baik pula raja-raja mereka. Apabila mereka (rakyat) menegakkan keadilan niscaya para penguasa itu menerapkan keadilan atas mereka. Dan apabila mereka berbuat aniaya (tidak adil) maka raja dan penguasa mereka pun akan bertindak aniaya kepada mereka. Apabila di tengah-tengah mereka merebak makar (kecurangan) dan tipu daya, maka demikian pula pemimpin mereka. Apabila mereka tidak menunaikan hak-hak Allah dan pelit dengannya, demikian pula para penguasa mereka akan menghalangi hak-hak rakyat yang semestinya ditunaikan kepada mereka…” (dinukil dari Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 258 oleh Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan)  

Hasan al-Bashri mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah tegak urusan agama ini kecuali dengan adanya pemerintah, walaupun mereka berbuat aniaya dan bertindak zalim. Demi Allah! Apa-apa yang Allah perbaiki dengan sebab keberadaan mereka itu jauh lebih banyak daripada apa-apa yang mereka rusak.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 279)

Oleh sebab itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Bersabar dalam menghadapi ketidakadilan penguasa adalah salah satu prinsip pokok yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 280)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Memberontak kepada para pemimpin terjadi dalam bentuk mengangkat senjata, dan ini adalah bentuk pemberontakan yang paling parah. Selain itu, pemberontakan juga terjadi dengan ucapan; yaitu dengan mencaci dan mencemooh mereka, mendiskreditkan mereka dalam berbagai pertemuan, dan mengkritik mereka melalui mimbar-mimbar. Hal ini akan menyulut keresahan masyarakat dan menggiring mereka menuju pemberontakan terhadap penguasa. Hal itu jelas merendahkan kedudukan pemerintah di mata rakyat. Ini artinya, pemberontakan juga bisa terjadi dalam bentuk ucapan/provokasi.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 272)

Tumbal ‘Gerakan Massa’

Gerakan massa -dari fase demonstrasi hingga revolusi- adalah gerbang pertumpahan darah ribuan jiwa. Sebagaimana dituturkan oleh sebagian pemikir mereka, “Pikiran bahwa gerakan massa tidak dapat dihentikan dengan kekerasan adalah tidak benar. Kekerasan dapat menghentikan dan melumatkan gerakan massa sekuat apa pun. Tetapi untuk ini, kekerasan itu harus dijalankan tanpa ampun dan tanpa henti.” (lihat Gerakan Massa, hal. 109).

Kekacauan dan pertumpahan darah adalah sesuatu yang dianggap wajar dalam sebuah gerakan massa. Hoffer mengatakan, “Keadaan kacau balau, pertumpahan darah, dan kehancuran yang berserakan di jalan-jalan yang dilalui gerakan massa yang sedang menanjak, menimbulkan kesan pada kita bahwa para pengkut gerakan massa tersebut memang kasar dan tidak mengenal tata tertib hukum.” (lihat Gerakan Massa, hal. 116)

Tindakan-tindakan anarkhis dan melayangnya nyawa tidak lagi dipermasalahkan oleh para pemberontak kepada penguasa. Hoffer mengatakan, “Barangkali lebih baik bagi suatu negara, bila pemerintahannya mulai menunjukkan tanda-tanda tidak mampu lagi menjalankan tugasnya, agar ditumbangkan saja oleh gerakan rakyat raksasa -meski upaya menumbangkan ini meminta korban jiwa dan harta yang besar sekalipun- daripada dibiarkan jatuh dan roboh dengan sendirinya.” (lihat Gerakan Massa, hal. 164).

Perhatikanlah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- pemberontakan bersenjata adalah buah dari maraknya demonstrasi tanpa henti yang pada akhirnya menuntut ‘korban jiwa dan harta’ yang tak pernah kita duga sebelumnya. Puluhan ribu jiwa melayang akibat teriakan pencaci penguasa dan aksi demo dimana-mana yang menghujat penguasa.

Hendaklah kita mengambil ibrah/pelajaran dari kejadian yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan jelas dan tegas mengeluarkan pernyataan/fatwa tentang kafirnya orang yang berkeyakinan al-Qur’an adalah makhluk (keyakinan Jahmiyah) [bahkan ini merupakan kesepakatan ulama Sunnah]. Meskipun demikian, kita dapati beliau dan para ulama yang lain tidak serta merta mengkafirkan pemerintah yang menyerukan kekafiran itu. Mereka tidak memberontak kepada penguasa dan tidak pula memprovokasi rakyat untuk memberontak kepada penguasa yang memaksa umat -bahkan sampai menyiksa, memenjara, dan membunuh sebagian ulama- agar mau meyakini al-Qur’an adalah makhluk!! (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 263)

Ketika mendengar ada sebagian orang yang hendak melakukan pemberontakan kepada penguasa pada waktu itu, Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Subhanallah! Subhanallah! Pertumpahan darah! Pertumpahan darah! Aku tidak sepakat dengannya dan aku tidak memerintahkan hal itu. Bersabar di atas keadaan kita sekarang ini lebih baik daripada terjerumus ke dalam fitnah. Karena terjadinya fitnah [pemberontakan] akan membuat darah tertumpah di mana-mana, harta-harta dirampas, dan kehormatan tercabik-cabik…” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 264)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (lihat ta’liq Syaikh Ruslan dalam al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25)

Demikianlah secuplik nasihat dan masukan bagi segenap umat Islam yang merindukan kedamaian dan tegaknya keadilan. Wallahul musta’aan.

Discussion

One thought on “Demonstrasi – Revolusi – Pertumpahan Darah

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | July 10, 2013, 3:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: