//
you're reading...
Telaah

Memakmurkan Masjid Dengan Sholat Berjama’ah

23033

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, di bulan Ramadhan kita melihat begitu semangatnya kaum muslimin untuk meramaikan masjid. Sebuah fenomena yang senantiasa kita jumpai dan tentu saja membuat hati kita gembira. Namun, sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri pula, bahwa kebiasaan memakmurkan masjid dengan sholat jama’ah ini tiba-tiba sirna dengan perginya bulan Ramadhan. Masjid menjadi sepi dan shaf-shaf tak sepadat dulu lagi. Seolah-olah Idul Fitri menjadi pertanda, bahwa masjid harus ‘merasa puas’ dengan jama’ah yang bisa dihitung dengan jari.

Padahal, kita sering mendengar, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sholat jama’ah lebih utama daripada sholat sendiri dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terlebih lagi sholat subuh dan ‘isyak berjama’ah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Barangsiapa yang sholat ‘isyak secara berjama’ah, maka seolah-olah dia telah mendirikan sholat separuh malam. Lalu barangsiapa yang melakukan sholat subuh berjama’ah -setelah itu- maka dia seolah-olah telah mendirikan sholat semalam penuh.” (HR. Muslim)

Bahkan, digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain, “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang terdapat pada sholat ‘isyak dan subuh [di masjid] niscaya mereka akan rela mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan amalan ini sampai-sampai beliau bersabda, “Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik kecuali sholat subuh dan sholat ‘isyak [di masjid]. Seandainya mereka menyadari keutamaan yang terdapat pada keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup, tidaklah dikenal meninggalkan kebiasaan sholat berjama’ah ini kecuali orang-orang munafik tulen. Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “Sesungguhnya sholat jama’ah itu termasuk jalan-jalan petunjuk [Nabi]. Kalau kalian justru sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang suka meninggalkan jama’ah itu maka itu artinya kalian telah berani meninggalkan tuntunan Nabi kalian. Dan seandainya kalian telah berani meninggalkan tuntunan Nabi kalian, pastilah kalian tersesat. Aku masih ingat, bahwa dahulu tidak ada diantara kami yang biasa meninggalkannya kecuali orang yang tampak jelas kemunafikannya…” (HR. Muslim)

Sayangnya, apabila kita melihat kondisi yang ada di tengah-tengah kaum muslimin dewasa ini, kesedihan dan keprihatinan itulah yang akan menyelimuti pikiran dan hati nurani kita. Sholat berjama’ah di masjid seolah menjadi barang langka yang hanya bisa ditemukan di tempat-tempat tertentu dan sangat kecil jumlahnya. Banyak masjid yang besar dan megah, tetapi kosong dari jama’ah. Masjid hanya ramai setiap jum’at dan bulan puasa. Seolah-olah di hari dan bulan lainnya mereka terlempar ke luar angkasa; terbuai oleh angan-angan semu dan lalai dari mengingat Rabbnya.

Padahal, kalau seorang hamba telah lalai dan berpaling dari mengingat-Nya, kerugian dan kebinasaan yang akan diderita olehnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku maka baginya penghidupan yang sempit, dan kelak Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: Rabbku, mengapa engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sebelumnya aku bisa melihat. Allah menjawab: Demikianlah yang pantas kamu dapatkan; sebab telah datang kepadamu ayat-ayat Kami tetapi kamu justru melupakannya. Maka pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)

Atho’ menafsirkan bahwa maksudnya adalah orang itu berpaling dari nasehat-Ku (lihat Zaad al-Masir, hal. 921 oleh Imam Ibnul Jauzi). Ya, kita semua merasakan, bahwa tatkala berpaling dari ajaran dan bimbingan Allah maka kesulitan dan kesusahan lah yang justru kita temui. Orang-orang yang tenggelam dalam kesenangan dunia sehingga melalaikan mereka dari menunaikan kewajiban mereka kepada Allah, apakah mereka telah lupa akan firman-Nya (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)?

Tidakkah Kita Merasa Terpanggil?

Adzan berkumandang, sedangkan hati kita terlalu disibukkan dengan selain-Nya. Seolah-olah seruan adzan hanya menjadi angin lalu dan janji pahala berlipat ganda tak ubahnya iklan yang sama sekali tidak menarik simpati pemirsa. Mereka tidak tuli. Mereka tidak buta. Mereka juga tidak sedang bepergian. Mereka sehat dan tidak sedang berbaring di bangsal rumah sakit. Masjid pun tidak terlalu jauh, bisa dicapai cukup dengan berjalan kaki. Akan tetapi seolah ada sesuatu yang menghalangi gerak langkah kaki mereka. Mengunci pintu rumah dan kantor mereka. Menutup pagar mereka dari ayunan langkah tulus menuju rumah-Nya yang mulia demi mengharap ampunan dan rahmat-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian dia berangkat menuju salah satu rumah Allah dalam rangka menunaikan salah satu kewajiban yang Allah tetapkan atasnya (sholat) maka langkah-langkahnya itu; langkah yang satu akan menghapus dosa sementara langkah yang lainnya akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat seorang lelaki yang senantiasa melazimi masjid [dengan sholat berjama’ah] maka persaksikanlah keimanan pada dirinya. Karena Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR. Tirmidzi dan beliau menyatakan hadits ini hasan namun dinilai dha’if/lemah oleh Syaikh ‘Ali al-Halabi)

Suatu ketika ada seorang lelaki yang buta meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak menghadiri sholat jama’ah di masjid. Setelah mendengar alasan lelaki itu beliau pun memberikan keringanan untuknya. Namun, tatkala orang itu beranjak pergi Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar panggilan [adzan] untuk sholat?” Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan, “Barangsiapa yang mendengar panggilan [adzan] lalu tidak mendatanginya maka tidak ada sholat baginya kecuali apabila dia memang berhalangan.” (HR. Abu Dawud dll, disahihkan al-Hakim serta disepakati adz-Dzahabi). Yang dimaksud halangan di sini adalah hujan deras, sakit parah atau cekaman rasa takut dan semacamnya.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, banyak dalil yang menunjukkan betapa mulia amalan yang satu ini. Semuanya menunjukkan bahwa melalaikan amalan yang agung ini akan membuat kita kehilangan keutamaan dan pahala yang teramat besar. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa amalan yang wajib lebih dicintai Allah daripada amalan yang sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah berfirman, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sholat jama’ah termasuk perkara yang sangat ditekankan di dalam agama dengan kesepakatan umat Islam. Dan ia merupakan fardhu ‘ain -bagi lelaki, pent- dalam pandangan mayoritas ulama salaf serta para imam ahli hadits seperti Ahmad -bin Hanbal-, Ishaq -bin Rahawaih-, dan selain mereka berdua. Itu pula yang dipegang oleh sekelompok ulama pengikut asy-Syafi’i dan selain mereka…” (lihat Sholat al-Jama’ah wa al-Qira’ah Khalfa al-Imam, hal. 34 tahqiq Abu Maryam Majdi Fathi Sayyid)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menegaskan, “Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sholat di rumahnya itu lebih utama daripada sholat di masjid-masjid kaum muslimin maka dia adalah orang sesat dan tukang bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Karena [hukum] sholat jama’ah itu adalah berkisar antara fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Sementara dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah menunjukkan bahwasanya hal itu adalah wajib ‘ain…” (lihat Sholat al-Jama’ah, hal. 35)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para suami dari melarang istri mereka berangkat ke masjid, padahal sholat perempuan di rumah itulah yang lebih utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melarang istri-istri kalian berangkat ke masjid. Meskipun demikian, rumah-rumah mereka itu lebih baik untuk mereka.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan al-Hakim)

Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Shahihnya dengan judul bab: Wajibnya sholat jama’ah. Beliau membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertekad membakar rumah orang-orang yang tidak hadir sholat jama’ah. Sebelumnya, Imam Bukhari juga membawakan perkataan Hasan al-Bashri rahimahullah mengenai seorang anak yang dilarang ibunya datang sholat ‘isyak berjama’ah karena sang ibu kasihan kepadanya, maka Hasan menegaskan bahwa anak itu tidak boleh menaati ibunya dalam hal itu (lihat Fath al-Bari [2/148] tahqiq Syaibatul Hamdi)

Betapa indahnya, jika seorang ayah, seorang pemimpin, seorang guru, seorang dosen, seorang tentara, seorang dokter, dan seorang pemuda bersama-sama tersungkur sujud di dalam kesejukan dzikir kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Semoga nasehat yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.

Discussion

One thought on “Memakmurkan Masjid Dengan Sholat Berjama’ah

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | July 10, 2013, 3:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: