//
you're reading...
Nasehat

Mengasah Keikhlasan

Sumber air minum

Oleh: Pak Haryo hafizhahullah

InsyaaAllah tidak mengapa menampakkan amal shalih agar dicontoh orang lain. Akan tetapi, salah satu ciri ikhlas adalah gemar menyembunyikan amal kebaikan, sebagaimana dilakukan para sahabat Nabi dan ulama salaf (generasi awal).

 Dan ini juga dilakukan sebagian ulama kita di abad ini…

Ust. Firanda Andirja, MA (mahasiswa doktoral Univ Islam Madinah, pengasuh kajian ilmu di Masjid Nabawi) bercerita tentang Syaikh Prof DR Abdurrazzaaq al-Abbad (professor Aqidah Univ Islam Madinah, pengasuh kajian ilmu di Masjid Nabawi).

Ustadz mengatakan bahwa beliau dan syaikh Abdurrazzaaq bersahabat sudah lama, mulai beliau S-1 di Madinah, hingga sebentar lagi lulus S-3. Mereka berdua juga rutin mengisi kajian Live dari Madinah di Radio Rodja setiap pekan, dalam bahasa arab (syaikh) dan terjemah Indonesia (ustadz).

Bersahabat sudah lama… Akan tetapi (seingat ustadz), tidak satu kali pun Syaikh bercerita ttg amal shalih yg pernah dilakukannya.

Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun… kuatkah kita utk tidak menceritakan amal shalih kita pada sahabat dekat?

Ustadz juga bercerita, bahwa syaikh Abdurazzaaq pernah berjihad di Afghanistan… beliau juga mengelola bantuan dari rakyat Saudi utk mujahidin dan rakyat Afghan… akan tetapi ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah… syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita…

Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun… kuatkah kita utk tidak berkata “saya pernah berjihad di sini-situ” pada sahabat dekat?

Ustadz juga mengatakan syaikh jg pernah berdakwah ke pedalaman Afrika, jauh dari nyamannya suasana tanah suci… akan tetapi, sekali lagi, ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah… syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita…

Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun… kuatkah kita utk tidak berkata “saya pernah berdakwah ke sini dan situ” pada sahabat dekat?

Diri kita.. mungkin baru mengisi kajian sekali, di RT sebelah, kita sudah merasa paling berjasa di muka bumi…

Syaikh Abdurrazzaaq pernah 2x datang ke Indonesia, mengisi kajian di Istiqlal, dan setiap kali datang masjid full seat, masjid Istiqlal penuh sampai lantai tertinggi (lt. 5 kalau gak salah), dgn peserta 100.000+ orang, dan divideokan (banyak di Youtube)…

Dan saat ustadz bercerita ttg hal tersebut di Madinah, syaikh lain di Madinah terkaget-kaget mendengar banyaknya jumlah hadirin di masjid terbesar Asia Tenggara tersebut… kenapa? Karena syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah cerita juga kepada syaikh-syaikh lain di Madinah… yg mereka tahu hanyalah, Syaikh Abdurrazzaaq pergi ke Indonesia dan mungkin diselingi dakwah, titik.

Kita ceramah sekali saja, (dipaksa) kultum tarawih, sudah merasa hebat, cerita sana cerita sini… kuatkah kita untuk tidak bercerita bahwa kita pernah ceramah 2x di hadapan 100.000+ pendengar?

Ustadz juga bercerita, suatu ketika ada orang buta menemui syaikh di Madinah. Syaikh terlihat sangat menghormati orang buta tersebut, dikecupnya kening sang buta, lalu mereka mengobrol bersama…

Setelah selesai, ustadz bertanya “tadi ada apa?”. Lalu syaikh Abdurrazzaaq menjawab “tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya”. Dan selesailah perbincangan.

Usut punya usut, ternyata orang buta tersebut adalah Syaikh Shalih as-Suhaimi, salah seorang syaikh senior di Masjid Nabawi yang memang Allah takdirkan buta… beliau adalah guru syaikh Abdurrazzaaq, dan beliau meminta izin utk mencetak buku syaikh Abdurrazzaaq utk diajarkan di masjid Nabawi…

Dan apa penjelasan syaikh Abdurrazzaaq? “Tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya”…

SubhaanAllah… lihatlah betapa rendah hatinya jawaban ini… sama sekali tidak ada nada meninggikan diri… tidak berbangga bahwa guru kita yang seorang syaikh sepuh di Madinah sekarang “berguru” pada kita… tidak berbangga bahwa buku kita dipakai mengajar di Masjid Nabawi…

Jika kita jadi beliau, akankah kita menjawab “tadi ada orang buta meminta izin untuk mencetak buku saya”…??

Ataukah kita akan menjawab, “tadi guru saya, seorang syaikh senior di Madinah, datang minta izin ingin mencetak buku saya untuk diajarkan di Masjid Nabawi”…??

Adapun kita, mgkn artikel (bukan buku) tulisan kita dipajang di dinding masjid rumah saja sudah bangga setengah mati, lalu cerita sana-sini…

Sudahkah niat kita ikhlas?
Sudahkah Allah menjadi tujuan kita?
Silakan direnungkan kembali.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian “Mengasah Keikhlasan” oleh Ust. Firanda Andirja, Masjid Raya Cipaganti, Bandung, 14 Juli 2013.

Sumber: https://www.facebook.com/mrharyo/posts/10151807241740929

Discussion

3 thoughts on “Mengasah Keikhlasan

  1. Izin Share

    Posted by Kautsar Amru | July 28, 2013, 9:47 am
  2. Nangis gue, bener-bener nangis. Ya Allah perbanyaklah yang seperti itu. Keren banget.

    Posted by Aliya Imadudeen | July 28, 2013, 10:42 pm
  3. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:11 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: