//
you're reading...
Telaah

Majelis Nabi: Siapa Yang Fi Sabilillah?

bndera

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan:

Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyaar menuturkan kepada kami [lafalnya milik Ibnul Mutsanna]. Mereka berdua berkata: Muhammad bin Ja’far menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dari ‘Amr bin Murrah. Dia berkata: Aku mendengar Abu Wa’il berkata: Abu Musa al-Asy’ari menuturkan kepada kami:

Ada seorang arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Wahai Rasulullah. Seorang yang berperang untuk mencari harta rampasan perang. Seorang yang berperang agar disebut-sebut [tenar]. Orang yang lain lagi berperang demi menampakkan kedudukannya. Siapakah -diantara mereka- yang berada di atas jalan Allah?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi memuliakan kalimat Allah maka dia lah yang berada di atas jalan Allah.”

[lihat Sahih Muslim bersama Syarah an-Nawawi Jilid 6 hal. 530 cet. Dar Ibn al-Haitsam]

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan kandungan hadits di atas:

Di dalamnya terkandung pelajaran bahwasanya amal-amal itu dihitung/dinilai apabila dibarengi dengan niat-niat yang baik/benar, dan bahwasanya keutamaan yang disebutkan mengenai para mujahid di jalan Allah ini khusus berlaku bagi orang yang berperang dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah.

[lihat Syarh Muslim Jilid 6 hal. 530]

Imam Bukhari rahimahullah juga mencantumkan hadits ini, beliau berkata:

‘Utsman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Jarir mengabarkan kepada kami dari Manshur dari Abu Wa’il dari Abu Musa –radhiyallahu’anhu– dia berkata:

Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan perang di jalan Allah? Sebab ada diantara kami ini yang berperang karena kemarahan dan berperang demi kebanggaan.”

-maka beliau/nabi pun mengangkat kepalanya kepada orang itu-

Periwayat berkata: Tidaklah beliau/nabi mengangkat kepalanya kepada orang itu kecuali karena si penanya dalam posisi berdiri -sedangkan nabi duduk, pent- lalu beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah paling mulia maka dialah yang berada di jalan Allah ‘azza wa jalla.”

[lihat Shahih Bukhari bersama Fath al-Bari Jilid 1 hal. 269 cet. Dar al-Hadits]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari kandungan hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat syahid/dalil pendukung bagi hadits al-a’maalu bin niyaat; amal itu dinilai berdasarkan niatnya…” [lihat Fath al-Bari Jilid 1 hal. 270]

Imam al-‘Aini rahimahullah menjelaskan, “Di dalamnya terkandung pelajaran bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya ibadah.” [lihat ‘Umdat al-Qari, Jilid 2 hal. 297]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengutip riwayat senada, beliau berkata:

an-Nasa’i mengeluarkan hadits dari Abu Umamah –radhiyallahu’anhu– dia berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, “Bagaimana pendapat anda tentang seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala sekaligus mencari sebutan/popularitas, apa yang akan dia dapatkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia tidak mendapatkan pahala apa-apa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima -amalan- kecuali yang ikhlas dan untuk mencari wajah-Nya.”

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 21 cet. Dar al-Hadits]

Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata:

Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala senantiasa menjadi syari’at/ajaran semenjak masa-masa umat sebelum kita dan kemudian dilanjutkan di masa kita yang datang sesudah mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan untuk kalian agama sebagaimana apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh.” (QS. Asy-Syura: 13). Abul ‘Aliyah menafsirkan, “Allah mewasiatkan kepada mereka untuk ikhlas kepada Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya”…

[lihat al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Jilid 1 hal. 164]

Demikianlah yang bisa kami susun dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 8 Syawwal 1434 H

Ari Wahyudi –ghafarallahu lahu wa li waalidaihi wa lil muslimin

Discussion

One thought on “Majelis Nabi: Siapa Yang Fi Sabilillah?

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: