//
you're reading...
Telaah

Majelis Nabi: Amal Apa Yang Paling Utama?

(Guns - Weapons) - Wallpapers4Desktop.com 18

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan di dalam Sahihnya:

Ahmad bin Yunus menuturkan kepada kami, demikian pula Musa bin Isma’il. Mereka berdua berkata: Menuturkan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad. Dia berkata: Menuturkan kepada kami Ibnu Syihab, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-.

Beliau menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Lantas apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Lantas apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fat al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Jilid 1 hal. 97]

Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan hadits ini dalam Sahihnya:

Manshur bin Abi Muhazim menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ibrahim bin Sa’ad menuturkan kepada kami. [ha’] * [huruf ha’ ini adalah tanda peralihan sanad]

Muhammad bin Ja’far bin Ziyad menuturkan kepadaku. Dia berkata: Ibrahim [yaitu bin Sa’ad] mengabarkan kepada kami.

Dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah.” Kemudian orang itu bertanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Lalu dia berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” Dalam sebuah riwayat dari Muhammad bin Ja’far disebutkan, bahwa beliau bersabda, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya” [sebagai amal yang paling utama, pent]

[lihat Shahih Muslim bersama Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 146-147 cet. Dar Ibn Haitsam]

Keterangan: Imam Muslim meriwayatkan hadits di atas dari dua jalur. Jalur pertama dari Manshur bin Abi Muhazim, jalur kedua dari Muhammad bin Ja’far bin Ziyad. Mereka berdua -Manshur dan Muhammad bin Ja’far- mengambil dari sumber yang sama yaitu Ibrahim bin Sa’ad. Kemudian sesudah menyebutkan hadits di atas, Imam Muslim rahimahullah membawakan jalur ketiga dan kempat, yaitu dari Muhammad bin Rafi’ dan dari Abdu bin Humaid. Mereka berdua mengambil dari sumber yang sama yaitu Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari az-Zuhri -Ibnu Syihab- [lihat Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 147]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, bahwa orang yang bertanya -di dalam hadits di atas- adalah Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu’anhu [lihat Fath al-Bari Jilid 1 hal. 99]

an-Nawawi rahimahullah memberikan judul bab untuk hadits di atas dengan pernyataan: Keterangan bahwa iman kepada Allah ta’ala merupakan amal yang paling utama [lihat Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 146 cet Ibn Haitsam]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits lain:

Ibnu Numair menuturkan kepadaku. Dia berkata: Ayahku menuturkan kepadaku. Dia berkata: Hanzhalah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Aku mendengar ‘Ikrimah bin Khalid menyampaikan hadits kepada Thawus, bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu’anhuma-, “Mengapa kamu tidak berperang?”

Beliau -Ibnu ‘Umar- menjawab: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu dibangun di atas lima hal; syahadat laa ilaha illallah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan Haji ke Baitullah.”

[lihat Shahih Muslim bersama Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 33 cet. Ibn Haitsam]

an-Nawawi rahimahullah menerangkan: Adapun jawaban Ibnu ‘Umar kepada orang itu dengan hadits ‘Islam dibangun di atas lima hal’ maka yang tampak adalah beliau bermaksud menjelaskan bahwa perang bukan termasuk sesuatu yang wajib atas setiap individu, karena sesungguhnya Islam itu dibangun di atas lima perkara sedangkan perang tidaklah termasuk di dalamnya, wallahu a’lam [lihat Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 33]

Imam Muslim rahimahullah membawakan riwayat:

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: ‘Ali bin Mus-hir menuturkan kepada kami dari asy-Syaibani, dari al-Walid bin al-‘Aizar dari Sa’id bin Iyas Abu ‘Amr asy-Syaibani, dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu’anhu– dia berkata:

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: Aku berkata, “Lalu amal apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kata Ibnu Mas’ud: Aku berkata, “Lantas apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”

[Ibnu Mas’ud berkata]: “Tidaklah aku meninggalkan pertanyaan tambahan kepada beliau kecuali karena aku kasihan kepada beliau.”

[lihat Shahih Muslim bersama Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 150]

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan hadits di atas:

Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-Walid bin al-‘Aizar mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr asy-Syaibani. Dia berkata: Si pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah -bin Mas’ud- – menuturkan kepada kami.

Dia -Ibnu Mas’ud- berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya.” Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”

Dia [Ibnu Mas’ud] berkata, “Beliau menuturkan hal itu semuanya kepadaku, seandainya aku menambah pertanyaan niscaya beliau pun akan menjawabnya.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari Jilid 2 hal. 12 tahqiq Syaibatul Hamd]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan -sembari menukil pendapat ulama yang lain- bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam hadits ini adalah jihad yang bukan fardhu ‘ain, sebab jihad yang semacam itu dipersyaratkan adanya izin dari kedua orang tua; sehingga berbakti kepada keduanya harus lebih dikedepankan di atasnya; yaitu jihad yang fardhu kifayah, pent [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 13 tahqiq Syaibatul Hamd]

Ibnu Bazizah rahimahullah berkata, “Berdasarkan pengkajian lebih dalam kiranya bisa disimpulkan bahwa sebenarnya jihad lebih didahulukan -keutamaannya- daripada seluruh amal badan. Karena di dalam jihad seorang rela mengorbankan nyawanya. Meskipun demikian, sesungguhnya bersabar dalam menunaikan sholat tepat pada waktunya secara kontinyu dan menjaga kesetiaan dalam berbakti kepada kedua orang tua merupakan suatu perkara yang wajib dan sifatnya terus-menerus [tidak temporer, pent]. Tidak ada yang bisa bersabar menghadapi pengawasan perintah Allah dalam hal itu kecuali orang-orang yang shiddiq, wallahu a’lam.” [lihat Fath al-Bari Jilid 2 hal. 1 tahqiq Syaibatul Hamd]

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah menambahkan keterangan dari kesimpulan beliau terhadap kajian Imam Ibnu Rajab rahimahullah seputar amal yang paling utama. Beliau berkata, “Sesungguhnya amal yang paling utama adalah apa-apa yang diwajibkan Allah kepada segenap hamba-Nya, sementara iman kepada Allah dan rasul-Nya merupakan amal yang paling utama secara mutlak.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Kemudian beliau mengatakan, “Adapun jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa amalan yang paling utama adalah sholat tepat pada waktunya; hal itu disebabkan sholat adalah amal anggota badan yang paling utama. Sementara dalam kesempatan lainnya terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut iman kepada Allah dan rasul-Nya sebagai amal yang paling utama; hal itu disebabkan ia merupakan amal hati yang paling utama…” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 20]

Kemudian, Syaikh Ibrahim pun menukil kesimpulan yang diambil oleh Imam Ibnu Rajab. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dengan penetapan hasil pengkajian ini teranglah bahwasanya hadits-hadits itu menunjukkan bahwa amal yang paling utama ialah; dua kalimat syahadat bersama dengan konsekuensi-konsekuensinya yaitu rukun-rukun Islam setelahnya, atau sholat bersama dengan ikutan-ikutannya/penyempurna atasnya -juga- yang merupakan perkara yang sifatnya fardhu ‘ain dan termasuk penunaian atas hak-hak Allah ‘azza wa jalla. Kemudian yang paling utama setelah itu adalah perkara yang sifatnya wajib ‘ain dari hak-hak sesama hamba semisal berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian setelah itu adalah amal-amal sunnah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan yang paling utama diantara itu [amal-amal sunnah] adalah jihad.” [lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 21]

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah juga menambahkan kesimpulan bahwa amal-amal yang paling utama setelah amal-amal wajib ada tiga, yaitu; menuntut ilmu -yang sifatnya sunnah-, jihad, dan dzikir. Secara berurutan -berdasarkan penilitian para ulama – disimpulkan bahwa amal sunnah yang paling utama adalah; ilmu, setelah itu jihad, kemudian dzikir [silahkan baca lebih lengkap dalam Tajrid al-Ittiba’, hal. 25-31]

Demikianlah apa yang bisa kami susun dengan taufik dari Allah, semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walillahil hamdu wal minnah.

Discussion

One thought on “Majelis Nabi: Amal Apa Yang Paling Utama?

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: