//
you're reading...
Telaah

Majelis al-Qur’an: Hanya Kepada-Mu Kami Beribadah

ibadah-ateisme

Allah ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata:

‘Kami beribadah’ artinya kami mentauhidkan Engkau dan patuh kepada-Mu dengan penuh ketundukan. Ibadah itu adalah ketaatan yang disertai perendahan diri dan ketundukan. Seorang hamba disebut dengan abdi/hamba karena penghinaan diri dan kepatuhan dirinya…

[lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 10]

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan:

Mengenai maksud dari kata ‘ibadah’ di sini ada tiga pendapat; pertama, menafsirkan bahwa maknanya adalah tauhid. Hal ini diriwayatkan dari ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas dalam pendapat mereka yang lain. Kedua, menafsirkan bahwa maknanya adalah ketaatan. Seperti kata ‘ibadah’ yang ada dalam firman-Nya (yang artinya), “Janganlah kalian beribadah [baca; taat] kepada setan.” (QS. Yasin: 60). Pendapat ketiga, menafsirkan bahwa makna ‘ibadah’ di sini adalah doa. Hal itu seperti firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah [baca; berdoa] kepada-Ku…” (QS. Ghafir: 60)

[lihat Zaadul Masir fi ‘Ilmi at-Tafsir, hal. 34]

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan:

Kalimat ini -Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, pent- dikomentari sebagai suatu kalimat yang menghimpun rahasia seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.

Karena sesungguhnya makhluk diciptakan hanyalah untuk diperintahkan beribadah. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Demikian pula sesungguhnya para rasul diutus dan diturunkan kitab-kitab hanyalah untuk membawa misi tersebut.

Ibadah merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya. Dan tidaklah ada kemampuan bagi hamba untuk melaksanakannya kecuali dengan pertolongan/bantuan Allah kepada mereka. Oleh sebab itulah dikatakan bahwa kalimat ini terbagi dua; sebagain hak Allah dan sebagian lagi tentang kebutuhan hamba-Nya. Karena ibadah adalah hak Allah atas hamba-Nya, sementara bantuan dari Allah adalah karunia dari Allah kepada hamba-Nya.

[lihat Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali, Jilid 1 hal. 69]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

Di dalam ayat ini objeknya dikedepankan yaitu kata Iyyaka -kepada-Mu- dan diulang penyebutannya [dua kali, pent] dalam rangka memberikan perhatian lebih dan untuk membatasi. Sehingga ayat itu menjadi bermakna; ‘Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu’. Inilah ketaatan yang sepenuhnya/sempurna. Ajaran agama ini semuanya merujuk kepada dua makna ini…

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Jilid 1 hal. 134]

Para ulama juga menerangkan, bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa ibadah itu harus ikhlas. Tidaklah diterima ibadah tanpa keikhlasan. Allahul musta’an.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

Ibadah itu mencakup sikap melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah dan juga meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Karena orang yang tidak memiliki ketundukan semacam itu maka dia bukanlah seorang abdi/hamba…

Abdi/hamba adalah orang yang senantiasa menyesuaikan diri dengan keinginan Dzat yang disembahnya dalam hal irodah syar’iyah-Nya; yaitu apa-apa yang Allah kehendaki di dalam syari’at, pent. Dengan demikian, ibadah menuntut seorang insan untuk menunaikan segala yang diperintahkan kepadanya serta meninggalkan apa pun yang dilarang untuknya.

[lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma, hal. 15]

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

Manusia sangat membutuhkan Allah ‘azza wa jalla; dalam hal ibadah dan isti’anah/memohon pertolongan. Adapun kebutuhan dirinya kepada Allah dalam bentuk ibadah, maka hal itu dikarenakan ibadah merupakan materi/sumber datangnya kebahagiaan bagi dirinya. Adapun perihal isti’anah/permohonan bantuan; maka sesungguhnya apabila Allah tidak memberikan bantuan/pertolongan kepada dirinya itu artinya Allah menyandarkan dia kepada dirinya sendiri. Dan itu sama artinya dia disandarkan kepada kelemahan, ketidakmampuan, dan cela. Sehingga seorang insan tidak akan bisa tegak tanpa pertolongan Allah ‘azza wa jalla.

[lihat Ahkam Min al-Qur’an al-Karim, hal. 22-23]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Ibadah merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, doa, dzikir, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya adalah ibadah.

Demikian juga kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisalnya adalah ibadah kepada Allah.

[lihat al-‘Ubudiyah, hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh]

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan:

Dengan ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa ibadah adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup di dalamnya menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang diharamkan. Melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan; yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun lahir. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir.

[lihat Syarh al-‘Ubudiyah, hal. 5]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.

[lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:

Ibadah yang diperintahkan itu mengandung perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini ditopang oleh tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga pilar ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satunya maka dia belum beribadah kepada Allah dengan benar. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, adalah jalannya kaum Khawarij.

[lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35 cet. Dar Ibnu Khuzaimah]

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata:

Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia pasti condong beribadah kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia sedang menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkannya dari beribadah kepada Allah.

[lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147]

Discussion

One thought on “Majelis al-Qur’an: Hanya Kepada-Mu Kami Beribadah

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: