//
you're reading...
Telaah

Majelis al-Qur’an: Hidayah Jalan Lurus

images (2)

Allah ta’ala berfirman,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menuturkan:

‘Ashim al-Ahwal mengatakan; dari Abul ‘Aliyah, bahwa yang dimaksud ‘jalan yang lurus’ adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya setelah beliau -yaitu; Abu Bakar dan ‘Umar, pent-.

‘Ashim berkata, “Aku pun berkata kepada al-Hasan; sesungguhnya Abul ‘Aliyah menafsirkan bahwa ‘jalan yang lurus’ itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya.” al-Hasan mengatakan, “Dia berkata benar dan telah memberikan nasihat.”

[lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an Juz 1 hal. 227]

Imam al-Baghawi rahimahullah menuturkan:

Sa’id bin Jubair mengatakan -bahwa jalan yang lurus, pent- adalah jalan menuju surga. Sahl bin ‘Abdullah menafsirkan bahwa maksudnya adalah jalan as-Sunnah dan al-Jama’ah -ahlus sunnah wal jama’ah, pent-. Bakr bin Abdullah al-Muzani mengatakan, bahwa maksudnya adalah jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

[lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 10]  

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan:

Sebab-sebab yang menjadikan keluar/menyimpang dari jalan yang lurus bisa jadi karena jahl/kebodohan atau mungkin karena pembangkangan. Orang-orang yang menyimpang dari jalan lurus karena pembangkangan, maka itulah kelompok orang-orang yang dimurkai. Dan yang terdepan diantara mereka adalah Yahudi.

Adapun tipe yang lain adalah orang-orang yang menyimpang dari jalan lurus karena disebabkan kebodohan; yaitu setiap orang yang tidak mengetahui kebenaran, dan yang terdepan diantara mereka adalah Nasrani. Namun, hal itu -status sesat yang melekat pada mereka- berlaku tatkala sebelum diutusnya nabi, -maksud saya, kaum Nasrani-.

Adapun setelah pengutusan beliau sesungguhnya mereka telah mengetahui kebenaran dan mereka justru menyelisihi beliau. Oleh sebab itu mereka -Nasrani- dan Yahudi pada dasarnya adalah sama statusnya, yaitu termasuk golongan orang yang dimurkai.

[lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma hal. 20]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

‘Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus’ artinya berikanlah petunjuk, bimbingan, dan taufik agar kami bisa meniti jalan yang lurus, yaitu jalan yang gamblang dan mengantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan beramal dengannya.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan:

Seorang yang berilmu/mengetahui kebenaran dan mengamalkannya itulah kelompok orang yang diberikan nikmat -berada di atas jalan lurus, pent-. Dia lah orang yang menyucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Dan dia lah orang yang beruntung/al-muflih. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (TQS. Asy-Syams: 9).

Adapun seorang yang berilmu namun lebih memperturutkan hawa nafsunya, maka dia adalah termasuk kelompok orang yang dimurkai -al-maghdhubi ‘alaihim-. Sedangkan orang yang jahil/tidak mengetahui kebenaran, maka itulah orang yang sesat.

[lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir Jilid 1 hal. 41]

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah membeberkan:

Sebagian ulama mengatakan, “Tidaklah hamba memuliakan dirinya dengan sesuatu yang lebih indah daripada ketaatan kepada Allah. Dan tidaklah mereka menghinakan diri mereka dengan sesuatu yang lebih buruk daripada kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Itu artinya, barangsiapa yang menjerumuskan diri dalam hal-hal yang diharamkan, pada hakikatnya dia telah menghinakan dirinya sendiri.

Di dalam sebuah perumpamaan/anekdot dikisahkan bahwa suatu ketika seekor anjing berkata kepada singa, “Wahai pemimpin para binatang buas, hendaklah anda mengganti namaku, karena nama ini -anjing- adalah nama yang buruk.”

Kata singa, “Kalau begitu kamu saya kasih nama Khaa’in/sang pengkhianat. Kamu tidak cocok dengan nama lain selain nama ini.” Kata si anjing, “Kalau begitu mari buktikan hal itu pada diriku.” Maka singa pun memberikan kepadanya secuil potongan daging.

Kata singa, “Tolong jaga daging ini untukku sampai besok, setelah itu baru aku akan mengganti namamu.” Maka si anjing pun merasa kelaparan, dia pun memandangi potongan daging itu dan masih bisa bersabar. Namun, ketika hawa nafsunya telah menguasai pikirannya, “Buat apa saya harus repot-repot mengganti nama, tidaklah ‘anjing’ kecuali sebuah nama yang indah.” Akhirnya, dia pun memakan potongan daging itu.

Untuk makna semacam inilah, Allah menyerupakan seorang yang alim/berilmu tapi jahat, yaitu yang tidak memetiak faidah/amalan dari ilmunya seperti halnya seekor anjing. Allah ta’ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada isi ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat/menyimpang. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS. Al-A’raaf: 175-177)

Maksud dari perumpamaan ini adalah; bahwa barangsiapa yang ilmunya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan buruk/maksiat, maka niscaya perbuatan buruk itu akan berubah menjadi kebiasaan baginya. Sehingga ilmunya tidak akan membekas pada dirinya sama sekali. Oleh sebab itu keadaan dirinya serupa dengan keadaan seekor anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya. Anjing itu, kalau diusir dia akan menjulurkan lidahnya, kalau dibiarkan begitu saja -tidak diusir- dia pun tetap menjulurkan lidahnya. Maka kedua keadaan itu bagi dirinya adalah sebenarnya sama…

[lihat Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali Jilid 1 hal. 87-88]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan:

adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud -jalan yang lurus, jalan orang yang diberikan nikmat, pent- adalah jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka dengan ketaatan kepada-Mu dan ibadah kepada-Mu, dari kalangan malaikat dan nabi-nabi-Mu, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang salih.

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Jilid 1 hal. 140] 

Wallahu a’lam bish shawaab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Discussion

One thought on “Majelis al-Qur’an: Hidayah Jalan Lurus

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: