//
you're reading...
Telaah

Majelis al-Qur’an: Kaitan Ibadah Dengan Tauhid

hijau

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menuturkan:

Ali radhiyallahu’anhu berkata, “Artinya, tidaklah Aku [Allah] menciptkan jin dan manusia kecuali untuk Aku perintahkan mereka beribadah.” az-Zajaj pun berpegang dengan pendapat/tafsiran ini. Penafsiran ini didukung oleh firman Allah ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا

“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada ilah/sesembahan yang satu saja.” (QS. At-Taubah: 31)

[lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an Juz 19 hal. 507]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah pun memilih tafsiran ini, beliau menjelaskan:

Artinya, sesungguhnya Aku [Allah] menciptakan mereka hanya untuk memerintahkan mereka agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka.

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Jilid 7 hal. 425]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamulah yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah dengan memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu sendiri.

Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akherat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah jalla wa ‘ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.”

[lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 15-16]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah memaparkan:

Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan makhluk adalah hanya dalam rangka mereka beribadah kepada-Nya; yang ibadah itu tersusun dari rasa takut, harap, dan cinta kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dan sesungguhnya ibadah kepada-Nya itu hanya akan bisa terwujud setelah dilandasi dengan ilmu dan ma’rifat/pengenalan kepada-Nya. Dengan tujuan itulah Allah ciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di dalamnya. Yaitu guna dimanfaatkan sebagai petunjuk dan arahan menuju tauhid kepada-Nya dan menegaskan tentang keagungan-Nya.

Sebagaimana firman Allah ta’ala,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah yang menciptakan tujuh lapis langit dan dari bumi yang seperti itu pula, turun perintah-Nya diantara itu semua, supaya kalian mengetahui bahwa Allah atas segala sesuatu Maha mampu dan bahwasanya Allah ilmunya meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

[lihat Tafsir Ibnu Rajab Jilid 2 hal. 319]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu supaya beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak dinamakan sholat tanpa thaharah/bersuci. Apabila syirik mencampuri ibadah niscaya ibadah itu akan rusak (tidak sah) sebagaimana halnya apabila hadats masuk kepada thaharah.

[lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 199]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan:

Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku- adalah agar mereka mengesakan Aku (Allah, pent) dalam beribadah. Atau dengan ungkapan lain ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ maksudnya adalah agar mereka mentauhidkan Aku; karena tauhid dan ibadah itu adalah sama (tidak bisa dipisahkan, pent).

[lihat I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/33]]

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas hamba adalah mereka harus menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba yang pasti diberikan Allah ‘azza wa jalla adalah Dia tidak akan menyiksa [kekal di neraka, pent] orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Discussion

One thought on “Majelis al-Qur’an: Kaitan Ibadah Dengan Tauhid

  1. Reblogged this on zyrechsmart.

    Posted by sandazyrechsmarts | August 26, 2013, 4:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: