//
you're reading...
Telaah

Majelis al-Qur’an: Mulia Dengan Takwa

640134IMG_8526

Allah ta’ala berfirman,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari [hati] kalian.” (QS. al-Hajj: 37).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Ketakwaan hakiki adalah ketakwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketakwaan dengan anggota badan.

[lihat al-Fawa’id, hal. 136].

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata:

Hati ibarat seorang raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila sang raja baik niscaya akan baik pasukannya. Akan tetapi jika sang raja busuk maka busuk pula pasukannya.

[lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14]

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan.

Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.

[lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15]

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menegaskan:

Amalan-amalan hati itulah yang paling pokok, sedangkan amalan anggota badan adalah konsekuensi dan penyempurna atasnya. Sebagaimana niat itu menduduki peranan seperti halnya ruh, sedangkan amalan itu laksana tubuh.

Itu artinya, jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu akan mati. Oleh sebab itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik hati itu lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik anggota badan.

[lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 15]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam.

Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu.

Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85).

Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.

[lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30]

Hakikat Takwa

Thalq bin Habib rahimahullah mengatakan:

Takwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah seraya merasa takut terhadap siksaan dari Allah.

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/222], Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211]

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata:

Bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah orang yang cinta dengan popularitas.

[lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, hal. 22]

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ditanya tentang hakikat orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab:

Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211]

al-Hasan rahimahullah mengatakan:

Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruniai amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211] 

Demikian sekelumit faidah yang bisa kami sarikan dalam kesempatan ini. Semoga bisa memberikan pencerahan dan memupuk ketaatan kita kepada Allah. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.  

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: