//
you're reading...
Nasehat

Majelis Manhaj: Nasihat Bagi Para Da’i

Sahabat dan Tabi’in Berargumentasi Dengan Manhaj Salaf

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

… Tidaklah diragukan bahwasanya keikhlasan seorang da’i memiliki pengaruh yang kuat terhadap mad’u/objek dakwah. Apabila seorang da’i itu adalah orang yang ikhlas dalam niatnya. Dia juga menyeru kepada manhaj yang benar. Dia membangun dakwahnya di atas bashirah/hujjah dan ilmu mengenai apa yang dia serukan itu. Maka dakwah semacam inilah yang akan memberikan pengaruh/bekas kepada para mad’u.

Adapun apabila dia tidak ikhlas dalam dakwahnya, yaitu sebenarya dia hanya mengajak kepada dirinya sendiri, atau mengajak kepada hizbiyyah/fanatisme kelompok, atau menyeru kepada jama’ah yang menyimpang, atau ajakan kepada ‘ashobiyah/fanatisme suku atau bangsa tertentu -bahkan meskipun diberi nama dengan label-label Islam- maka yang semacam ini tidaklah memberi manfaat sama sekali. Bahkan hal itu bukan termasuk dakwah kepada Islam sedikit pun.

Demikian pula, apabila dia termasuk orang yang mengajak manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi dia sendiri tidak mengamalkan apa-apa yang dia dakwahkan. Maka hal ini juga termasuk faktor yang menyebabkan orang-orang lari meninggalkan dirinya. Allah ta’ala maha mengetahui apa yang ada di dalam hati. Allah juga mengetahui apa pun yang dilakukan seorang insan di tempat mana pun ia berada.

Apabila dia menjadi orang yang berterus-terang menyelisihi dan menentang Allah di saat sedang berada dalam kondisi sendirian/tidak bersama orang lain, lalu apabila dia berhadapan dengan manusia dia mengajak orang kepada kebaikan sementara dia justru bertolak-belakang dengan apa yang dia serukan, maka da’i semacam itu tidak akan memberikan bekas pengaruh apa-apa. Dakwahnya pun tidak akan diterima.

Hal itu karena Allah tidak menjadikan keberkahan di dalam dakwahnya. Cobalah perhatikan para da’i yang ikhlas, buah kebaikan apa saja yang muncul dari dakwah mereka, padahal mereka sendirian sementara mereka memiliki banyak lawan/musuh? Seperti halnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya. Demikian pula semisal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama yang lainnya.

Kemudian, lihatlah begitu banyaknya da’i pada hari ini [jaman sekarang] dan begitu banyaknya jama’ah dakwah namun betapa sedikit pengaruh/bekas yang mereka tinggalkan dan betapa sedikit manfaat yang mereka berikan. Supaya anda sadar bahwa sesungguhnya yang menjadi ibroh/patokan dan penilaian adalah kualitas, bukan sekedar kuantitas. 

[lihat al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 42-43]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: