//
you're reading...
Telaah

Bahaya Ajaran Syi’ah

bahaya-syiah-2

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah… Keimanan kita kepada agama Islam tidak mungkin  dipisahkan dengan penghormatan kepada orang-orang yang sangat besar jasanya kepada kita.

Mereka adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang telah menginfakkan umurnya untuk membela dakwah dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya.

Setiap mukmin tentu jatuh cinta ketika membaca pujian demi pujian yang Allah dan Rasul-Nya tujukan kepada mereka. Setiap muslim pun akan terharu tatkala melihat besarnya pengorbanan yang mereka berikan demi tegaknya agama! Karena bagi mereka iman dan tauhid jauh lebih berharga di atas segala kenikmatan dunia. Bukan hanya harta, waktu, pikiran, dan tenaga yang mereka curahkan. Bahkan nyawa pun rela untuk mereka persembahkan…

Para Sahabat Nabi adalah penjaga umat ini. Ketika mereka pergi maka berbagai masalah dan kekacauan pun merebak di tengah umat manusia. Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim)

Sebagai orang-orang yang telah mendapatkan hidayah kepada Islam sudah selayaknya kita berterima kasih kepada para pendahulu kita. Karena melalui dakwah dan perjuangan mereka (baca: para Sahabat Nabi) ajaran-ajaran Islam ini tersampaikan kepada kita.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia.” Apa yang bisa kita berikan untuk para Sahabat kalau bukan doa agar mereka -dan juga kita- senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan dari-Nya. Inilah doanya orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang datang sesudah mereka -sesudah Muhajirin dan Anshar- berdoa; Robbanaghfirlanaa wa li ikhwaaninalladziina sabaquuna bil iimaan, wa laa taj’al fii quluubinaa ghillal liliadziina aamanuu. Robbanaa innaka ro’uufurr rahiim. “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman, dan janganlah Kau jadikan di dalam hati kami perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadap kaum mukminin terbaik dan pemimpin para wali Allah ta’ala setelah para Nabi? Bahkan Yahudi dan Nasrani memiliki satu kelebihan di atas mereka [Syi’ah]. Orang Yahudi ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat Musa.” Orang Nasrani ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pemeluk agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat ‘Isa.” Kaum Rafidhah/Syi’ah ditanya, “Siapakah orang-orang terjelek diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat Muhammad!!!” (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah takhrij al-Albani, hal. 470)

Keserupaan Syi’ah dengan Yahudi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Yahudi berkata bahwa tidak boleh kekuasaan itu dipegang oleh selain keturunan Dawud. Demikian pula, kaum Rafidhah/Syi’ah. Mereka mengatakan bahwa tidak boleh imamah/kepemimpinan umat ini dipegang oleh selain keturunan Ali. Orang Yahudi berkata bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan diturunkan pedang. Kaum Rafidhah pun mengatakan bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya Imam Mahdi dan terdengar seruan dari langit. Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat hingga bintang-bintang tampak. Maka begitu pula Rafidhah. Mereka mengakhirkan sholat Maghrib hingga bintang-bintang tampak. Padahal di dalam hadits ditegaskan, “Umatku akan senantiasa berada di atas fithrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat Maghrib hingga tampaknya bintang-bintang.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, di dalam Zawa’id disebutkan bahwa sanadnya hasan). Orang-orang Yahudi menyelewengkan ayat-ayat Taurat. Begitu pula kaum Rafidhah menyelewengkan ayat-ayat al-Qur’an. Yahudi memandang tidak dituntunkan mengusap khuf. Begitu pula Rafidhah memandang hal itu tidak diajarkan. Orang Yahudi membenci Jibril, mereka mengatakan, “Jibril adalah musuh kami dari kalangan malaikat.” Begitu pula  Rafidhah, mereka mengatakan, “Jibril salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.” (dikutip dari Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 23-24)

Keyakinan Syi’ah Tentang Imam-Imam Mereka

Mengenai kedudukan para imam Syi’ah, Khomeini mengatakan, “Sesungguhnya kami ini -para imam dua belas- mengalami keadaan-keadaan bersama Allah yang tidak dialami bahkan oleh malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus.” (lihat Tahrir al-Wasilah karya Khomeini, dikutip dari Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 27).

Bahkan para ulama Syi’ah menganggap imam-imam mereka -keturunan Ali- adalah lebih utama daripada nabi-nabi. Salah seorang ulama Syi’ah yang bernama al-Majlisi mengatakan di dalam kitabnya Mir’at al-‘Uquul, “Sesungguhnya mereka -para imam- itu lebih mulia dan lebih utama daripada seluruh nabi selain Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 27)

Kebencian Syi’ah Terhadap Para Sahabat Nabi

Kaum Syi’ah juga sangat membenci para Sahabat terutama yang menggantikan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin umat ini sesudah wafatnya beliau kecuali Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhum. Mereka menganggap para Sahabat itu adalah pengkhianat, bahkan kafir!

al-Qumi salah seorang ulama Syi’ah mengatakan di dalam tafsirnya tentang firman Allah (yang artinya), “Dan dia melarang dari fakhsya’, mungkar dan baghyu.” (QS. an-Nahl: 90). Dia mengatakan, “Yang dimaksud fakhsya’ adalah Abu Bakar, mungkar adalah ‘Umar, dan baghyu adalah ‘Utsman.” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 21).

Di dalam Bihar al-Anwar al-Majlisi membuat pembahasan khusus yang berjudul, “Hadits-hadits yang menunjukkan kekafiran Abu Bakar dan ‘Umar serta orang-orang yang mendukung mereka berdua, pahala bagi orang yang melaknat mereka, keharusan berlepas diri dari mereka, bahwa bid’ah yang mereka lakukan terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid buku ini ataupun berjilid-jilid buku yang lain…” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 21)

Padahal, siapakah orang beriman yang meragukan keutamaan para Sahabat terbaik semacam Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiyallahu’anhum?!

Putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang bernama Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya, “Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Beliau menjawab, “’Umar.” Dan aku khawatir jika beliau mengatakan bahwa ‘Utsman adalah sesudahnya, maka aku katakan, “Lalu anda?”. Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Berbeda halnya dengan kaum Syi’ah yang mengaku-ngaku mencintai ahlul bait/keturunan nabi namun justru menyimpang dari ajaran Nabi. Salah seorang pembesar ulama Syi’ah yang bernama al-Kulaini di dalam Furu’ al-Kafi membawakan riwayat dusta  atas nama keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, bahwa Ja’far ‘alaihis salam mengatakan, “Seluruh manusia setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berubah menjadi murtad kecuali tiga orang.” Lalu ditanyakan kepada belliau, “Siapakah tiga orang itu?”. Beliau menjawab, “al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 20). Maha suci Allah.. Ini adalah kedustaan yang sangat besar!!

Allah ta’ala berfirman mengenai para Sahabat dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika mereka bersumpah setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu.” (QS. al-Fath: 18).

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam tafsirnya [7/262] bahwa jumlah para sahabat yang ikut serta dalam sumpah setia/bai’at di bawah pohon itu -yang dikenal dengan Bai’atur Ridhwan– adalah 1400 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Tidak akan masuk neraka seorang pun di antara orang-orang [para sahabat] yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (HR. Muslim) (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 469)

Membela Kehormatan Para Sahabat Nabi

Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah mendapat janji Surga dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah keistimewaan yang tidak bisa ditukar dengan emas. Bahkan, dunia dan seisinya tidak ada apa-apanya dibandingkan secuil kenikmatan di Surga!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhai-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Apabila kita ingin menjadi orang baik, tentu saja kita ingin meniru dan mempelajari keteladanan orang-orang yang baik pula. Kebaikan yang dengannya kita akan selamat dari azab Allah dan meraih keutamaan di sisi-Nya. Sementara para Sahabat adalah barisan terdepan dari orang-orang terbaik di muka bumi ini.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adakah diantara kita orang kaya raya yang mampu dan mau berinfak emas sebesar gunung? Kalaupun ada, ketahuilah bahwa infak semahal itu belum bisa mengalahkan infak seorang Sahabat, walaupun hanya segenggam tangan!

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian ada yang berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan, “Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Termasuk Sunnah adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang diantara mereka maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.” (lihat Qathful Jana ad-Daani, hal. 162)

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kita mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang diantara mereka. Kita juga tidak berlepas diri dari siapapun diantara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjatuhkan kehormatan mereka. Kita tidak menyebutkan mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka adalah termasuk bagian agama, ajaran keimanan dan sikap ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap yang melampaui batas.” (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 488. Ta’liq Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)

Jalan Lurus vs Jalan Syi’ah

Zaid bin Aslam rahimahullah -guru Imam Malik- menafsirkan, “Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.” (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 64).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan kaum yang diberikan kenikmatan oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69-70).

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling tunduk kepadanya. Hal itu bisa kita buktikan dengan melihat pengaruh nyata dakwah mereka yang sangat mengagumkan dengan ditaklukkannya berbagai negeri dan ditundukkannya hati-hati manusia untuk memeluk agama Allah ta’ala melalui dakwah mereka. Hal ini jelas bertolak belakang dengan Rafidhah/Syi’ah; dimana pun berada mereka senantiasa memusuhi Islam dan membantu musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin. Maka siapakah gerangan diantara kedua kelompok ini yang lebih pantas dan layak disebut berada di atas shirathal mustaqim?! Oleh sebab itu para ulama salaf menafsirkan shirathal mustaqim dengan Abu Bakar, ‘Umar dan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Rafidhah; mereka adalah orang-orang yang paling sengit permusuhan dan kebenciannya kepada Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu’anhuma (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 63-64)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dia bersama kesesatannya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyari’atkan untuk kamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kamu serta apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu hendaklah kamu tegakkan agama ini dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.” (QS. asy-Syura: 13).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu termasuk golongan orang-orang musyrik yang mereka itu suka memecah-belah agama mereka menjadi bergolong-golongan dan setiap golongan merasa bangga dengan golongannya sendiri.” (QS. ar-Ruum: 31-32)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang suka memecah-belah agama mereka sehingga menjadi bergolong-golongan maka engkau (Muhammad) sama sekali tidak termasuk bagian mereka.” (QS. Al-An’am: 159)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia! Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena hal itu akan memecah-belah kalian dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am: 153).

Wallahu a’lam bish shawaab.

Discussion

2 thoughts on “Bahaya Ajaran Syi’ah

  1. Baarokallahu Fiik Ustadz.

    Posted by Faiq Bazgheifan | September 10, 2013, 7:39 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: