//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 47]

20101018-beautiful-tree

Hak Kedua Orang Tua

[491] Yazid bin Abi Habib rahimahullah berkata, “Para ulama dahulu menyatakan; Hak ibu lebih utama daripada hak ayah, dan masing-masing memiliki hak yang harus ditunaikan.” (lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 5)

[492] Abu Ishaq asy-Syaibani rahimahullah berkata: Aku pernah bertanya kepad asy-Sya’bi, “Apakah ibu dan ayah dalam hal kewajiban bakti kepadanya adalah setara?” Beliau menjawab, “Ibu yang lebih berhak.” (lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 7)

[493] ‘Atho’ rahimahullah berkata, “Hendaknya seorang anak tidak mengimami ayahnya, meskipun dia sudah menjadi orang yang lebih faqih/paham agama daripada ayahnya.” (lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 11)

[494] Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, dia berkata: Ada seorang yang datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon ijin ikut berjihad. Beliau pun bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Muhammad -salah seorang periwayat- meriwayatkan, “Apakah kamu memiliki kedua orang tua?”. Dia menjawab, “Iya.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada mereka berdua.” (lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 25)

[495] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ‘Ubaidullah bin Abi Yazid bertanya kepada ‘Ubaid bin ‘Umair, “Apakah seorang lelaki boleh berangkat perang sementara kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka berdua tidak suka?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” (lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 35)

[496] Zurarah bin Aufa rahimahullah menceritakan: Ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya aku telah bernazar untuk berperang melawan Romawi. Akan tetapi ternyata kedua orang tuaku melarangku berangkat.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Taatilah kedua orang tuamu. Adapun Romawi, akan kamu dapatkan orang lain yang memeranginya selain dirimu.” lihat Kitab al-Birr wa ash-Shilah oleh al-Marwazi, hal. 36)

Kehati-hatian Para Ulama

[497] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Aku telah berjumpa dengan para fuqoha/ahli agama, dalam keadaan mereka tidak suka memberikan jawaban untuk masalah dan permintaan fatwa. Mereka tidak berfatwa kecuali dalam keadaan tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali harus berfatwa.” (lihat mukadimah Kitab az-Zuhd Mu’afa bin ‘Imran, hal. 58)

Antara Kematian dan Kesadaran

[498] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Orang-orang itu tertidur [baca; tenggelam dalam kelalaian, pent], maka apabila mereka telah meninggal, barulah mereka tersadar.” (lihat mukadimah Kitab az-Zuhd Mu’afa bin ‘Imran, hal. 60)

Cukupkan Diri Dengan Hadits Sohih

[499] Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “Di dalam menelaah hadits-hadits yang sohih sudah cukup menyibukkan daripada mengikuti hadits-hadits yang tidak sohih.” (lihat mukadimah kitab al-Jihad karya Ibnul Mubarok, hal. 16)

Aqidah Ahlus Sunnah

[500] Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “al-Qur’an adalah Kalam Allah, ia bukan Sang Khaliq, dan juga bukan makhluk.” (lihat mukadimah kitab al-Jihad karya Ibnul Mubarok, hal. 19)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: