//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 48]

images (1)

Amal Adalah Buah Ilmu

[501] Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 12) 

Mengetahui Kebenaran Saja Belum Cukup

[502] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah letak kebaikan seorang insan itu ketika dia telah mengetahui kebenaran tanpa dibarengi kecintaan kepadanya, keinginan, dan kesetiaan untuk mengikutinya. Sebagaimana kebahagiaannya tidaklah terletak pada keadaan dirinya yang telah mengenal Allah dan mengakui apa-apa yang menjadi hak-Nya [ibadah] apabila dia tidak mencintai Allah, beribadah, dan taat kepada-Nya. Bahkan, orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat kelak adalah orang yang berilmu namun tidak beramal dengannya. Dan telah dimaklumi bahwa hakikat iman adalah pengakuan/ikrar, bukan semata-mata pembenaran/tashdiq. Di dalam ikrar/pengakuan itu telah terkandung; ucapan hati [qaul qalbi] yaitu adalah berupa tashdiq/pembenaran, dan juga amalan hati [‘amalul qalbi] yaitu berupa inqiyad/kepatuhan.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, oleh Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 92)    

Jangan Bersandar Kepada Amal

[503] Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Wajib bagi setiap hamba untuk tidak bergantung dan bersandar hanya kepada amalnya, bagaimana pun baik dan konsisten ia dalam melakukannya. Janganlah dia terpedaya oleh ibadahnya, demikian pula karena banyaknya dzikirnya kepada Allah, dan ketaatan-ketaatan yang lainnya yang telah dia kerjakan.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fi al-Istiqomah, hal. 28)

Urgensi Dzikir

[504] Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi dzikir dan begitu besar faidah darinya. Sebab dzikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Allah telah memerintahkan berdzikir di dalam al-Qur’an al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar [1/11])

 

Sumber Kebaikan Alam Semesta

[505] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merenungkan keadaan alam semesta dan berbagai keburukan yang terjadi padanya, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa segala keburukan di alam semesta ini sebabnya adalah menyelisihi rasul dan keluar dari ketaatan kepadanya. Demikian pula segala kebaikan yang ada di dunia ini sebabnya adalah ketaatan kepada rasul.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/236-237])

Hakikat Ahlus Sunnah

[506] Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang sesuai dengan as-Sunnah maka dia adalah pengikut Sunnah [baca: Ahlus Sunnah]. Dan barangsiapa yang menyelisihi as-Sunnah maka dia bukanlah pengikut Sunnah.” (lihat Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah [1/53])

[507] Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “..Sesungguhnya mereka -Ahlus Sunnah- adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengikuti apa-apa yang telah disepakati oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari ini. Mereka tidak menyelisihi dalam hal pokok-pokok agama. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang awam diantara kaum muslimin yang mengikuti mereka.” (lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Bida’ wal Ahwa’ [1/38])

Prioritas Paling Utama

[508] Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata, “… sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya, demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak/menodainya.” (lihat asy-Syarh al-Mujaz, hal. 8)

Kehati-Hatian Para Ulama Hadits

[509] Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang menuturkan hadits kepadaku dan aku sama sekali tidak mencurigai/meragukan kredibilitasnya. Akan tetapi aku mencurigai orang lain yang menuturkan hadits itu kepadanya. Dan sungguh bisa jadi ada seseorang yang menyampaikan hadits dari orang lain sedangkan aku sama sekali tidak mencurigai kredibilitas orang lain tersebut, namun aku justru curiga/meragukan kepada orang yang menuturkan hadits itu kepada diriku.” (lihat adh-Dhu’afa’ al-Kabir Jilid 1 hal. 7)

[510] Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang menjadi imam/teladan apabila dia selalu menuturkan setiap pembicaraan/hadits yang dia dengar. Dan tidak pula menjadi imam/panutan orang yang senantiasa menyampaikan hadits -tanpa meneliti- dari siapa pun datangnya.” (lihat adh-Dhu’afa’ al-Kabir Jilid 1 hal. 9)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: