//
you're reading...
Telaah

Majelis Iman: Mencintai Kaum Anshor

Intelijen-dengan-teknologi-canggih-ilustrasi-jpeg.image_

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Abul Walid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin Jabr mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Anas –radhiyallahu’anhu– [meriwayatkan] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshor, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 80]

Keunikan yang ada pada hadits di atas, di dalam rantai sanad/periwayatannya ada seorang perawi yang namanya sama dengan nama ayahnya; yaitu Abdullah bin Abdullah bin Jabr.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 80]

Yang dimaksud dengan istilah ‘Anshor’ adalah suku Aus dan Khazraj

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 81]

Yang dimaksud dengan ‘kemunafikan’ adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Demikian keterangan Imam al-‘Aini.

[lihat ‘Umdah al-Qari, Juz 1 hal. 245]

Allah Ridha Kepada Para Sahabat

Allah ta’ala berfirman mengenai para Sahabat dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika mereka bersumpah setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu.” (QS. al-Fath: 18).

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam tafsirnya bahwa jumlah para sahabat yang ikut serta dalam sumpah setia/bai’at di bawah pohon itu -yang dikenal dengan Bai’atur Ridhwan– adalah 1400 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Tidak akan masuk neraka seorang pun di antara orang-orang [para sahabat] yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (HR. Muslim) (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 469)

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami [Ahlus Sunnah] mencintai sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kami tidak berlepas diri/membenci terhadap seorang pun diantara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka. Kami tidak menceritakan keberadaan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah ajaran agama, bagian keimanan, dan bentuk ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, sikap munafik dan melampaui batas/ekstrim.” (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 467)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: