//
you're reading...
Nasehat

Majelis Nasihat: Bertaubatlah! Mumpung Masih Ada Waktu

pintu taubat post

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari, dan Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku dosa di malam hari. Hal itu terus terjadi sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya/arah barat.” (HR. Muslim dan Nasa’i)

[lihat at-Targhib wa at-Tar-hib, hal. 1138]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari tenggelam di arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

[lihat at-Targhib wa at-Tar-hib, hal. 1138]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seandainya kalian berbuat dosa/kesalahan sampai setinggi langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah pun akan menerima taubat kalian.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan hasan sahih oleh Syaikh al-Albani)

[lihat at-Targhib wa at-Tar-hib, hal. 1138]

Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani)

[lihat at-Targhib wa at-Tar-hib, hal. 1139]

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di tenggorokan.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani)

[lihat at-Targhib wa at-Tar-hib, hal. 1140]

Nasihat Para Ulama Untuk Kita

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau busuk niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 82)

Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad [1/500])

Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [1/23])

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan dan terbebas dari berkubang dalam bid’ah dan dosa/kemaksiatan. Karena ia bersih dari hal-hal tersebut, maka konsekuensinya ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta tampak indah kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/812])

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata dalam syairnya,

      Kulihat tumpukan dosa mematikan hati

      Mengidapnya membuat diri bertambah hina

Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati

Yang terbaik untukmu tentu mencampakkannya

(lihat Tazkiyat an-Nufus, hal. 32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 69)

Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat umat manusia, betapa banyaknya mereka? Tidak ada yang baik diantara mereka kecuali orang yang bertakwa atau orang yang bertaubat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 225)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia akan dimintakan ampunan oleh setiap binatang melata, bahkan oleh ikan yang berada di dalam lautan sekalipun.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 14)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: