//
you're reading...
Telaah

Majelis Nabi: Kontinyu Dalam Beramal

608723808_58f588e0ef

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata: ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– beliau berkata:

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memerintahkan mereka -orang-orang- maka beliau perintahkan mereka sebatas amal-amal yang mampu mereka kerjakan.

Lantas orang-orang itu berkata, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.”

Mendengar hal itu, beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah diantara kalian adalah aku.” 

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1 hal. 89]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

Mereka -para ulama- mengatakan, bahwa makna hadits ini adalah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– apabila memerintahkan suatu amalan kepada mereka maka yang beliau perintahkan adalah apa-apa yang mudah untuk mereka kerjakan, bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang padanya terkandung keringanan….

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 90] 

Diantara faidah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits di atas antara lain:

  1. Amal-amal salih akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia serta membawa dirinya semakin berpeluang dalam menghapuskan dosa-dosa
  2. Apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya maka hal itu lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus dalam mengerjakannya, sehingga hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya
  3. Semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syari’at, baik dalam perkara ‘azimah/hukum asal yang lebih utama maupun rukhshah/mengambil keringanan. Dengan disertai keyakinan bahwasanya mengambil hal-hal yang lebih lunak lagi selaras dengan syari’at itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syari’at.
  4. Hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan mulazamah/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan.
  5. Hadits di atas juga menunjukkan besarnya semangat para Sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikan
  6. Disyari’atkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syari’at. Dan hendaknya melakukan pengingkaran terhadap kesalahan itu kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pemahaman dengan baik di saat orang itu tidak berpikir jauh ke depan atau tidak merenungkan lebih dalam agar dia lebih tergerak untuk menyadari kekeliruannya.
  7. Bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga-bangga atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.
  8. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencapai puncak kesempurnaan insan karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau ‘aku adalah orang yang paling berilmu diantara kalian’, sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau ‘dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian’

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 1 hal. 90-91] 

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan:

Di dalam kesungguh-sungguhan beliau [nabi] dalam beramal dan sikap marah beliau terhadap ucapan mereka terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang beramal tidak boleh bersandar/menggantungkan diri kepada amalnya dan hendaknya dia berada diantara perasaan harap dan takut.

[lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, Juz 1 hal. 73]

al-Muhallab rahimahullah berkata:

Di dalam hadits ini terkandung fikih/ilmu, bahwasanya seorang yang salih wajib untuk memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan dosa dan bertaubat.

Seorang yang salih tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalihan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa juga tidak boleh menjadi berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang itu berada diantara takut dan harap.

[lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, Juz 1 hal. 73]

Dalam Sahihain, dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau menuturkan:

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku, sedangkan di sisiku ada seorang perempuan. Beliau pun bertanya, “Siapakah perempuan ini?”. Aku katakan, “Ini adalah perempuan yang tidak tidur, karena dia rajin sholat [malam].”

Beliau pun bersabda, “Hendaklah kalian itu mengerjakan amal-amal yang sanggup untuk dikerjakan oleh kalian. Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sampai kalian merasa bosan.” Agama [amal] yang paling dicintai Allah adalah apa-apa yang dikerjakan secara terus-menerus oleh pelakunya.

[lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 85]   

Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan:

Yang dimaksud oleh hadits ini adalah sikap sederhana dalam beramal. Hendaknya melakukan suatu amal yang sekiranya bisa terus-menerus dikerjakan oleh pelakunya.

[lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 85]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

Sesungguhnya amal yang sedikit tapi terus-menerus itu lebih baik daripada amal yang banyak dan terputus dikarenakan dengan terus-menerusnya amal yang sedikit itu akan lebih melanggengkan ketaatan, melestarikan dzikir dan muroqobah, menjaga niat dan keikhlasan dan memelihara konsentrasi pengabdian kepada al-Khaliq subhanahu wa ta’ala. Dengan alasan-alasan itulah amal yang sedikit tapi kontinyu akan membuahkan pahala yang jauh lebih berlipat ganda daripada amalan yang besar tapi terputus.

[lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 88]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

Orang yang paling utama adalah orang yang menempuh jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para Sahabatnya yang istimewa yaitu melakukan ibadah badaniyah secara sederhana/pertengahan dan lebih bersungguh-sungguh dalam mengurusi ibadah-ibadah hati. Karena sesungguhnya perjalanan menuju kampung akhirat itu dilalui dengan perjalanan hati, bukan [semata-mata] perjalanan badan.

[lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 101]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpesan:

Hendaklah kalian disibukkan dengan amalan-amalan yang kalian mampu untuk secara terus-menerus melakukannya.

[lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 104]

Mutiara Hikmah Para Ulama

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Dahulu kami -para sahabat- apabila belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, maka kami tidaklah mempelajari sepuluh ayat lain yang diturunkan berikutnya kecuali setelah kami pelajari apa yang terkandung di dalamnya.” Hadits ini disahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi menyepakatinya (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/68])

Sufyan rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-‘Ilmi al-‘Amal, hal. 44-45)

Qotadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan tidak membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia datang melalui pintu ilmu. Setan membisikkan, “Untuk apa kamu terus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan apa yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Qotadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66).” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tak akan bermanfaat tanpanya. Dan juga amalan hati itu lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apa yang membedakan orang mukmin dengan orang munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: Dahulu ibuku berpesan kepadaku, “Wahai anakku, janganlah kamu menuntut ilmu kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 579)

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang mengingat saat datangnya kematian. Sebab tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak pengaruh baik hal itu bagi amalnya.” (lihat Aina Nahnu min Ha’ulaa’i, hal. 23-24)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka itu adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu jika disertai dengan niat yang lurus.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya.” (lihat Iqazh al-Himam al-Muntaqa min Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 35)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya syahwat yang samar adalah suka orang lain melihat amal yang dilakukan.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, hal. 21)

Ibnu ‘Ajlan rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi baik suatu amal tanpa tiga hal, yaitu: ketakwaan kepada Allah, niat baik, dan cara yang benar.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang justru membatasi amalan hanya dengan membacanya.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 116)

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Tiga hal yang menyebabkan amalan tidak akan diterima apabila disertai olehnya, yaitu; syirik, kekafiran, dan ra’yu.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ra’yu.” Beliau menjawab, “Yaitu apabila dia meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya dan beramal dengan ra’yu/pendapatnya sendiri.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 359)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang beriman bersangka baik kepada Rabbnya sehingga dia pun membaguskan amal, adapun orang munafik bersangka buruk kepada Rabbnya sehingga dia pun memperburuk amal.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1157)

Hasan al-Bashri rahimahullah menjelaskan tentang sifat orang-orang beriman yang disebutkan dalam firman Allah [QS. Al-Mu’minun: 60] yang memberikan apa yang bisa mereka berikan dalam keadaan hatinya merasa takut. al-Hasan berkata, “Artinya, mereka melakukan segala bentuk amal kebajikan sementara mereka khawatir apabila hal itu belum bisa menyelamatkan diri mereka dari azab Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1160)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sebagian orang enggan untuk mudaawamah [kontinyu dalam beramal]. Demi Allah, bukanlah seorang mukmin yang hanya beramal selama sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun. Tidak, demi Allah! Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1160)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: