//
you're reading...
Telaah

Majelis Nabi: Iman Adalah Amalan

islamic_arch_world_Funzug.org_31

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Ahmad bin Yunus dan Musa bin Isma’il menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa’ad mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amal manakah yang lebih utama?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Haji mabrur.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1 hal. 97]

Kandungan Hadits

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, berdasarkan hadits di atas bisa disimpulkan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan/perbuatan. Hal ini didukung oleh jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang amal yang paling utama, lalu beliau menjawab, “Yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

[lihat Syarh Sahih al-Bukhari li Ibni Baththal Juz 1 hal. 78]

Ibnu Baththal rahimahullah juga berkata:

Sesungguhnya beliau -Imam Bukhari- ingin memberikan bantahan kepada sekte Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan ucapan tanpa amalan/perbuatan. Beliau ingin menjelaskan sisi kekeliruan dan keburukan keyakinan/akidah serta penyimpangan mereka dari al-Kitab dan as-Sunnah serta madzhab para imam/ulama.

[lihat Syarh Sahih al-Bukhari li Ibni Baththal Juz 1 hal. 79]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

Adalah sebuah perkara yang telah disepakati di kalangan para sahabat dan tabi’in serta para ulama setelah mereka yang kami temui, mereka menyatakan bahwa iman itu mencakup ucapan, amalan, dan niat. Salah satu diantara ketiganya tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan bagian yang lainnya.

[lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1122]

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.

[lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124]

Hakikat Keimanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Bahkan, rasa malu juga merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Beliau -Nabi- menjadikan perkara-perkara ini semuanya sebagai bagian dari iman. Yaitu ucapan laa ilaha illallah, ini adalah ucapan. Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini adalah amalan. Dan rasa malu sebagai cabang keimanan, maka ini adalah keyakinan…

[lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 181]

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan:

Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.

[lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad al-Hadi ila Sabil ar-Rasyad oleh Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 98]

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan:

Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-.

Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.

[lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 47]

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah berkata:

Iman harus mencakup ketiga perkara ini; keyakinan, ucapan, dan amalan. Tidak cukup hanya dengan keyakinan dan ucapan apabila tidak disertai dengan amalan. Dan setiap ucapan dan amalan pun harus dilandasi dengan niat.

Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits, “Sesungguhnya setiap amalan itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pula, bersatunya ucapan, amalan, dan niat tidaklah bermanfaat kecuali apabila berada di atas pijakan Sunnah. Karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya maka pasti tertolak.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam lafal Muslim disebutkan juga, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari tuntunan kami maka dia pasti tertolak.”

[lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 145]

Abdullah -putra Imam Ahmad bin Hanbal- pernah mendengar ada yang bertanya kepada ayahnya mengenai paham Murji’ah, maka beliau menjawab:

Adapun kami -Ahlus Sunnah- mengatakan bahwa iman itu ucapan dan amalan, ia bertambah dan berkurang. Apabila seorang berzina dan meminum khamr maka berkuranglah iman orang tersebut.

[lihat as-Sunnah 1/307]

al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

Para Salaf mengingkari dengan keras orang-orang yang mengeluarkan amal dari istilah iman. Diantara yang mengingkari hal itu kepada para pencetus pemikiran tersebut serta menilai hal itu sebagai pendapat yang mengada-ada/bid’ah adalah Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mihran, Qatadah, Ayyub as-Sakhtiyani, an-Nakha’i, az-Zuhri, Yahya bin Abi Katsir, dan para ulama selain mereka.

[lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1139]

Para ulama mengatakan:

Bukan termasuk paham Ahlus Sunah pendapat yang mengatakan bahwa iman sekedar pembenaran hati! Atau pembenaran hati diiringi dengan ucapan lisan -saja- tanpa disertai amal anggota badan! Barangsiapa yang berpendapat semacam itu maka dia adalah orang yang sesat, dan ini merupakan -keyakinan- madzhab Murji’ah yang sangat buruk itu!

[lihat Mujmal Masa’il al-Iman al-Ilmiyah, hal. 14]

Memahami Ucapan Salaf Tentang Hakikat Iman

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud beberapa ungkapan yang diriwayatkan dari para ulama salaf tentang makna iman.

Pertama: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan amalan. Maka yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah ucapan hati dan ucapan lisan. Sedangkan yang mereka maksud dengan amalan adalah amal hati dan amal anggota badan.

Kedua: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan dan keyakinan. Maka yang mereka maksud dengan ucapan adalah ucapan lisan -sebagaimana yang banyak dipahami orang- oleh sebab itu keyakinan disebutkan secara khusus. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa yang mereka maksud dengan amalan adalah amalan hati dan amal anggota badan.

Ketiga: Sebagian salaf mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan, dan niat. Maka yang mereka maksudkan dengan ucapan adalah ucapan hati (keyakinan) dan ucapan lisan. Adapun maksud dari amalan terkadang hanya dipahami oleh banyak orang sebagai amalan lahiriyah. Oleh sebab itu mereka menambahkan niat pada pengertian iman.

Keempat: Sebagian salaf menambahkan pada pengertian iman selain apa yang sudah disebutkan di atas dengan kata-kata ‘ittiba’ kepada sunnah’. Karena perkara-perkara tersebut -ucapan, amalan, keyakinan, dan niat- tidaklah menjadi suatu hal yang dicintai Allah kecuali dengan mengikuti/ittiba’ kepada Sunnah.

Perlu diperhatikan pula, bahwa yang mereka maksudkan dengan ucapan dan amalan bukanlah semua ucapan dan amalan manusia, akan tetapi yang mereka maksud adalah ucapan dan amalan yang disyari’atkan. Lantas mengapa para salaf memakai ungkapan-ungakapan semacam itu? Jawabnya adalah dalam rangka membantah sekte Murji’ah yang hanya menjadikan iman sebagai ucapan. Oleh sebab itu Ahlus Sunnah menegaskan, bahwa iman itu ucapan dan amalan.

Adapun para ulama yang membagi hakikat iman menjadi empat, maka maksud mereka adalah seperti jawaban Sahl bin Abdullah at-Tasturi rahimahullah ketika ditanya tentang iman. Beliau mengatakan bahwa iman itu adalah, “Ucapan, amalan, niat (ikhlas), dan sunnah. Karena iman apabila hanya berupa ucapan tanpa amalan adalah kekafiran. Apabila ia hanya berupa ucapan dan amalan tanpa niat (ikhlas) maka itu adalah kemunafikan. Apabila ia berupa ucapan, amalan, dan niat (ikhlas) namun tidak disertai dengan Sunnah, maka itu adalah bid’ah.”

[lihat al-Muntakhab min Kutub Syaikhil Islam Ibni Taimiyah hal. 39]

Kedudukan Amalan Hati

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam.

Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85).

Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.

[lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30]

Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan:

Amalan-amalan hati itulah yang paling pokok, sedangkan amalan anggota badan adalah konsekuensi dan penyempurna atasnya. Sebagaimana niat itu menduduki peranan seperti halnya ruh, sedangkan amalan itu laksana tubuh. Itu artinya, jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu akan mati. Oleh sebab itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik hati itu lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik anggota badan.

[lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 15]

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan.

Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.

[lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15]

Konsultasi Seputar Masalah Iman

Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya:

Samahatus Syaikh, sebagian orang ada yang berpendapat bahwa amal bukan termasuk rukun [pilar] keimanan. Menurut mereka, amal adalah bagian penyempurna [iman] saja. Sejauh mana kebenaran pendapat ini?

Beliau rahimahullah menjawab:

Dalam masalah amal, ada perinciannya. Sebagian amal ada yang termasuk pokok keimanan, dan sebagian yang lain termasuk penyempurna atasnya. Iman adalah ucapan dan amalan, ia bertambah dan berkurang. Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah terdiri dari ucapan dan amalan. Ia bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Sholat adalah iman. Zakat adalah iman. Puasa adalah iman. Haji adalah iman. Amar ma’ruf dan nahi munkar pun [termasuk] iman. Demikian seterusnya. Meskipun demikian, sebagian diantaranya ada yang jika ditinggalkan menyebabkan pelakunya tergolong pelaku maksiat [dan tidak menjadi kafir, pent].

Orang yang tidak menunaikan zakat [misalnya] menjadi termasuk pelaku maksiat dan bukan kafir. Atau orang yang membatalkan puasa Ramadhan tanpa udzur, maka dia pun termasuk pelaku maksiat namun tidak menjadi kafir berdasarkan pendapat yang benar. Atau orang yang menunda-nunda ibadah haji padahal dia mampu, maka dia termasuk pelaku maksiat dan tidak menjadi kafir.

Adapun orang yang meninggalkan sholat, maka menurut pendapat yang benar [lebih kuat] dia adalah kafir. Melakukan sujud kepada selain Allah, pelakunya juga dihukumi kafir. Orang yang mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, dia pun dihukumi kafir. Menyembelih untuk -persembahan kepada- selain Allah, pelakunya juga dihukumi kafir.

Nas’alullahal ‘afiyah.

[lihat Asbab ats-Tsabat Amama al-Fitan, hal. 35]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

Apabila ada orang yang bertanya ‘menurut madzhab Ahlus Sunnah, apakah amalan itu menjadi syarat keberadaan iman?’. Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

Ada diantara amalan itu yang menjadi syarat dan ada amalan yang tidak menjadi syarat keimanan. Syahadat laa ilaha illallah dan Muhammad rasulullah adalah syarat keberadaan iman. Ini artinya, barangsiapa yang tidak mengucapkan asyhadu an laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, maka dia adalah orang kafir.

Apabila dia beriman kepada Allah namun tidak mengerjakan sholat, sedangkan sholat adalah amalan, maka dia juga kafir. Apabila dia beriman kepada Allah kemudian dia tidak menunaikan zakat -sedangkan zakat adalah amalan- maka dia tidak menjadi kafir.

Ringkasan masalah ini adalah apabila hilang keyakinan dari dalam hati maka orang itu menjadi kafir. Dan apabila keyakinan itu ada namun kehilangan ucapan atau amalan, maka dalam hal ini ada perinciannya.

Apabila dalil-dalil menunjukkan bahwa pelakunya menjadi kafir maka dia menjadi kafir, apabila tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu maka ia tidak kafir. Barangsiapa yang beriman kepada Allah ta’ala tetapi dia tidak bersaksi laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, maka dia telah meninggalkan satu ucapan, meskipun demikian dia telah menjadi kafir dengan sebab hal itu.

Barangsiapa yang mengatakan; ‘Aku beriman kepada Allah dan aku bersaksi laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah’ namun dia tidak sholat maka dia menjadi kafir -menurut pendapat yang lebih kuat-. Barangsiapa yang mengatakan; ‘Aku bersaksi laa ilaha illallah wa anna Muhamadar rasulullah’, dia beriman kepada Allah dan menunaikan sholat tetapi tidak menunaikan zakat, maka dia tidak menjadi kafir….

[lihat Syarh al-‘Aqidah as-Safarainiyah, hal. 402-403]

Wallahu a’lam bish shawaab.

Discussion

One thought on “Majelis Nabi: Iman Adalah Amalan

  1. Assalaamu’alaykum.. anaa izin share admin.. oiya kalo bisa distiap akhir postingan dicantumkan sumbernya / link / alamat wordpress ini.. yaa agar memudahkan kami yg ingin copas.. nda mungkin lah klo kami copas tanpa mencantumkan sumbernya.. kesannya kami mencuri ilmu…

    baarokAlloohu fiyka

    Posted by Yaa Imah Faistafti Qolbak II | October 20, 2013, 4:28 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: