//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 49]

images (1)

Buah Tawakal

[511] Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya buah dari tawakal adalah ridha terhadap qadha’/ketetapan takdir. Barangsiapa yang menyerahkan urusan-urusannya kepada Allah dan ridha dengan apa yang ditetapkan-Nya dan apa yang dipilihkan Allah baginya, maka dia telah merealisasikan tawakal dengan sebenarnya.” (lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf, hal. 360)

Mengikhlaskan Niat

[512] Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala senantiasa menjadi syari’at/ajaran semenjak masa-masa umat sebelum kita dan kemudian dilanjutkan di masa kita yang datang sesudah mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan untuk kalian agama sebagaimana apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh.” (QS. Asy-Syura: 13). Abul ‘Aliyah menafsirkan, “Allah mewasiatkan kepada mereka untuk ikhlas kepada Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya”…” (lihat al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Jilid 1 hal. 164)

Tahapan Ilmu

[513] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah dan para ulama lain mengatakan, “Tahapan awal dari ilmu adalah mendengarkan, kemudian diam, lalu menghafalkan, lalu mengamalkan, kemudian menyebarkannya.” (lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1. hal. 262)

Kedudukan Niat

[514] Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amal-amal itu menjadi berbeda-beda keutamaannya dan akan semakin besar pahalanya sebanding dengan apa-apa yang ada di dalam hati si pelaku amalan, yaitu iman dan keikhlasan…” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, dalam al-Majmu’ah al-Kamilah Juz 9 hal. 11)

Menjauhi Fitnah

[515] Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang sengaja mendekat-dekat kepada fitnah maka keselamatan akan justru menjauhi dirinya. Dan barangsiapa yang mendaku dirinya pasti bisa bersabar dalam menghadapi fitnah itu niscaya dia akan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri.” (lihat Ma’alim fi at-Ta’aamul ma’a al-Fitan, hal. 66)

[516] Wuhaib bin al-Warad rahimahullah berkata, “Aku dapati uzlah/mengasingkan diri dari fitnah itu [juga] berlaku pada perkara lisan.” (lihat al-‘Uzlah wa al-Infirad, hal. 98)

Sedikit Tapi Kontinyu

[517] Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amal yang sedikit tapi terus-menerus itu lebih baik daripada amal yang banyak dan terputus dikarenakan dengan terus-menerusnya amal yang sedikit itu akan lebih melanggengkan ketaatan, melestarikan dzikir dan muroqobah, menjaga niat dan keikhlasan dan memelihara konsentrasi pengabdian kepada al-Khaliq subhanahu wa ta’ala. Dengan alasan-alasan itulah amal yang sedikit tapi kontinyu akan membuahkan pahala yang jauh lebih berlipat ganda daripada amalan yang besar tapi terputus. (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 88)

Perhatian Lebih Besar Terhadap Ibadah Hati

[518] Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Orang yang paling utama adalah orang yang menempuh jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para Sahabatnya yang istimewa yaitu melakukan ibadah badaniyah secara sederhana/pertengahan dan lebih bersungguh-sungguh dalam mengurusi ibadah-ibadah hati. Karena sesungguhnya perjalanan menuju kampung akhirat itu dilalui dengan perjalanan hati, bukan [semata-mata] perjalanan badan.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 101)

Penyimpangan Dalam Hal Definisi Iman

[519] al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Para Salaf mengingkari dengan keras orang-orang yang mengeluarkan amal dari istilah iman. Diantara yang mengingkari hal itu kepada para pencetus pemikiran tersebut serta menilai hal itu sebagai pendapat yang mengada-ada/bid’ah adalah Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mihran, Qatadah, Ayyub as-Sakhtiyani, an-Nakha’i, az-Zuhri, Yahya bin Abi Katsir, dan para ulama selain mereka.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1139)

Keikhlasan Seorang Da’i

[520] Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata “… Tidaklah diragukan bahwasanya keikhlasan seorang da’i memiliki pengaruh yang kuat terhadap mad’u/objek dakwah. Apabila seorang da’i itu adalah orang yang ikhlas dalam niatnya. Dia juga menyeru kepada manhaj yang benar. Dia membangun dakwahnya di atas bashirah/hujjah dan ilmu mengenai apa yang dia serukan itu. Maka dakwah semacam inilah yang akan memberikan pengaruh/bekas kepada para mad’u…” (lihat al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 42)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: