//
you're reading...
Nasehat

Majelis Motivasi: Baiknya Keislaman Seorang Hamba

red_rose_01

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Ishaq bin Manshur menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian bagus islamnya maka setiap kebaikan yang dia lakukan akan dicatat pahalanya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang dia lakukan hanya akan dicatat serupa dengannya.”

[lihat Sahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 1. hal. 124]

Catatan: Di dalam teks matan Sahih Bukhari yang terdapat dalam Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi tertulis ‘Hisyam’ bukan ‘Hammam’, padahal di dalam syarahnya ditulis Hammam -yaitu Hammam bin Munabbih- maka yang benar adalah Hammam bukan Hisyam, sebagaimana bisa dibandingkan dengan teks matan Sahih al-Bukhari yang ada dalam ‘Umdah al-Qari karya Imam al-‘Aini [lihat Juz 1 hal. 397]. Demikian pula bisa dicek dalam matan Sahih Muslim yang ada dalam Syarh an-Nawawi [Jilid 2 hal. 212]. Wa billahit taufiq.

Imam Muslim rahimahullah menuturkan:

Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Khalid al-Ahmar menuturkan kepada kami dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan lantas tidak jadi melakukannya dicatat baginya satu kebaikan/pahala. Barangsiapa yang bertekad melakukan satu kebaikan lalu mengerjakannya dicatat baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipatnya. Barangsiapa yang bertekad melakukan satu keburukan lalu tidak jadi dilakukannya tidak dicatat keburukan. Namun jika dia jadi melakukannya ditulis sebagai keburukan.”

[lihat Sahih Muslim bersama Syarh an-Nawawi Jilid 2 hal. 213]

Diantara ciri orang yang baik keislamannya adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berikut ini. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti ini.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengomentari hadits ini:

Hadits ini adalah pokok yang sangat agung diantara pokok-pokok adab

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 151]

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang memperhitungkan ucapannya termasuk bagian dari amalnya niscaya akan sedikit ucapannya kecuali dalam hal-hal yang penting baginya.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 153]

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan:

Salah satu tanda Allah ta’ala berpaling dari seorang hamba yaitu tatkala Allah menjadikan kesibukannya adalah dalam hal-hal yang tidak penting baginya, hal itu merupakan sebuah bentuk penelantaran dari sisi Allah ‘azza wa jalla kepadanya.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 155]

Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang suka berbicara dalam hal-hal yang tidak penting baginya maka dia akan terhalang dari sifat kejujuran.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 155]

Ma’ruf rahimahullah berkata:

Pembicaraan seorang hamba dalam hal-hal yang tidak penting baginya adalah suatu bentuk khudzlan/penelantaran dan hukuman dari Allah ‘azza wa jalla.

[lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 155]

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.

[lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27]

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berpesan:

Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.

[lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28]

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.

[lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 38]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: