//
you're reading...
Nasehat

Majelis al-Qur’an: Berpegang Teguh Dengan Tali Allah

alquran kaca mata

Allah ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata:

Yang dimaksud habl [tali] adalah sesuatu yang bisa mengantarkan menuju target/tujuan. Iman dinamakan dengan ‘tali’ karena ia merupakan sebab guna menyelamatkan diri dari cekaman rasa takut oleh siksa neraka…

[lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 229]

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan enam penafsiran makna tali Allah:

  1. Tali Allah maksudnya Kitabullah, yaitu al-Qur’an. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Qatadah, adh-Dhahhak, dan as-Suddi
  2. Tali Allah maksudnya al-Jama’ah [persatuan di atas manhaj para sahabat, pent]. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud
  3. Tali Allah maksudnya agama Allah yaitu Islam. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zaid, Muqatil, dan Ibnu Qutaibah
  4. Tali Allah maksudnya ikatan perjanjian dari Allah. Ini adalah pendapat Mujahid, ‘Atho’, Qatadah, dan Abu ‘Ubaid
  5. Tali Allah maksudnya ikhlas. Ini adalah pendapat Abul ‘Aliyah
  6. Tali Allah maksudnya perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya. Ini adalah pendapat Muqatil bin Hayyan

[lihat Zaad al-Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir, hal. 214]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha bagi kalian; beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh dengan tali Allah bersama-sama dan tidak berpecah-belah, dan memberikan nasihat kepada orang-orang yang Allah serahkan kepadanya urusan kalian [pemimpin umat, pent]. Allah membenci dari kalian tiga perkara; qila wa qola [desas-desus], terlalu banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim)

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Jilid 2 hal. 89]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah…”

[lihat al-Ishbah, hal. 82]

Beliau menekankan:

Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu…

[lihat al-Ishbah, hal. 82]

Syaikh Abdullah al-Ubailan hafizhahullah berkata:

Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak…

[lihat al-Ishbah, hal. 84]

Apa Sebab Perpecahan?

Syaikh Abdullah al-Ubailan hafizhahullah berkata:

Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

[lihat al-Ishbah, hal. 85]

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.” (QS. al-An’am: 159).

Suatu ketika, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ditanya, “Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”. Maka beliau menjawab, “Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[dinukil dari al-Ishbah, hal. 86]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Para sahabat dahulu terkadang meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan.

Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu’anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina.

Padahal, Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu’anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, ‘Wahai putraku, perselisihan itu buruk.’ (HR. Bukhari dan Muslim).”

[dinukil dari al-Ishbah, hal. 97]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin…

Beliau menambahkan:

Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama’ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!

[lihat al-Ishbah, hal. 98]

Memberikan Nasihat Kepada Orang-Orang Berilmu

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Diantara kelompok pemimpin kaum muslimin yang paling agung adalah para ulama. Bersikap nasihat [menginginkan kebaikan] kepada ulama kaum muslimin adalah dengan cara menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka. Menahan diri dari keburukan-keburukan mereka. Bersemangat agar mereka bisa menepati kebenaran dengan sebenar-benarnya.

Hal itu bisa diwujudkan dengan cara memberikan masukan kepada mereka apabila mereka tersalah dan hendaknya kesalahan itu diterangkan kepada mereka melalui cara-cara yang tidak merusak kehormatan dan harga diri mereka. Karena menyalahkan ulama dengan cara yang mengesankan perendahan terhadap kedudukan mereka justru akan menimbulkan madharat bagi kaum muslimin secara umum.

Karena orang-orang awam apabila melihat para ulama [baca; orang-orang berilmu] diantara mereka saling menyesatkan satu sama lain niscaya kedudukan mereka [para ulama itu] akan jatuh dalam pandangan mereka [orang awam]. Mereka akan berkomentar; mereka semua itu bisa menolak dan bisa ditolak pendapatnya, maka kita tidak tahu -secara pasti- siapakah sebenarnya diantara mereka yang berada di atas kebenaran!

Akhirnya, mereka pun tidak mau mengambil pendapat setiap orang dari mereka -yang berselisih itu-. Akan tetapi tentu saja berbeda keadaannya jika para ulama itu saling menghormati satu sama lain, kemudian masing-masing dari mereka berupaya untuk memberikan masukan dan arahan kepada saudaranya secara sembunyi-sembunyi apabila saudaranya tersalah dan dia menampakkan kepada orang-orang mengenai pendapat yang benar -tentang masalah tersebut, pent- maka sesungguhnya cara semacam ini termasuk bentuk nasihat yang paling agung kepada para ulama kaum muslimin.

[lihat Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah, Jilid 2 hal. 343]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Perkara yang keempat diantara bentuk nasihat kepada para ulama adalah; apabila anda melihat ada suatu kesalahan pada diri mereka janganlah anda diam seraya mengatakan, ‘Orang ini tentu lebih berilmu daripada saya’ akan tetapi hendaknya anda berdiskusi dengannya dengan penuh sopan santun dan penghormatan.

Karena bisa jadi terkadang tersamar bagi seseorang [‘alim] dalam suatu permasalahan. Oleh sebab itu orang-orang yang berada di bawah kedudukannya dalam hal ilmu mengingatkan beliau, yang dengan sebab itu beliau pun akan tersadar dari kekeliruannya. Hal semacam ini termasuk bentuk nasihat [yang benar] terhadap para ulama.

[lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 119]

Tidak Boleh Fanatik Buta

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya:

Apa hukum orang yang mencintai seorang alim/ulama atau da’i lalu dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sangat mencintai beliau. Aku tidak senang mendengar siapa pun yang melontarkan bantahan kepadanya. Aku akan selalu mengambil pendapat/ucapan-ucapannya; meskipun bertentangan dengan dalil. Karena syaikh ini tentu lebih mengetahui dalil daripada kita’?

Beliau menjawab:

Ini adalah ta’ashshub/sikap fanatik yang dimurkai dan tercela. Ini perbuatan yang tidak diperbolehkan. Kita mencintai para ulama tentu saja -segala puji bagi Allah- kita juga mencintai pada da’i yang berjalan di atas jalan Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi apabila salah seorang dari mereka melakukan suatu kekeliruan dalam suatu masalah, maka semestinya kita menjelaskan yang benar dalam hal itu dengan landasan dalil. Dan hal itu tidaklah menyebabkan berkurangnya rasa cinta kita kepada orang yang dibantah dan tidak pula merendahkan kedudukan beliau.

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Tidaklah ada seorang pun diantara kita ini yang bisa menolak dan bisa ditolak pendapatnya. Kecuali orang yang menghuni kubur ini.” Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila suatu saat kami membantah sebagian ulama dan sebagian orang yang memiliki keutamaan/tokoh agama. Bukanlah itu artinya kami membenci atau merendahkan kedudukan beliau. Hanya saja kami punya kewajiban untuk menerangkan kebenaran. Oleh sebab itu, sebagian ulama berkata ketika ada sebagian sahabatnya yang melakukan suatu kekeliruan, “Si Fulan adalah orang yang kami cintai. Meskipun demikian, kebenaran jauh lebih kami cintai daripada beliau.” Inilah metode yang benar.

Janganlah kalian memahami dari adanya bantahan kepada sebagian ulama dalam suatu permasalahan yang dia keliru padanya kemudian dimaknakan sebagai bentuk perendahan kepada dirinya atau suatu kebencian. Bahkan, para ulama sejak dahulu senantiasa memberikan bantahan/kritikan satu sama lain, sementara mereka tetap dalam keadaan menjalin persaudaraan dan saling mencintai satu sama lain.

Kita tidak boleh mengambil dengan serta merta semua pendapat yang dilontarkan oleh seseorang tanpa pertimbangan apapun, baik dia dalam kebenaran atau kesalahan. Sebab ini adalah tindakan fanatisme/ta’ashshub. Orang yang harus diambil semua ucapannya dan tidak boleh ditinggalkan sedikit pun darinya hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena beliau adalah orang yang menyampaikan wahyu dari Rabbnya. Beliau tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya sendiri. Adapun selain beliau, maka mereka bisa salah dan bisa juga benar. Walaupun mereka itu adalah termasuk jajaran manusia yang paling utama. Mereka -para ulama- itu adalah mujtahid; yang bisa benar tapi juga bisa salah.

Tidak ada seorang pun yang terjaga dari kesalahan kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang harus kita pahami. Kita tidak boleh berupaya menyembunyikan kesalahan hanya gara-gara rasa segan kita kepada si fulan misalnya, bahkan seharusnya kita terangkan kesalahan itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama ini adalah nasihat.” Kami -para sahabat- pun bertanya, “Untuk siapa?”. Beliau menjawab, “Untuk -beriman- kepada Allah, kepada Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin serta orang-orang biasa diantara mereka.” (HR. Muslim)

Menerangkan kekeliruan adalah termasuk bentuk nasihat bagi semua orang. Adapun menyembunyikan kekeliruan maka ini adalah tindakan yang bertentangan dengan nasihat.

[lihat Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 163-164]

Nasihat Untuk Menjaga Lisan

Di dalam al-Adzkar, Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf/orang yang telah terkenan beban syariat untuk menjaga lisannya dari segala ucapan kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya.

Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan -sebagian orang-. Padahal keselamatan diri -dari bahaya lisan- adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.

[lihat al-Fitnah wa Aatsaruha al-Mudammirah, hal. 302]

Yazid bin Habib rahimahullah berkata:

Sesungguhnya orang yang suka berbicara -dalam urusan yang tidak pada tempatnya, pent- benar-benar menunggu datangnya fitnah. Dan sesungguhnya orang yang memilih diam benar-benar menunggu datangnya rahmat/kasih sayang.

[lihat al-Fitnah, hal. 303]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:

Tidaklah engkau menuturkan kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang tidak tercapai oleh akal mereka kecuali pasti menimbulkan fitnah/kekacauan bagi sebagian mereka.

[lihat al-Fitnah, hal. 307]

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.

[lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/84]

Tetap Tegar Beribadah Di Zaman Fitnah

Imam ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beribadah di saat-saat fitnah lebih baik daripada berhijrah kepadaku.” Disohihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’

[lihat al-Fitnah, hal. 310]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:

Janganlah salah seorang dari kalian taklid/membebek kepada siapa pun dalam hal agamanya; jika orang itu beriman maka dia pun beriman, dan jika orang itu kafir maka dia pun ikut kafir. Jika kalian harus mengikuti maka teladanilah orang-orang [salih] yang sudah meninggal. Sebab orang yang masih hidup tidak aman dari goncangan fitnah.

[lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 49]

Wallahu a’lam bish shawaab. Wabillahit taufiiq.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: