//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 51]

sunnah-1

Bid’ah Dalam Bahasa Syari’at

[531] al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Bid’ah dalam urf/konteks pembicaraan syari’at adalah suatu hal yang tercela. Berbeda dengan -makna bid’ah- secara bahasa. Karena -secara bahasa- segala sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya maka dia disebut bid’ah ‘sesuatu yang baru’; sama saja apakah ia termasuk perkara yang terpuji atau tercela.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 23)

Semua Bid’ah Itu Sesat

[532] al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Semua orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru lalu dia sandarkan kepada agama padahal tidak ada dasar rujukannya di dalam agama maka itu adalah kesesatan, dan agama berlepas diri darinya. Sama saja apakah hal itu terjadi dalam masalah keyakinan/akidah ataupun amalan, atau dalam hal ucapan lahir maupun batin.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 26)

[533] Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma berkata, “Semua bid’ah itu sesat walaupun oang-orang menganggapnya sebagai kebaikan/hasanah.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 27)

Bid’ah Sumber Datangnya Azab

[534] Suatu ketika Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah melihat ada seorang lelaki melakukan sholat setelah terbitnya fajar lebih dari dua raka’at dan dia memperbanyak padanya ruku’ dan sujud. Maka Sa’id pun melarangnya. Orang itu pun berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazabku karena melakukan sholat?”. Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan mengazabmu karena menyimpang dari as-Sunnah/tuntunan.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 27)

Hakikat Bid’ah

[535] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah atau ijma’/kesepakatan pendahulu umat ini, baik berupa keyakinan/akidah maupun ibadah/amalan.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 29)

Bid’ah-Bid’ah Paling Berat

[536] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Kebid’ahan yang menyebabkan seseorang termasuk golongan ahlul ahwa’ [pengekor hawa nafsu] adalah sesuatu yang telah masyhur di kalangan ulama yang memahami Sunnah bahwa hal itu jelas-jelas berseberangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Seperti halnya bid’ah Khawarij, Rafidhah/Syi’ah, Qadariyah, dan Murji’ah. Abdullah bin al-Mubarok, Yusuf bin Asbath, dan ulama yang lain pernah mengatakan, “Pokok dari tujuh puluh dua sekte [yang sesat] adalah pada empat aliran; Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, dan Murji’ah.” Kemudian ada yang bertanya kepada Ibnul Mubarok, “Bagaimana dengan Jahmiyah?” Beliau menjawab, “Jahmiyah bukan termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat al-Muntakhab min Kutubi Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 149)

Menerima Hukum Allah

[537] Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Demikianlah, memang sudah seharusnya seorang hamba menerima hukum Allah, sama saja apakah hal itu menguntungkan dirinya atau merugikannya, sama saja apakah hal itu sesuai dengan hawa nafsunya ataukah tidak.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 103)

Fikih Terbesar

[538] Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya fiqih/ilmu tentang nama-nama Allah yang terindah adalah sebuah bab ilmu yang sangat mulia. Bahkan, ia merupakan fikih terbesar (al-Fiqh al-Akbar). Ilmu inilah yang pertama kali tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan berikan fikih (kepahaman) kepada dirinya dalam urusan agama.” (Muttafaq ‘alaih).” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 11)

Meraih Kebeningan Hati

[539] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya maka hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada keinginan hawa nafsunya. Hati yang begitu terpikat dengan syahwat akan terhalangi dari Allah sesuai dengan kadar ketergantungan hati itu kepadanya. Hati merupakan bejana -untuk mengenal- Allah di atas muka bumi yang diciptakan-Nya. Hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih. Aduhai, mengapa mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka mau menyibukkan diri dengan Allah dan hari akherat niscaya akan tampak bagi mereka keagungan firman-Nya dan kebesaran ayat-ayat-Nya. Selain itu, mereka akan bisa memetik berbagai hikmah yang jarang diperoleh dan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.” (lihat al-Fawa’id, hal. 95)

Akibat Rendahnya Kecintaan

[540] Imam Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (lihat Fath al-Bari [1/78])

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: