//
you're reading...
Telaah

Cinta Sahabat Nabi, Akidah Islam Yang Digerogoti

contrary_to_public_statements_obama_admin_fueled_conflict_in_yemen-460x307

[1] Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Diantara pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah keselamatan hati dan lisan mereka terhadap para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selamatnya hati mereka yaitu dari -kotoran- kebencian, kedengkian, hasad, maupun rasa tidak senang. Dan selamat lisan mereka yaitu bersih dari segala ucapan yang tidak pantas mengenai mereka.

Hati mereka bersih dari hal itu semua. Hati mereka penuh dengan rasa cinta, penghormatan, dan pengagungan terhadap para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang layak mereka dapatkan.

Mereka -Ahlus Sunnah- mencintai para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengutamakan para sahabat di atas segenap manusia. Karena kecintaan kepada mereka [sahabat] itu pada hakikatnya adalah bagian dari kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari kecintaan kepada Allah…

[lihat Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah, Jilid 2 hal. 247-248]

[2] Abdullah putra Imam Ahmad berkata:

Ayahku menuturkan kepadaku. Dia berkata: Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin Jabr al-Anshori menuturkan kepadaku.

Dia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor, sedangkan tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshor.”

[lihat as-Sunnah, hal. 380]

[3] Abdullah putra Imam Ahmad berkata:

Ayahku menuturkan kepadaku. Dia berkata: Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah Abul Qasim menuturkan kepadaku. Dia berkata: Ayahku menuturkan kepadaku dari az-Zuhri. Dia berkata: Salim bin Abdullah bin Umar mengabarkan kepadaku.

Bahwa dia -Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma– berkata: “Dahulu kami -para sahabat- mengatakan pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup: Umat Rasulullah yang terbaik setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman.”

[lihat as-Sunnah, hal. 575]

[4] Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

Orang yang paling utama setelah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Semoga Allah meridhai mereka.

[lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 112]

[5] Abdullah putra Imam Ahmad berkata:

Ayahku menuturkan kepadaku. Dia berkata: Ibnu Uyainah menuturkan kepada kami. Dari Za’idah, dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Rib’i bin Khirasy.

Dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Teladanilah oleh kalian dua orang sesudahku yaitu Abu Bakar dan ‘Umar.”

[lihat as-Sunnah, hal. 579]

[6] Abdullah putra Imam Ahmad berkata:

‘Amr bin Muhammad an-Naqid menuturkan kepadaku. Dia berkata: Sufyan menuturkan kepada kami. Dari Ibnu Abi Khalid, dari asy-Sya’bi. Dari Abu Juhaifah, dia berkata:

Aku mendengar ‘Ali radhiyallahu’anhu berkata, “Sebaik-baik orang di tengah umat ini setelah nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan ‘Umar.”

[lihat as-Sunnah, hal. 582-583]

[7] Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Orang-orang Rafidhah [Syi’ah] mengkafirkan para sahabat, dan mereka tidak mengecualikan -dari pengkafiran itu- selain empat orang saja, yaitu ‘Ali, Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad bin al- Aswad. Mereka bersikap ghuluw/ekstrim terhadap ‘Ali radhiyallahu’anhu.

Mereka mengatakan bahwa ‘Ali radhiyallahu’anhu adalah orang yang mendapatkan wasiat [khilafah] setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga meyakini bahwa kekhilafahan Abu Bakar adalah batil, zalim, dan merupakan tindak perampasan.

Demikian pula kekhilafahan ‘Umar dan ‘Utsman, semuanya -menurut mereka- adalah kezaliman dan bentuk perampasan kekuasaan. Karena -bagi mereka- yang semestinya menjadi Khalifah adalah ‘Ali radhiyallahu’anhu.

[lihat Syarh ‘Aqidah al-Imam asy-Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, hal. 44-45]

[8] Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan:

Pokok-pokok Sunnah [agama] menurut kami adalah berpegang teguh dengan ajaran Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berusaha meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah-bid’ah.

[lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 47-48]

[9] Imam al-Ajurri rahimahullah berkata:

Ciri orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah adalah meniti jalan ini; Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta Sunnah/ajaran para Sahabatnya radhiyallahu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Dia mengikuti jalan para imam kaum muslimin yang ada di setiap negeri sampai para ulama yang terakhir diantara mereka; semisal al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, al-Qasim bin Sallam, dan orang-orang yang berada di atas jalan yang mereka tempuh serta dengan menjauhi setiap madzhab/aliran yang dicela oleh para ulama tersebut.

[lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 49]

[10] Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad. Sungguh kebersamaan dan duduknya mereka -bersama Nabi- itu walaupun hanya sesaat jauh lebih baik daripada amalan salah seorang dari kalian seumur hidupnya.

[lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 180]

[11] Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah mengatakan:

Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar.

Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita dalam rangka membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu sebenarnya mereka itu lebih pantas untuk dicela, mereka itulah orang-orang zindik.

[lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161]

[12] Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

Para sahabat seluruhnya adalah adil [baik, terpercaya, kredibel], baik mereka yang ikut campur dalam fitnah maupun selain mereka. Hal ini adalah perkara yang telah disepakati oleh segenap ulama yang diperhitungkan pendapatnya.

[lihat Asad al-Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah [1/23]]

[13] Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim)

[14] Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[15] Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata:

Kami [Ahlus Sunnah] mencintai sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kami tidak berlepas diri/membenci terhadap seorang pun diantara mereka.

Kami membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka. Kami tidak menceritakan keberadaan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah ajaran agama, bagian keimanan, dan bentuk ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, sikap munafik dan melampaui batas/ekstrim.

[lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 467]

[16] Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

Termasuk Sunnah [pokok agama] adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang dari mereka, maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah.

Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah [ajaran agama]. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.

[lihat Qathful Jana ad-Daani, hal. 162]

[17] Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albani)

Wallahu a’lamu bish shawaab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Discussion

One thought on “Cinta Sahabat Nabi, Akidah Islam Yang Digerogoti

  1. Reblogged this on zazazubagza and commented:
    Mantap…. syukron ya akhiy atas ilmunya
    Ana coba share Di witter Dan Fb

    Posted by zazazubagza | November 1, 2013, 4:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: