//
you're reading...
Nasehat

Ladang Amal Tak Bertuan

gandum-dan-lalang-400x300

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, setiap kita pasti mendambakan kebahagiaan dan keberuntungan. Sementara jalan menuju ke arah sana dibangun di atas dua pondasi utama, yaitu iman dan amal salih. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

Iman laksana sebatang pohon yang akarnya tertancap di dalam hati, berupa tashdiq/pembenaran. Batang dan cabangnya menjulang ke langit berupa amal dan ketaatan, sedangkan buah dan bunganya adalah dzikir dan ucapan yang lurus. Sebagian dari bagian keimanan itu tersimpan di dalam hati, dan sebagian yang lain mencuat dalam bentuk ucapan dan perbuatan anggota badan.

Amal salih merupakan bentuk nyata dari keimanan di dalam hati. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu sekedar angan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Dia; Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan bahwa yang terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas adalah ketika amal itu persembahkan kepada Allah, sedangkan benar yaitu apabila ia berada di atas Sunnah.

Apabila kita lihat, keadaan diri kita atau manusia di sekitar kita. Maka akan kita temukan beberapa tipe manusia dalam beramal:

  1. Pertama; mereka yang tidak peduli dan tidak merasa perlu untuk beramal, karena lemahnya iman mereka kepada hari pembalasan
  2. Kedua; mereka yang berusaha untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah namun di sisi lain mereka juga menodai jiwanya dengan dosa besar dan kekejian
  3. Ketiga; mereka yang beramal dan mendekatkan diri kepada Allah serta merasa bahwa mereka tidak punya jasa sedikit pun dan merasa dirinya telah bangkrut; oleh sebab itu mereka berjuang untuk mengisi setiap detak jantung dan detik waktu dengan pahala dan taubat dari segala bentuk dosa

Jenis manusia yang pertama adalah orang-orang yang telah hancur hatinya oleh pandangan hidup materialis dan cara berpikir yang teramat dangkal. Jenis manusia yang kedua adalah orang-orang yang masih berharap akan keutamaan surga namun kerapkali terseret dan hanyut dalam banjir dosa. Jenis manusia ketiga adalah orang-orang yang kematian selalu terpampang di kedua pelupuk matanya… Sebagaimana dikatakan oleh Tsabit al-Bunani rahimahullah, beliau berkata, “Tidaklah ada seorang pun yang memperbanyak kematian kecuali pasti akan terlihat bekasnya di dalam amalnya.”

Hasan al-Bashri rahimahullah juga berkata, “Seorang mukmin memadukan di dalam dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dengan rasa takut. Adapun orang kafir/munafik memadukan di dalam dirinya antara perbuatan jelek dengan rasa aman.”

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; mereka semuanya khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan iman Jibril dan Mika’il.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.” (QS. Al-Anfal: 2)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menimbun pundi-pundi amal memang tidak seasyik menumpuk pundi-pundi emas dan perak. Penimbun pundi-pundi amal tidak memiliki kepercayaan penuh kecuali kepada Allah dan rasul-Nya, dia tidak memiliki pedoman mutlak selain al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu mereka merasa berhajat kepada keduanya lebih daripada hajat mereka kepada air dan udara, atau bahkan cahaya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Risalah merupakan perkara yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka tidak bisa berpisah darinya. Kebutuhan mereka kepadanya di atas segala kebutuhan. Karena risalah adalah ruh, kehidupan, dan cahaya. Bagaimanakah keadaan alam ini tanpa ruh, tanpa kehidupan dan tanpa cahaya?”

Oleh sebab itu Hasan al-Bashri rahimahullah menggambarkan kebutuhan umat manusia ini kepada ilmu yang diemban oleh para ahlinya dengan ucapannya, “Kalaulah bukan karena keberadaan para ulama niscaya manusia sudah sama persis dengan binatang.”

Orang-orang yang tidak mengenal petunjuk dan bimbingan iman hidup dalam kegelapan dan kegalauan berkepanjangan. Bahkan mereka yang tidak mengenal-Nya hidup di dunia dengan kesengsaraan di atas kesengsaraan. Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Para pemuja dunia telah pergi meninggalkan dunia dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang paling lezat di sana.” Ketika ditanya apa yang beliau maksud, maka beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

Dengan demikian, tidaklah heran jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan orang yang kehilangan amal salih seperti orang yang kehilangan nyawa dan tercabut ruhnya. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berzikir kepada Rabbnya seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Abul ‘Abbas al-Harrani rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia dikeluarkan dari air?”

Pokok daripada dzikir adalah kalimat laa ilaha illallah; pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sementara rasa malu adalah cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat tauhid inilah yang menjadi misi utama dan asas perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para rasul kepada kaumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyerukan-; Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Kalimat tauhid inilah yang menjadi hikmah dan tujuan mulia penciptaan jin dan manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tauhid inilah amalan terbesar dan ibadah paling agung yang bobotnya jauh lebih berat daripada langit dan bumi dengan segenap penduduknya. Inilah amal salih yang menjadi syarat diterimanya amal-amal yang lain. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu; jika kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu dan kamu benar-benar termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Tauhid -sebagaimana diterangkan oleh para ulama- terdiri dari dua bagian;

  1. Pertama; penafian yaitu menolak dan berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah apa pun dan siapa pun itu
  2. Kedua; penetapan yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq dan wajib untuk diibadahi dengan bentuk ibadah apapun

Inilah yang terkandung dalam banyak firman Allah, diantaranya adalah Allah berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu karena Allah adalah al-Haq/sesembahan yang benar adapun segala yang mereka seru selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)

Demikian juga firman-Nya (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Tauhid adalah asas bagi seluruh amalan dan ketaatan. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam dibangun di atas lima perkara; syahadat laa ilaha illallah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid -sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Qayyim- juga merupakan bentuk syukur yang terbesar dan paling utama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Menyemai benih tauhid dan merawat pohon keikhlasan adalah proyek besar yang membutuhkan waktu, energi dan pemikiran yang amat serius. Seperti pernah dikatakan oleh sebagian ulama kita, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diri dengan perjuangan yang lebih berat sebagaimana perjuangan untuk menggapai ikhlas.”

Sebagian mereka juga mengatakan, “Orang yang ikhlas itu adalah orang yang suka menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia suka menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.” Sebagian mereka juga berkomentar, “Sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah ikhlas.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya semua amalan itu dinilai dengan niatnya. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ikhlas bukan terletak pada bentuk dan rupa amalan secara lahiriah. Karena hakikat keikhlasan itu bersemayam di dalam hati. Ikhlas bukan terletak pada jihad. Ikhlas bukan terletak pada ilmu. Ikhlas juga bukan terletak pada sedekah. Akan tetapi ikhlas itulah yang tertanam di dalam hati pelaku amalan, yang menjadi sebab diterimanya amalan.

Sebab tanpa keikhlasan hati lenyap sirna segala kebaikan yang pernah diukirnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami tampakkan segala amal yang dahulu mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan kepada rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Memperbaiki hati adalah dengan celupan keikhlasan, sedangkan meluruskan amalan adalah dengan siraman cahaya as-Sunnah. Dengan keduanya seorang hamba akan meniti jalan lurus menuju keridhaan dan rahmat Rabbnya. Capek dan letihnya seorang dalam beramal bukanlah ukuran keikhlasan. Sebagaimana kemudahan dan keringanan yang dirasakan bukanlah standar baku kebenaran versi Sunnah Nabi.

Tauhid dan keikhlasan ini berada di antara dua tepi penyimpangan; penyimpangan akibat berlebihan dan melampaui batas, dan penyimpangan akibat meremehkan dan suka menyepelekan. Tauhid ini berada di antara sayap harapan dan sayap kekhawatiran. Tauhid ini berada diantara garis aman dari makar Allah dengan garis putus asa dari rahmat Allah.

Memang, jika seorang sudah berada di atas Sunnah, maka ia tidak perlu gentar dan khawatir dari cemoohan dan komentar orang. Namun, jangan sampai dia salah memahami nasihat dan masukan sebagai sebuah cemoohan dan celaan. Sebagaimana ia tidak boleh menjadikan komentar manusia sebagai patokan atas benar tidaknya amalannya, sebelum dia menimbang ucapan mereka dengan al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.

Seorang yang ikhlas selalu berusaha mengoreksi diri dan bersangka buruk kepada dirinya sebelum bersangka jelek kepada orang lain. Bahkan lebih daripada itu seorang yang ikhlas merasa bahwa keikhlasan yang ada padanya tidak sempurna atau bahkan penuh dengan cacat dan kerusakan yang sangat membutuhkan perbaikan.

Oleh sebab itulah orang yang ikhlas memiliki dada yang sangat lapang dalam menerima kebenaran dan masukan. Orang yang ikhlas selalu berusaha mengoreksi kesalahan demi kesalahan dan tidak merasa ujub dengan amalan dan ucapannya. Itulah tanda ikhlas dan ketawadhu’an yang menjadi ciri khas ‘Ibaadurrahman….

Wallahu a’lam.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: