//
you're reading...
Nasehat

Nasihat Ulama Untuk Pencari al-Haq

13590103082120033173

Masruq rahimahullah berkata:

Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.

[lihat Min A’lam as-Salaf [1/23]]

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata:

adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.”

[lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka.

Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….

[lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97]]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Diantara ciri kebahagiaan dan keberuntungan ialah apabila seorang hamba semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula tawadhu’ dan sifat kasih sayangnya. Semakin bertambah amalnya semakin meningkat pula rasa takut dan kehati-hatian dirinya. Semakin bertambah umurnya semakin berkuranglah ambisinya. Semakin bertambah hartanya semakin bertambah pula kedermawanan dan kegemarannya untuk membantu. Semakin bertambah kedudukannya semakin dekatlah dia dengan orang-orang dan semakin suka menunaikan kebutuhan-kebutuhan mereka serta rendah hati kepada mereka.  

Diantara ciri kebinasaan adalah bahwa semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakan dirinya. Semakin bertambah amalnya semakin bertambah pula keangkuhan dan suka meremehkan orang lain, sementara dia selalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin meningkat kedudukan dan statusnya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakan dirinya. Perkara-perkara ini semua adalah cobaan dan ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya; sehingga akan ada sebagian orang yang berbahagia dan sebagian yang lain menjadi binasa karenanya.

[lihat al-Fawa’id tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun, hal. 277]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman/makar Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.

[lihat al-Fawa’id, hal. 95]

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata:

Pokok segala kebaikan di dunia dan di akhirat adalah rasa takut kepada Allah ta’ala.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 305]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Setiap orang yang merasa takut kepada-Nya, lantas menunaikan ketaatan kepada-Nya yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka dialah sesungguhnya orang yang alim/berilmu.” Suatu ketika, ada orang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Orang yang alim adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.

[lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98]]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Apabila Allah berkehendak kebaikan kepada hamba-Nya [yang berbuat dosa] maka Allah bukakan baginya sebuah pintu diantara pintu-pintu taubat, penyesalan, perasaan tidak berdaya, hina/tunduk, butuh, memohon keselamatan kepada-Nya, benar-benar memulangkan urusan kepada-Nya. Dia pun terus-menerus merendah, berdoa, mendekatkan diri kepada-Nya sebisa mungkin dengan berbagai bentuk amal kebaikan; yang itu semuanya pada akhirnya akan bisa mengubah dosa yang telah dia perbuat menjadi sebab datangnya rahmat baginya. Sampai-sampai si musuh Allah [yaitu setan] berkata, “Aduhai, andaikata aku biarkan dia [tidak menggodanya] dan tidak menjerumuskannya,”

Inilah makna dari ucapan sebagian salaf, “Sesungguhnya seorang hamba melakukan suatu dosa kemudian yang pada akhirnya justru membuatnya masuk ke dalam surga. Dan bisa jadi dia melakukan suatu kebaikan yang pada akhirnya justru membuatnya masuk ke dalam neraka.” Mereka -teman-temannya- bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Salaf itu pun menjawab:

Orang itu berbuat dosa lalu dosa itu senantiasa terpampang di hadapan kedua matanya, sehingga dia terus-menerus merasa takut akan akibatnya, khawatir karenanya dan penuh kegelisahan, menangisi dosanya dan menyesalinya. Dia merasa malu kepada Rabbnya ta’ala. Kepalanya tertunduk malu di hadapan-Nya. Hatinya pun remuk dan mengiba kepada-Nya.

Dengan demikian, dosa yang telah dilakukannya justru menjadi perantara untuk menggapai kebahagiaan dan keberuntungan hamba itu. Sampai-sampai dosa yang telah dia lakukan itu jauh lebih bermanfaat baginya daripada sekian banyak amal ketaatan; yaitu dikarenakan hal-hal positif yang muncul karenanya yang dengan itu semuanya seorang hamba bisa meraih kebahagiaan dan keberuntungan dirinya, sampai pada akhirnya dosanya itu justru mengantarkan dirinya masuk ke dalam surga.

Dan bisa jadi seorang hamba melakukan suatu amal kebaikan; sampai-sampai hal itu membuatnya terus merasa berjasa kepada Rabbnya. Dia merasa sombong dengan amalannya itu. Dia melihat keunggulan pada dirinya dan merasa ujub olehnya. Dia pun meremehkan orang dengan sebab prestasinya.

Dia pun berkata, “Aku sudah berhasil melakukan ini dan itu.” Akhirnya, amal kebaikannya itu justru menumbuhkan perasaan ujub dan sombong, berbangga-bangga dan meremehkan orang lain, yang pada akhirnya itu menjadi sebab kebinasaan dirinya. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi orang yang malang ini, Allah akan mengujinya dengan sesuatu yang akan mematahkan keangkuhan dirinya dan menundukkan lehernya, dan Allah akan membuatnya dirinya merasa kecil/tidak berarti dalam pandangannya sendiri.

Namun, apabila Allah memiliki kehendak lain kepada orang itu, Allah akan biarkan dirinya bersama dengan buaian perasaan ujub dan sombong yang meliputinya. Inilah justru yang dinamakan dengan khudzlan/keadaan terlantar yang menjadi sebab kehancuran dirinya. Karena sesungguhnya segenap orang yang mengerti telah sepakat bahwa hakikat taufik -dari Allah- itu adalah tatkala Allah tidak menyandarkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Adapun khudzlan [keadaan terlantar] itu adalah ketika Allah ta’ala membiarkan kamu bersandar kepada kemampuan dirimu sendiri.

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan bukakan untuknya pintu perendahan diri dan perasaan tidak berdaya, sehingga dia selalu memulangkan masalah kepada Allah ta’ala dan terus merasa butuh kepada-Nya. Ia senantiasa melihat akan aib-aib dirinya, kebodohan yang ada padanya, kezaliman-kezalimannya, dan mengingat tindakan pelanggaran dan permusuhan yang telah diperbuat olehnya. Di samping itu, ia selalu menyaksikan dan menyadari betapa luas curahan karunia dari Rabbnya, ihsan, rahmat, kedermawanan, kebaikan, kekayaan, dan keterpujian diri-Nya.  

Oleh sebab itu, orang yang benar-benar mengenal -Allah- meniti jalannya menuju Allah diantara kedua sayap ini. Dia tidak mungkin berjalan -dengan baik- kecuali dengan keduanya. Kapan saja salah satu diantara kedua belah sayap itu hilang, maka dia bagaikan seekor burung yang kehilangan salah satu sayapnya.

Syaikhul Islam -Abu Isma’il al-Harawi- mengatakan, “Orang yang ‘arif/mengenal Allah berjalan menuju Allah diantara musyahadatul minnah/menyaksikan curahan nikmat -yang Allah berikan kepadanya- dan [keadaan] selalu menelaah aib diri dan amalan.”

[lihat al-Wabil ash-Shayyib tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id, hal. 9-11]

Wallahu a’lam bish shawaab.

Discussion

One thought on “Nasihat Ulama Untuk Pencari al-Haq

  1. Reblogged this on zazazubagza and commented:
    Sukron ya akhi atas ilmu nya..

    Posted by zazazubagza | November 20, 2013, 4:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: