//
you're reading...
Nasehat, Telaah

Brosur Dakwah Islam al-Hujjah [seri 6]

kaktus

Jalan Untuk Meraih Kelezatan Iman

Kelezatan Mengenal Allah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah lah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula. Turunlah perintah-Nya di antara itu semua. Supaya kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan bahwasanya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 12).

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu tatkala seorang hamba menyibukkan diri untuk memahami nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya maka itu adalah sebuah kesibukan dalam rangka mewujudkan hikmah penciptaan hamba itu sendiri. Dengan dia meninggalkan dan melalaikan hal itu, maka itu berarti dia telah melalaikan hikmah penciptaan dirinya. Tidak sepantasnya bagi seorang hamba yang telah mendapatkan karunia Allah yang sangat besar dan nikmat Allah pun terus-menerus tercurah kepadanya lantas dia justru bodoh tentang Rabbnya dan berpaling dari mengenal-Nya…” (Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 25)

Mengenal Allah merupakan sebuah kenikmatan tiada tara yang banyak tidak dirasakan oleh manusia. Sebagian ulama salaf berkata, “Orang-orang yang malang di antara penduduk dunia ini adalah mereka yang keluar darinya -dari dunia- dan tidak sempat mencicipi kenikmatan paling lezat di dalamnya.” Lantas ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan paling lezat yang ada di dalamnya?”. Dia menjawab, “Mengenal Allah, mencintai-Nya dan merasa tentram dengan mendekatkan diri kepada-Nya serta rindu untuk berjumpa dengan-Nya.” (Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 21)

Pokok Amalan dan Ruh Ketauhidan

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kecintaan merupakan pokok agama Islam yang menjadi poros segala ajaran agama. Dengan kesempurnaan cinta maka sempurnalah agama islam, dan dengan berkurangnya cinta maka berkuranglah tauhid seorang insan. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah kecintaaan penghambaan yang mengandung perendahan diri dan ketundukan serta ketaatan secara mutlak dan lebih mendahulukan dzat yang dicintai dari segala sesuatu selain-Nya. Kecintaan semacam ini murni untuk Allah, tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya dalam hal ini sesuatu apapun.” (al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 84)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakikat/intisari ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa tidak ada ruhnya sama sekali padanya…” (al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakikat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)

Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu adalah cabang pengenalan terhadapnya. Manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling mencintai-Nya. Setiap orang yang mengenal Allah pasti akan mencintai-Nya. Tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16)

Tiga Kunci Utama

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara; barangsiapa yang ketiga hal itu ada pada dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Dia mencintai seseorang semata-mata karena kecintaannya kepada Allah. Dia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dan Muslim)  

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang ketiga hal itu ada pada dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman dan kelezatannya. Yaitu apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Dia mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah. Dan tatkala dia lebih suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala-nyala daripada harus mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Nasa’i, disahihkan Syaikh al-Albani)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama -semoga Allah merahmati mereka- mengatakan bahwa makna manisnya iman adalah kelezatan di saat melakukan ketaatan dan sanggup menanggung berbagai kesulitan demi menggapai keridhaan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta lebih mengutamakan itu di atas kesenangan dunia…” (Syarh Muslim [2/96]).

Imam Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Maka barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (Fath al-Bari [1/78])

Kelezatan iman inilah yang akan mengokohkan pijakan keislaman seorang hamba. Sehingga dia tidak akan goyah karena iming-iming dunia atau -bahkan- ancaman senjata. Heraklius berkata kepada Abu Sufyan, “Aku pun bertanya kepadamu mengenai apakah ada diantara mereka -pengikut nabi- yang murtad karena marah terhadap agamanya setelah dia masuk ke dalamnya? Kamu menjawab, tidak ada. Demikian itulah yang terjadi apabila kelezatan iman telah merasuk dan teresap di dalam hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Adapun pertanyaan yang diajukan mengenai kemurtadan pengikutnya. Latar belakangnya adalah bahwa orang yang masuk (agama) tanpa dilandasi dengan bashirah/ilmu tentangnya niscaya ia akan mudah untuk kembali (murtad) dan goyah. Adapun orang yang masuk -ke dalam Islam- dengan landasan ilmu dan keyakinan yang benar maka hal itu akan menghalanginya dari kemurtadan.” (Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/46])

Hakikat Keimanan

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” (Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124)

Iman adalah pembenaran yang mantap dan pengakuan yang sempurna terhadap segala perintah Allah dan rasul-Nya, menyakini dan tunduk kepadanya baik secara lahir maupun batin. Iman meliputi pembenaran hati dan keyakinan yang memiliki konsekuensi amalan hati dan anggota badan. Oleh sebab itu para ulama menjelaskan bahwa iman adalah, “Ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan dan anggota badan.” Sehingga, iman adalah ucapan, amalan, dan keyakinan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarah al-Iman, hal. 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Bahkan, rasa malu juga merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Beliau [nabi] menjadikan perkara-perkara ini semua sebagai bagian dari iman. Yaitu ucapan laa ilaha illallah, ini adalah ucapan. Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini adalah amalan. Dan rasa malu sebagai cabang keimanan, ini adalah keyakinan…” (Syarh Lum’ah al-I’tiqad, hal. 181)

Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” (SyarhLum’ah al-I’tiqad al-Hadi ila Sabil ar-Rasyad oleh Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 98)

Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 47)

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah berkata, “Iman harus mencakup ketiga perkara ini; keyakinan, ucapan, dan amalan. Tidak cukup hanya dengan keyakinan dan ucapan apabila tidak disertai dengan amalan. Dan setiap ucapan dan amalan pun harus dilandasi dengan niat. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits, “Sesungguhnya setiap amalan itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula, bersatunya ucapan, amalan, dan niat tidaklah bermanfaat kecuali apabila berada di atas pijakan Sunnah. Karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya maka pasti tertolak.” (Muttafaq ‘alaih). Dalam lafal Muslim disebutkan juga, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari tuntunan kami maka dia pasti tertolak.” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 145)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya iman -pokok maupun cabang-cabangnya, batin maupun lahirnya- semuanya adalah keadilan, dan lawannya adalah kezaliman. Keadilan tertinggi dan pokok utamanya adalah pengakuan dan pemurnian tauhid kepada Allah, beriman kepada sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang terindah, serta mengikhlaskan agama [ketaatan] dan ibadah kepada-Nya. Adapun kezaliman yang paling zalim dan paling berat adalah syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).” (Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 63 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah) 

Karakter Kaum Beriman

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka takutlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari ungkapan ‘takutlah hati mereka’, kata beliau, “Yaitu mereka merasa takut kepada-Nya sehingga mereka pun melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/11])

az-Zajaj mengatakan, “Maksudnya, apabila disebutkan tentang kebesaran dan kekuasaan-Nya dan ancaman hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya maka hati mereka pun merasa takut.” (Zaadul Masir, hal. 540)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa iman itu bertambah. Apabila seorang insan mendengar al-Qur’an maka bertambahlah imannya. Dan apabila dia jauh dari al-Qur’an maka berkuranglah imannya.” (Syarh Lum’ah al-I’tiqad, hal. 175)

‘Umair bin Habib radhiyallahu’anhu berkata, “Iman mengalami penambahan dan pengurangan.” Ada yang bertanya, “Dengan apa penambahannya?” Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah ‘azza wa jalla dan memuji-Nya maka itulah penambahannya. Apabila kita lupa dan lalai maka itulah pengurangannya.” (Tafsir al-Baghawi, hal. 511)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah dzikirnya kepada Allah niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarah al-Iman, hal. 57)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Orang-orang munafik itu tidak pernah sedikit pun meresap dzikir kepada Allah ke dalam hatinya pada saat mereka melakukan amal-amal yang diwajibkan-Nya. Mereka sama sekali tidak mengimani ayat-ayat Allah. Mereka juga tidak bertawakal [kepada Allah]. Mereka tidak mengerjakan sholat apabila dalam keadaan tidak bersama orang. Mereka pun tidak menunaikan zakat dari harta-harta mereka. Oleh sebab itu Allah mengabarkan bahwasanya mereka bukan termasuk golongan orang-orang yang beriman.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/11])

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, bahwa dari ayat di atas bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman itu antara lain:

  1. Merasa takut kepada-Nya ketika mengingat-Nya, yang dengan sebab itulah maka dia akan melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya
  2. Bertambahnya keimanan mereka tatkala mendengar dibacakannya al-Qur’an
  3. Menyerahkan segala urusan serta menyandarkan diri/bertawakal kepada Allah semata (al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 269)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tawakal kepada Allah adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Sesuai dengan kekuatan tawakal maka sekuat itulah keimanan seorang hamba dan bertambah sempurna tauhidnya. Setiap hamba sangat membutuhkan tawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala yang ingin dia lakukan atau tinggalkan, dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101)

Pentingnya Amalan Hati

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tidak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan. Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menegaskan, “Amalan-amalan hati itulah yang paling pokok, sedangkan amalan anggota badan adalah konsekuensi dan penyempurna atasnya. Sebagaimana niat itu menduduki peranan seperti halnya ruh, sedangkan amalan itu laksana tubuh. Itu artinya, jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu akan mati. Oleh sebab itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik hati itu lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik anggota badan.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 15)  

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketakwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj: 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (QS. al-Hajj: 37).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan yang berakar dari dalam hati bukan semata-mata ketakwaan anggota badan.” (al-Fawa’id, hal. 136). Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Hati ibarat seorang raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila sang raja baik niscaya baik pula pasukannya. Akan tetapi jika sang raja busuk, busuk pula pasukannya.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 14)

Dari al-‘Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah ta’ala semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (Syarh Muslim [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang beriman bersangka baik kepada Rabbnya sehingga dia pun membaguskan amal, adapun orang munafik bersangka buruk kepada Rabbnya sehingga dia pun memperburuk amal.” (Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1157)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman yang sejati adalah keimanan orang yang merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla walaupun dia tidak melihat-Nya. Dia berharap terhadap kebaikan yang ditawarkan oleh Allah. Dan meninggalkan segala hal yang membuat murka Allah.” (Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1161)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (ar-Rasyiduun).” (QS. al-Hujurat: 7).

Orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (ar-Raasyiduun) adalah orang-orang yang Allah perindah keimanan di dalam hatinya. Orang-orang yang membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka adalah orang-orang yang ilmu dan amalnya benar. Mereka istiqomah di atas agama yang lurus ini dan meniti shirathul mustaqim. Kebalikan dari ar-Raasyiduun adalah al-Ghaawuun (orang-orang yang menyimpang). Mereka menikmati berbagai kekafiran, kefasikan, kedurhakaan, dan membenci keimanan. Tatkala kebenaran datang mereka tidak menerimanya, maka Allah pun membalikkan hati mereka sebagai hukuman setimpal atas perbuatan [dosa] mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 800)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: