//
you're reading...
Nasehat

Majelis Nasihat: Sebagian Diantara Dampak Fitnah

fitnah

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata:

Salah satu diantara dampak fitnah adalah ia menjadi faktor penyebab berpalingnya seorang hamba dari beribadah; padahal dia diciptakan [Allah] untuk merealisasikannya [ibadah], dan -karena fitnah itu pula- dia terpalingkan dari ketaatan; suatu hal yang dirinya diciptakan [Allah] untuk mewujudkan hal itu.

Sehingga dia pun terpalingkan dari berdzikir kepada Allah tabaraka wa ta’ala. Sehingga jadilah kehidupannya, hari-harinya, dan waktu-waktunya tersibukkan oleh qila wa qola [desas-desus] serta perkara-perkara yang diangkat dan fitnah yang dikobarkan.

Hatinya pun penuh kerancuan dan kebimbangan, sibuk dengan perkara-perkara itu. Ia tidak bisa merasa tentram dan tenang. Sehingga urusan dzikir kepada Allah tabaraka wa ta’ala pun tidak bisa terlaksana dengan baik dan penuh ketenangan.

Sehingga hatinya dipenuhi kegoncangan. Benaknya kacau balau. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi. Oleh karena itu disebutkan di dalam hadits yang sahih dari Nabi kita ‘alaihis sholatu was salam, beliau bersabda, “Ibadah di tengah kondisi harj/berkecamuknya fitnah itu laksana berhijrah kepadaku.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani)

[lihat Aatsaar al-Fitan, hal. 15]

Beliau juga berkata:

Hal ini menjelaskan bahwasanya barangsiapa yang pada saat-saat berkecamuknya fitnah menyibukkan diri dengan ibadah maka dia adalah orang yang muwaffaq/mendapatkan taufik kebaikan. Dia pun akan selamat dari bahaya fitnah itu.

Demikian juga, pada waktu yang sama, hadits tersebut juga menunjukkan bahwa perkara yang semestinya dilakukan oleh seorang insan pada saat-saat fitnah berkobar adalah memusatkan diri untuk beribadah dan menjauhi fitnah-fitnah. Dengan itulah ia akan bisa sukses meraih kebahagiaan, kelapangan, dan ketentraman.

Oleh karena itu disebutkan dalam hadits yang sahih dari Nabi kita ‘alaihis sholatu was salam, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang-orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah.” Beliau ‘alaihis sholatu was salam mengulanginya sampai 3 kali (HR. Abu Dawud dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani)

Maka kebahagian itu terletak pada sikap menjauhi fitnah-fitnah, menyibukkan diri dengan ibadah, dzikir, ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan mendekatkan diri kepada-Nya jalla wa ‘ala dengan apa-apa yang telah disyari’atkan oleh-Nya. Yaitu dengan melakukan berbagai macam ibadah, dzikir, dan berbagai bentuk pendekatan diri [kepada-Nya].

[lihat Aatsaar al-Fitan, hal. 16-17]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: