//
you're reading...
Nasehat

Majelis Nabi: Letak Kemuliaan dan Kehinaan

???????????????????????????????

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab ar-Riqaq dengan sanadnya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki seekor unta bernama al-‘Adhbaa’. Unta itu tidak pernah terkalahkan [dalam hal pacuan, pent]. Suatu ketika datanglah seorang arab badui mengendarai unta tunggangannya, dan berhasil mengalahkan unta beliau.

Peristiwa itu menimbulkan kegemparan bagi kaum muslimin saat itu. Mereka berkomentar, “al-‘Adhbaa’ telah dikalahkan.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sesungguhnya menjadi ketetapan bagi Allah; bahwa tidaklah Dia mengangkat/memuliakan suatu perkara dunia, kecuali Dia pasti akan merendahkannya.”

[lihat Sahih al-Bukhari, cet. Maktabah al-Iman, hal. 1320, hadits no. 6501]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

Di dalamnya terkandung anjuran/dorongan agar meninggalkan sikap berbangga-bangga/merasa hebat serta dorongan untuk memiliki sifat tawadhu’. Hal itu sekaligus membawa pesan bahwa urusan-urusan dunia ini serba kurang dan tidak sempurna.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 12 hal. 349]

Beliau juga menerangkan:

Di dalam kisah ini terkandung kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketawadhu’an beliau, dimana beliau merasa ridha [tidak mempermasalahkan] tatkala seorang arab badui berhasil mengalahkan beliau [dalam hal pacuan itu, pent]. Di dalamnya juga terkandung pelajaran dibolehkannya mengadakan musaabaqah/perlombaan.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi, Juz 12 hal. 349]

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata:

Dunia akan mencari orang yang berusaha lari meninggalkannya. Apabila dunia berhasil meraihnya niscaya ia akan melukainya. Dan seandainya pencari dunia berhasil meraihnya [dunia] niscaya dunia akan membinasakan dirinya.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 338]

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata:

Katakanlah kepada orang yang suka mengejar-ngejar dunia: “Bersiaplah kamu untuk merasakan kehinaan.”

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 339]

‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang merasa cukup [qona’ah] dengan apa yang dibagikan Allah untuknya maka dia adalah orang yang paling berkecukupan.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 662]

Ibnu Mubarak rahimahullah berkata:

Dahulu kami mencari ilmu untuk dunia maka ilmu justru menunjukkan kepada kami untuk meninggalkan dunia.

[lihat Min A’lam as-Salaf [2/30]]

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.

[lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 28]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

Tidaklah dunia dilapangkan untuk seseorang kecuali akan memperpedaya, dan tidaklah ia dilipat [disempitkan] dari seseorang melainkan sebagai cobaan/ujian.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 341]

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu berkata:

Kami diuji dengan kesulitan maka kami pun bisa bersabar, akan tetapi tatkala kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bisa bersabar.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 342]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:

Sesungguhnya dunia ini memiliki ajal sebagaimana anak Adam memiliki ajal. Jika telah datang ajalnya maka matilah dunia.

[lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 341]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Diantara ciri kebahagiaan dan keberuntungan ialah apabila seorang hamba semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula tawadhu’ dan sifat kasih sayangnya. Semakin bertambah amalnya semakin meningkat pula rasa takut dan kehati-hatian dirinya. Semakin bertambah umurnya semakin berkuranglah ambisinya. Semakin bertambah hartanya semakin bertambah pula kedermawanan dan kegemarannya untuk membantu. Semakin bertambah kedudukannya semakin dekatlah dia dengan orang-orang dan semakin suka menunaikan kebutuhan-kebutuhan mereka serta rendah hati kepada mereka.

Diantara ciri kebinasaan adalah bahwa semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakan dirinya. Semakin bertambah amalnya semakin bertambah pula keangkuhan dan suka meremehkan orang lain, sementara dia selalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin meningkat kedudukan dan statusnya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakan dirinya. Perkara-perkara ini semua adalah cobaan dan ujian dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya; sehingga akan ada sebagian orang yang berbahagia dan sebagian yang lain menjadi binasa karenanya.

[lihat al-Fawa’id tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun, hal. 277]

Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata:

Seorang [periwayat] tidak akan sempurna kecuali apabila dia mencatat dari orang yang di atasnya, orang yang sejajar dengan dirinya, dan orang yang berada di bawah kedudukannya.

[lihat Min A’lam as-Salaf [2/66]]

Abdullah bin Mubarak rahimahullah menceritakan:

Ada seseorang yang berkata kepada Hamdun bin Ahmad, “Mengapa ucapan salaf itu lebih bermanfaat daripada ucapan kita?”. Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan demi menggapai ridha ar-Rahman. Adapun kita hanya berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan membuat ridha makhluk.”

[lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 14]

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.

[lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: