//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 54]

th (2)

Sabar dan Syukur

[561] Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku menunaikan syukur itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan/musibah sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)

Hakikat Syukur

[562] Abu Abdillah ar-Razi rahimahullah berkata: Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya diantara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat/kedurhakaan kepada-Nya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)

[563] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui/menyadari bahwa nikmat itu berasal dari Allah ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya untuk melihat; Bagaimana dia bersyukur? Bagaimana dirinya bersabar?” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)

Kenikmatan dan Bencana

[564] Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘azza  wa jalla maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 888)

Musibah dan Nikmat

[565] Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata, “Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa pada saat melakukan ketaatan kepada Allah itu jauh lebih baik daripada nikmat yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 164)

Cobaan

[566] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rizkinya; maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘azza wa jalla cabut sebagian dari rizkinya; ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 172)

Keagungan Hak Allah

[567] Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung sehingga para hamba tidak akan bisa menunaikan hak-hak Allah itu secara sepenuhnya. Sebab, nikmat-nikmat dari-Nya amat besar sehingga terlalu banyak untuk bisa dihingga/dihitung. Meskipun demikian, mereka selalu berusaha untuk menjadi orang-orang yang patuh di pagi hari dan menjadi orang-orang yang selalu bertaubat di sore hari.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari oleh Ibnu Baththal, Juz 3 hal. 122)

Orang Yang Pandai Bersyukur

[568] al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui limpahan nikmat -dari Allah- dan berusaha menunaikan pengabdian [kepada-Nya]. Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya maka dia disebut sebagai syakuur/orang yang pandai bersyukur. Dari sanalah, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan (yang artinya), “Betapa sedikit diantara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (lihat Fath al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi Juz 3 hal. 20)

Lakukan Apa Yang Anda Mampu

[569] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Perkara yang disyari’atkan bagi setiap orang adalah hendaknya dia melakukan apa-apa yang mampu dia kerjakan diantara kebaikan yang ada. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah sekuat kemampuan kalian.” Oleh sebab itu apabila berbagai cabang keimanan itu berdesakan/berbenturan maka semestinya didahulukan hal-hal yang lebih dicintai Allah dan paling mampu untuk dikerjakan olehnya. Bisa jadi amalan yang mafdhul [kurang utama] jauh lebih mampu untuk dilakukannya daripada amalan [lain] yang fadhil/lebih utama.” (lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 199)

Antara Dzikir dan Membaca al-Qur’an

[570] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak diantara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan dzikir pada masa-masa permulaan daripada membaca [ilmu]. Karena dzikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan al-Qur’an memberikan pasokan ilmu; namun terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu; dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan [para ulama].” (lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: