//
you're reading...
Telaah

Kembali Belajar Tauhid

images

Seluruh Syari’at Menyepakati Tauhid

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya sekelompok ulama besar Islam meriwayatkan bahwasanya seluruh syari’at bersepakat dalam penetapan tauhid dengan sekian banyak jumlah rasul yang diutus dan sekian banyak kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi.

Ibnu Hibban dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad hasan dari hadits Abu Dzar yang isinya, “Jumlah nabi-nabi ada seratus dua puluh empat ribu orang, sedangkan kitab suci yang diturunkan adalah sejumlah seratus empat kitab.”

Kemudian beliau menegaskan, “Oleh sebab itu tauhid ini adalah agama alam semesta [umat manusia] dari sejak yang pertama hingga yang terakhir, yang terdahulu hingga yang paling belakangan…” (lihat Irsyad ats-Tsiqat ila Ittifaqi asy-Syara’i’ ‘ala at-Tauhid wa al-Ma’aad wa an-Nubuwwaat, hal. 5) 

Keutamaan Kalimat Tauhid

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kalimat Laa Ilaha Illallah adalah kalimat yang agung meski ringan diucapkan dengan lisan. Namun ia memiliki bobot yang amat besar di atas timbangan [amal]. Karena pada hakikatnya kalimat ini merupakan kandungan agama Islam. Akan tetapi kalimat ini bukanlah semata-mata ucapan. Ia memiliki makna dan konsekuensi. Ia memiliki rukun dan syarat-syarat. Yang semua itu harus dimengerti…” (lihat Syarh Tafsir Kalimat at-Tauhid, hal. 5) 

Kalimat tauhid ini pula yang mengawali sebuah ayat paling agung di dalam al-Qur’an, yaitu ayat Kursi. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abul Mundzir! Tahukah kamu ayat manakah diantara ayat-ayat Kitabullah yang paling agung?”. Aku menjawab, “Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum.” Ubay berkata: Kemudian beliau pun menepuk dadaku seraya berkata, “Demi Allah, ilmu benar-benar akan membuatmu bahagia wahai Abul Mundzir.” (lihat Ayat al-Kursi wa Barahin at-Tauhid, karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 4) 

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Ya! Sungguh pendapat yang disampaikan oleh Ubay radhiyallahu’anhu dalam memilih ayat ini merupakan pendapat yang sangat jeli dan cermat. Hal itu sekaligus menunjukkan betapa agungnya kedudukan tauhid dalam hati para sahabat…” (lihat Ayat al-Kursi wa Barahin at-Tauhid, hal. 7)

Kalimat tauhid inilah nikmat terbesar dan anugerah terindah bagi seorang hamba di dalam hidupnya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan, “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba diantara hamba-hamba-Nya dengan suatu kenikmatan yang lebih besar daripada tatkala Allah perkenalkan mereka dengan laa ilaha illallah.” (lihat Ayat al-Kursi wa Barahin at-Tauhid, hal. 23)

Hamba Allah Yang Sejati

Allah ta’ala berfirman menceritakan ucapan Ibrahim ‘alaihis salam kepada ayahnya (yang artinya), “Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu kepada ar-Rahman adalah senantiasa durhaka.” (QS. Maryam: 44)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Maka barangsiapa yang tidak merealisasikan ubudiyah/penghambaan kepada ar-Rahman dan benar-benar patuh kepada-Nya itu artinya dia telah beribadah kepada setan yaitu dengan bentuk ketaatan kepadanya. Dan tidaklah bisa bersih dan terbebas dari penghambaan kepada setan kecuali orang-orang yang mengikhlaskan ubudiyahnya kepada ar-Rahman. Mereka itulah yang Allah sebutkan tentangnya (yang artinya), “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku itu, tiada kekuasaan atasmu untuk mencelakakan mereka.” (QS. Al-Hijr: 42).

Kemudian Imam Ibnu Rajab menjelaskan, “Mereka itulah orang-orang yang merealisasikan ucapan laa ilaaha illallah dengan sebenarnya, ikhlas dalam mengucapkannya, perbuatan mereka pun mencerminkan apa yang mereka ucapkan, sehingga mereka tidak berpaling dan memuja kepada selain Allah, apakah dalam bentuk kecintaan, harapan, takut, ketaatan, maupun tawakal. Mereka itulah orang-orang yang jujur dalam mengucapkan laa ilaha illallah, dan mereka itulah para hamba Allah yang sejati.” (lihat Kitab at-Tauhid, Risalah Kalimat al-Ikhlash, hal. 57)

Jadikan Tauhid Sebagai Prioritas Utama

Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata, “… sesungguhnya memperhatikan perkara tauhid adalah prioritas yang paling utama dan kewajiban yang paling wajib. Sementara meninggalkan dan berpaling darinya atau berpaling dari mempelajarinya merupakan bencana terbesar yang melanda. Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap hamba untuk mempelajarinya dan mempelajari hal-hal yang membatalkan, meniadakan atau menguranginya, demikian pula wajib baginya untuk mempelajari perkara apa saja yang bisa merusak/menodainya.” (lihat asy-Syarh al-Mujaz, hal. 8)

Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagiamana yang dialami penduduk Madyan -kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam– atau masalah mereka dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya umat para nabi terdahulu itu -pada umumnya- tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka… Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah memaparkan, “Pada masa kita sekarang ini, apabila seorang muslim mengajak saudaranya kepada akhlak, kejujuran dan amanah niscaya dia tidak akan menjumpai orang yang memprotesnya. Namun, apabila dia bangkit mengajak kepada tauhid yang didakwahkan oleh para rasul yaitu untuk berdoa kepada Allah semata dan tidak boleh meminta kepada selain-Nya apakah itu para nabi maupun para wali yang notabene adalah hamba-hamba Allah [bukan sesembahan, pent] maka orang-orang pun bangkit menentangnya dan menuduh dirinya dengan berbagai tuduhan dusta. Mereka pun menjulukinya dengan sebutan ‘Wahabi’! agar orang-orang berpaling dari dakwahnya. Apabila mereka mendatangkan kepada kaum itu ayat yang mengandung [ajaran] tauhid muncullah komentar, ‘Ini adalah ayat Wahabi’!! Kemudian apabila mereka membawakan hadits, ‘..Apabila kamu minta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.’ sebagian orang itu pun mengatakan, ‘Ini adalah haditsnya Wahabi’!…” (lihat Da’watu asy-Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab, hal. 12-13) 

Apabila memelihara kesehatan tubuh adalah dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan obat-obatan, maka sesungguhnya memelihara tauhid adalah dengan ilmu dan dakwah. Sementara tidak ada suatu ilmu yang bisa memelihara tauhid seperti halnya ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula tidak ada suatu dakwah yang bisa menyingkap syirik dengan jelas sebagaimana dakwah yang mengikuti metode keduanya [al-Kitab dan as-Sunnah, pent] (lihat asy-Syirk fi al-Qadiim wa al-Hadiits, hal. 6)

Imam Bukhari rahimahullah memulai kitab Sahih-nya dengan Kitab Bad’il Wahyi [permulaan turunnya wahyu]. Kemudian setelah itu beliau ikuti dengan Kitab al-Iman. Kemudian yang ketiga adalah Kitab al-‘Ilmi. Hal ini dalam rangka mengingatkan, bahwasanya kewajiban yang paling pertama bagi setiap insan adalah beriman [baca: beraqidah yang benar/bertauhid]. Sementara sarana untuk menuju hal itu adalah ilmu. Kemudian, yang menjadi sumber/rujukan iman dan ilmu adalah wahyu [yaitu al-Kitab dan as-Sunnah] (lihat dalam mukadimah tahqiq kitab ‘Aqidah Salaf wa Ash-habul Hadits, hal. 6) 

Tidak Cukup Dengan Ucapan Lisan

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengingatkan, “Bukanlah yang dikehendaki adalah dengan mengucapkan kalimat itu secara lisan namun tidak mengerti/bodoh tentang kandungannya.”

Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Jadi, bukanlah yang dimaksudkan itu hanya sekedar mengucapkan laa ilaha illallah dengan lisan tanpa disertai pemahaman terhadap maknanya. Sehingga anda harus mempelajari apa kandungan makna dari laa ilaha illallah. Adapun apabila anda mengatakannya sementara anda tidak mengerti artinya, maka anda tidak bisa meyakini kandungan yang terdapat di dalamnya. Sebab, bagaimana mungkin anda meyakini sesuatu yang anda tidak mengetahuinya. Oleh sebab itu anda harus mengerti maknanya sehingga anda bisa meyakininya…” (lihat Syarh Tafsir Kalimat at-Tauhid, hal. 10-11)

Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah, “Bukankah laa ilaha illallah adalah kunci surga?”. Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi tidaklah suatu kunci melainkan memiliki gerigi-gerigi. Apabila kamu datang dengan membawa kunci yang memiliki gerigi-gerigi itu maka dibukakanlah [surga] untukmu. Jika tidak, maka ia tidak akan dibukakan untukmu.” (lihat Kitab at-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha, hal. 40)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: