//
you're reading...
Telaah

Mutiara Faidah al-Qur’an al-Karim [Bagian 1]

hqdefault

Diterjemahkan dari: Ahkam min al-Qur’an al-Karim
Asal: Ceramah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah

Mukadimah

Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Aku memanjatkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, penutup para nabi dan pemimpin kaum yang bertakwa, demikian juga kepada segenap pengikut dan para sahabatnya.

Amma ba’du.

Kita akan mengawali kitab ini [pada asalnya ini adalah program siaran radio, pent] yaitu Ahkam min al-Qur’an al-Karim; untaian pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an. Sembari berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga ia menjadi amalan yang diberkahi, memberikan manfaat bagi kami dan bagi saudara-saudara kami sesama kaum muslimin.

Yang dimaksud dengan ahkam/hukum-hukum al-Qur’an al-‘Azhim adalah kandungan pelajaran diniyah dan duniawiyah yang tercakup di dalam ayat-ayat yang mulia. Baik faidah yang berkaitan dengan pembinaan pribadi maupun kemasyarakatan.

Dan tidaklah diragukan bahwasanya setiap ayat di dalam Kitabullah mengandung faidah-faidah agung yang bisa diketahui oleh seorang insan sesuai dengan kadar ilmu dan pemahaman yang dia miliki. Tidaklah diragukan pula, bahwasanya setiap insan akan mendapatkan anugerah ilmu sesuai dengan kadar iman dan petunjuk serta ketakwaan yang ada pada dirinya masing-masing.

Sebagaimana telah difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Dan Allah akan menambahkan hidayah kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.” (QS. Maryam: 76).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk, maka Allah tambahkan kepada mereka hidayah dan Allah berikan kepada mereka ketakwaan.” (QS. Muhammad: 17).

Allah ta’ala pun berfirman (yang artinya), “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka [orang munafik] ada yang berkata; ‘Siapakah diantara kalian yang semakin menambah keimanan dengan turunnya ayat ini?’ Adapun orang-orang beriman, maka hal itu semakin menambah keimanan mereka sementara mereka pun merasa bergembira.” (QS. At-Taubah: 124)

Setiap kali seorang insan semakin menambah perhatian kepada al-Qur’an al-Karim, semakin kuat imannya terhadap al-Qur’an, semakin dalam cintanya kepada al-Qur’an, dan semakin cermat dalam men-tadabburi ayat-ayatnya maka niscaya dia akan semakin bertambah dalam pula pemahamannya terhadap al-Qur’an.

Selain, itu -dengan sebab-sebab di atas- maka dia pun akan semakin bisa mengerti berbagai kandungan pelajaran yang agung serta hukum-hukum dengan pemahaman yang lebih luas dan mendalam. Oleh karena itulah, aku sungguh menganjurkan dan mendorong kepada segenap saudaraku kaum muslimin untuk men-tadabburi Kitabullah ‘azza wa jalla dan berusaha untuk menggali makna-makna yang tersimpan di dalamnya.

Dan hendaknya mereka merujuk kepada para ulama dalam hal-hal yang tidak mereka mengerti di dalamnya, agar mereka bisa menjelaskan kepadanya tentang hal itu. Namun, apabila hal itu sulit atau tidak mudah bagi mereka -untuk bertemu para ulama- hendaklah dia merujuk kepada buku-buku tafsir yang terpercaya semacam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, Tafsir karya guru kami Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir asy-Syaukani, dan kitab-kitab lain yang merupakan kitab tafsir yang telah dikenal dan terpercaya para penulisnya yang bisa diandalkan dalam hal ilmu dan agamanya. Karena sesungguhnya Allah subhananu wa ta’ala hanyalah menurunkan al-Qur’an untuk tujuan ini.

Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “[inilah] sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah. Agar mereka men-tadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang memiliki pikiran mau untuk mengambil pelajaran.” (QS. Shaad: 29)

Ini artinya, al-Qur’an al-Karim turun bukanlah semata-mata untuk dibaca lafal-lafalnya, yaitu ayat-ayatnya dibaca secara harfiyah. Akan tetapi ia diturunkan demi tujuan ini dan juga tujuan lain yang lebih sempurna dan lebih lengkap daripada itu yaitu supaya ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami kandungan makna-maknanya.

Kemudian, selain itu juga adalah dalam rangka mengambil pelajaran dan nasihat dari apa-apa yang tersimpan di dalamnya berupa kisah-kisah, berita-berita, petuah-petuah, dan hukum-hukum. Oleh sebab itu, menjadi kebiasaan para sahabat dahulu -semoga Allah meridhai mereka- adalah tidak melampaui sepuluh ayat al-Qur’an kecuali setelah mereka pelajari isinya yang berupa ilmu dan amalan. Sehingga, mereka mempelajari al-Qur’an, ilmu dan amalan sekaligus.

Sementara kebanyakan manusia di masa ini tidak perhatian dalam sisi ini. Maksud saya adalah dalam hal menyelami kandungan makna dan tadabbur terhadapnya. Sehingga mereka kurang perhatian dalam hal menyelami kandungan faidah dan hukum yang ada di dalam ayat-ayat, mereka tidak memperhatikan hal-hal ini dengan seksama.

Padahal, tidaklah diragukan bahwa hal ini merupakan suatu bentuk keteledoran dari dalam diri seorang insan, ini adalah bentuk kekurangseriusan dirinya terhadap al-Qur’an.

Di sisi lain, ada sebagian orang yang lancang dan nekad berbicara seputar tafsir al-Qur’an dalam hal-hal yang tidak dia mengerti ilmunya. Dengan perbuatannya itu dia telah bersaksi kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Sementara hal ini adalah perkara yang diharamkan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak maupun tersembunyi, dosa, tindakan pelanggaran/kejahatan tanpa hak, demikian pula apabila kalian mempersekutukan Allah dengan apa-apa yang jelas Allah tidak turunkan keterangan atasnya, serta tatkala kalian berbicara dengan mengatasnamakan Allah dalam hal-hal yang tidak kalin ketahui ilmunya.” (QS. Al-A’raaf: 33)

Setiap insan yang berbicara menafsirkan makna suatu ayat di dalam Kitabullah, maka itu artinya dia sedang bersaksi atas nama Allah ta’ala seraya mengatakan bahwa Allah menghendaki dengan ucapannya itu demikian dan demikian. Ini jelas suatu perkara yang mengundang resiko besar. Karena kelak dia akan ditanya tentang hal itu pada hari kiamat.

Akan ditanyakan kepadanya, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah berkehendak ini dan itu dengan firman-Nya?” Dan bisa jadi orang berkata tentang makna al-Qur’an semata-mata dengan landasan pendapat pikirannya belaka.

Sebagian orang, ada yang mengetahui bahwa al-Qur’an menunjukkan demikian dan demikian, akan tetapi karena dia telah memiliki keyakinan terdahulu dan pemahaman yang dia patuhi dan selalu dia jadikan panutan, dia pun lebih memilih taklid kepada orang yang dia percayai; anda dapati orang seperti itu akan berani menyelewengkan ayat-ayat dari maksud yang sebenarnya. Dia berani memelintir ayat-ayat dalam Kitabullah ‘azza wa jalla agar sesuai dengan apa yang dia yakini dan madzhab yang dia pegang.

Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim dan mukmin untuk selalu bertakwa dan merasa takut kepada Allah jalla wa ‘ala, ketika dia berbicara tentang makna suatu ayat di dalam Kalamullah. Hendaklah dia selalu berhati-hati, jangan sampai dia mengatakan kecuali sebatas apa yang dia ketahui bahwa memang demikianlah maksud dari ayat itu. Atau berdasarkan dugaan kuatnya, bahwa memang seperti itulah maksud yang dikehendaki di dalam ayat. Adapun apabila ia masih menyimpan keraguan, maka tidak boleh dia berbicara barang sedikit pun dalam hal itu.

Kita, dalam kitab ini, tidak akan membicarakan banyak tentang tafsir ayat-ayat ataupun berbagai sisi pemaknaannya berdasarkan bahasa, yang meliputi pembahasan sastra/balaghah ataupun i’rob/susunan kalimat dan lain sebagainya. Karena hal-hal ini -alhamdulillah- bisa ditemukan dengan mudah dalam buku-buku para ahli tafsir.

Hanya saja, dalam kesempatan ini saya akan lebih memperhatikan dari sisi penggalian faidah dan pelajaran dari ayat-ayat, dan menerangkan hal-hal yang butuh untuk dijelaskan, demikianlah cara yang secara umum saya tempuh. Selain itu, saya juga akan memaparkan faidah yang samar sisi pendalilan dan penunjukannya. Karena dengan menggali faidah dari ayat-ayat al-Qur’an al-Karim melalui cara semacam ini akan membuahkan ilmu yang banyak.

Karena itulah, suatu ketika ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu tatkala ditanya ‘Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pesan atau ajaran khusus kepada anda?’. Beliau menjawab, “Tidak, demi Allah yang menciptakan manusia dan pencipta biji-bijian, tidak ada hal semacam itu, kecuali sekedar pemahaman yang diberikan Allah ta’ala kepada beliau di dalam Kitab-Nya dan catatan yang ada di lembaran ini…” Yaitu catatan mengenai hukum pembebasan tawanan, dst.

Intinya, di sini, beliau mengucapkan ‘kecuali pemahaman yang diberikan Allah ta’ala kepada beliau di dalam Kitab-Nya’. Ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Kitabullah ‘azza wa jalla akan memberikan kebaikan yang melimpah dan ilmu yang sangat banyak. Akan tetapi semestinya pemahaman itu dilandasi dengan prinsip yang sebagaimana sudah kami isyaratkan sebelumnya.

Sebab manusia itu bisa dibagi menjadi empat kelompok. Ada diantara mereka yang punya ilmu namun tidak memiliki pemahaman [yang kuat]. Sebagian yang lain, memiliki pemahaman namun tidak memiliki ilmu/hafalan. Sebagian orang yang lain, ada yang memiliki ilmu dan pemahaman sekaligus. Sebagian yang lain lagi, tidak punya ilmu dan juga tidak punya pemahaman.

Adapun maksud dari kitab ini adalah dalam rangka menggali faidah-faidah dari Kitabullah ‘azza wa jalla. Agar dengan cara semacam itu bisa diperoleh kebaikan yang banyak. Kemudian, perlu untuk dimengerti bahwa sesungguhnya penunjukan suatu lafal/teks itu ada tiga macam; muthobaqah/makna apa adanya, tadhommun/kandungan makna yang tersimpan, dan iltizam/konsekuensi makna.

Penunjukan makna kepada segala hal yang tercakup di dalam suatu lafal/teks disebut dengan istilah dalalah/penunjukan secara muthobaqah. Adapun penunjukan makna kepada suatu perkara yang menjadi bagian atau unsur dari hal itu dinamakan dengan penunjukan secara tadhommun. Adapun penunjukan suatu makna terhadap perkara lain yang merupakan konsekuensi logis darinya disebut penunjukan secara iltizam.

Untuk memperjelas, kami akan memberikan contoh perkara yang abtsrak maupun perkara yang konkret. Adapun contoh yang bersifat abstrak, perhatikanlah salah satu nama Allah yaitu al-Khaliq; Sang Maha Pencipta. Anda bisa menarik kesimpulan dari nama ini, bahwa Allah memiliki sifat maha mencipta dan juga sekaligus menunjukkan keberadaan dzat al-Khaliq itu sendiri. Maka, penunjukan nama itu terhadap diri al-Khaliq dan sifatnya/mencipta ini disebut dengan istilah penunjukan secara muthobaqoh/apa adanya/keseluruhan.

Adapun apabila dari nama itu -al-Khaliq- kemudian diambil kesimpulan tentang keberadaan diri al-Khaliq saja, atau kepada sifat mencipta [hanya salah satu atau sebagian maknanya, pent] maka ini disebut sebagai penunjukan tadhommun/kandungan sebagian makna.

Namun, apabila dari nama itu -al-Khaliq- kemudian disimpulkan tentang sifat ilmu dan qudrah/kemampuan yang ada pada diri Allah [karena Allah bisa mencipta berati Allah memiliki ilmu dan kemampuan, pent], maka ini dinamakan sebagai penunjukan secara iltizam/konsekuensi logis dari suatu makna. Karena untuk bisa mencipta harus ada ilmu dan juga kemampuan untuk mewujudkan hal itu. Seseorang yang tidak berilmu tentu tidak akan bisa menciptakan sesuatu, sebagaimana orang yang tidak mampu [tidak punya qudrah] juga tidak akan sanggup menciptakan apa-apa.

Adapun contoh dalam perkara yang bersifat konkret, misalnya kita katakan, “Ini adalah rumah.” Kata ‘rumah’ menunjukkan kepada seluruh bagian rumah. Kata ini menunjukkan kepada segala sesuatu yang tercakup dan terlingkupi di dalam dinding rumah. Inilah yang disebut dengan dalalah muthobaqoh/penunjukan secara apa adanya/keseluruhan makna.

Adapun tatkala disimpulkan dari kata ‘rumah’ ini tentang keberadaan kamar yang pertama, kamar kedua, ketiga, keempat, halaman, ruang tamu, dan ruang tengah. Maka ini dinamakan sebagai penunjukan makna secara tadhimmun/kandungan makna.

Kemudian, apabila ditafsirkan dari kata ‘rumah’ ini bahwa di sana ada orang yang membangunnya maka ini disebut dengan istilah penunjukan makna secara iltizam/konsekuensi makna.

Nah, ketiga macam dalalah/penunjukan makna kalimat ini apabila diterapkan dengan baik oleh seorang insan maka dia akan mendapatkan banyak pelajaran dan faidah. Oleh sebab itu, anda bisa jumpai apabila sebagian ahli ilmu membahas tentang makna suatu ayat atau hadits untuk mengambil kandungan hukum darinya, maka dia bisa mengeluarkan sedemikian banyak ilmu dan faidah. Hal itu karena ia menggunakan ketiga macam metode penunjukan makna ini.

Diantara manusia, ada juga yang pendek atau masih dangkal pemahamannya dalam hal itu, sehingga dia tidak mampu menggali kecuali sebatas beberapa faidah yang sedikit saja. Maka, kami memohon taufik kepada Allah agar bisa berkhidmat untuk Kitab-Nya, semoga Allah memberikan kepahaman kepada kita dalam memetik kandungan makna, dan menggali faidah-faidah yang tersimpan di dalamnya. Mudah-mudahan amalan ini bisa mendatangkan kemanfaatan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.

Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

[Sumber: Ahkam min al-Qur’an al-Karim, penerbit Dar Thawiq, hal. 5-10]

Bagi yang ingin mengunduh rekaman ceramah asli beliau [berbahasa arab] silahkan membuka link berikut ini:

Silahkan download dari [sini]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: