//
you're reading...
Informasi, Kitab Ulama

Mengenal Kitab Ulama, Tsalatsah al-Ushul

Bismillah.

Berikut ini kami tampilkan bagian awal dari sebuah kitab atau risalah yang sangat populer dalam ilmu tauhid. Yaitu kitab Tsalatsatu al-Ushul yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

ushul3x

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwasanya wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara :

Pertama, ilmu. Yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalil.

Kedua, beramal dengannya.

Ketiga, berdakwah kepadanya.

Keempat, bersabar dalam menghadapi gangguan di atasnya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

as-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata, ”Seandainya Allah tidak menurunkan kepada segenap makhluk hujjah selain surat ini niscaya surat ini cukup bagi mereka.”

[lihat al-Ushul ats-Tsalatsah wa al-Qawa’id al-Arba’ah, hal. 6-7]

Sekelumit Faidah :

Diantara faidah yang bisa kita petik dari mukadimah ini adalah memulai tulisan dengan basmalah. Hal ini merupakan perkara yang dianjurkan. Dasarnya adalah hadits-hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai surat dakwah atau dokumen perjanjian yang beliau buat dengan basmalah.

Adapun hadits yang bunyinya, “Setiap perkara yang penting dan tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanirrahim’ maka ia terputus.” Hadits ini dinyatakan dha’if jiddan [lemah sekali] oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil [lihat al-Irwa’, Juz 1 hal. 29 penerbit al-Maktab al-Islami, cetakan I, 1399 H/1979 M]

Faidah lainnya, di dalam bagian awal tulisan beliau, terkandung doa bagi orang yang membaca atau mendengarkan kitabnya dibacakan, yaitu agar mereka mendapat limpahan rahmat dari Allah. Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah menerangkan, bahwa makna doa itu adalah ‘semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu, memberikan taufik, dan menjagamu di masa depan’ [lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 9]

Apa yang dilakukan oleh beliau ini -yaitu mengawali tulisan dengan doa bagi pembaca- juga telah didahului oleh ulama terdahulu, yaitu al-Imam Muslim rahimahullah sebagaimana bisa kita baca dalam mukadimah Shahih-nya [Shahih Muslim].

Beliau berkata setelah mengucapkan hamdalah dan shalawat, “Amma ba’du. Sesungguhnya engkau -semoga Allah merahmatimu- dengan taufik dari Penciptamu, engkau menceritakan bahwa engkau berkeinginan sekali untuk mengkaji lebih dalam mengenai sejumlah riwayat-riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama…” [lihat dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi Juz 1 hal. 45]

Doa semacam ini -yang diucapkan oleh guru kepada muridnya- merupakan cerminan rasa kasih sayang di dalam hatinya. Rasa kasih sayang dari seorang pengajar kepada orang yang belajar. Jalinan kasih sayang itulah yang menyatukan mereka di atas jalan ilmu.

Syaikh Shalih alusy Syaikh hafizhahullah berkata, “Hal itu dikarenakan landasan daripada kegiatan belajar mengajar antara pengajar dengan pelajar adalah dibangun di atas sikap saling menyayangi, dan masing-masing pihak berhak mendapatkan curahan kasih sayang sesuai dengan kedudukannya.” [lihat Syarh Kitab Tsalatsah al-Ushul, hal. 4]

Ada sebuah faidah penting. Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda rahmat/sifat kasih sayang yang ada pada hati seorang hamba ialah tatkala dia menjadi orang yang mencintai apabila kebaikan tersampaikan kepada segenap makhluk secara umum dan secara khusus [lebih utama lagi] yaitu bagi kaum beriman. Dan dia tidak senang apabila terjadi kemudhorotan atas mereka. Sebanding dengan kadar kecintaan dan kebencian inilah kadar sifat rahmat yang ada pada dirinya.” [lihat Bahjah Qulub al-Abrar, hal. 223-224]

Hal ini, mengingatkan kita akan betapa besar jasa dan perjuangan para ulama rabbani di atas muka bumi. Karena begitu besar rasa kasih sayang mereka kepada sesama, sehingga berbagai jalan mereka tempuh demi menyampaikan risalah Islam yang telah diwariskan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak heran, apabila Imam Ahlus Sunnah, Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah memuji Allah atas kehadiran ulama dan peran mereka bagi keselamatan hidup umat manusia.

Imam Ahmad berkata, “Segala puji bagi Allah, yang telah membangkitkan di setiap masa setelah ketiadaan para rasul, sisa-sisa para ulama. Mereka mengajak orang yang tersesat kepada hidayah. Mereka pun bersabar menghadapi gangguan yang menimpanya. Mereka hidupkan dengan Kitabullah orang-orang yang telah mati [jiwanya]. Mereka berikan pencerahan dengan cahaya Allah kepada orang-orang yang buta [mata hatinya]. Sungguh, betapa banyak korban yang telah berhasil ‘dibunuh’ Iblis kemudian mereka ‘hidupkan’ kembali. Betapa banyak orang yang sesat dan kebingungan kemudian mereka berikan bimbingan. Sungguh indah jasa mereka kepada manusia, namun betapa buruk balasan manusia kepada mereka.” [lihat ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah, hal. 55]

Oleh sebab itu, tidak heran jika al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Kalau bukan karena keberadaan para ulama niscaya keadaan umat manusia tidak ada bedanya dengan binatang.” [lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15]

Dari sinilah -saudaraku sekalian- semoga Allah tambahkan hidayah-Nya kepada kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus belajar dan belajar, menimba ilmu agama. Meniti jejak para ulama kita. Karena dengan cara inilah, seorang hamba akan menemukan jalan kembali kepada Rabbnya. Jalan yang akan menuntun ke surga. Dengan bekal keikhlasan, kesabaran, dan kesungguh-sungguhan. Lihatlah para ulama kita, betapa banyak kesulitan dan rintangan yang mereka hadapi di jalan ilmu, namun mereka tetap bersabar di atasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya dia akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kami teringat sebuah ungkapan menarik, “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Semoga faidah yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: