//
you're reading...
Download, Nasehat

Dimanakah Keikhlasan?

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan bagi-Nya agama, mengikuti ajaran yang hanif.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa ‘Tidak ada sesembahan -yang haq- kecuali Aku. Oleh sebab itu sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiyaa’: 25)

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul, untuk menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

kapal-layar

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, di dalam ketiga ayat di atas Allah menyebutkan perintah yang sangat agung yaitu ibadah. Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.” (lihat Ahkam min al-Qur’an, hal. 22)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan kandungan ayat dalam surat al-Bayyinah di atas, “Tidaklah mereka -ahli kitab- diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah, yaitu agar mereka menjadi orang-orang yang bertauhid.” (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 1426)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan kandungan makna dari ‘mengikhlaskan kepada-Nya agama’. Beliau berkata, “Yaitu supaya mereka bertauhid, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.” Adapun ‘mengikuti ajaran yang hanif’ maksudnya adalah “di atas ajaran agama Ibrahim” (lihat Zaadul Masiir, hal. 1576)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Makna dari ‘mengikhlaskan bagi-Nya agama’ adalah supaya mereka menujukan segala ibadah mereka -yang lahir maupun yang batin- semata-mata untuk mengharap wajah Allah dan mencari kedekatan di sisi-Nya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 932)

Oleh sebab itu, Allah ta’ala berfirman di dalam ayat yang lain,

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab ini dengan [membawa] kebenaran. Oleh sebab itu, sembahlah Allah dengan ikhlas/memurnikan kepada-Nya seluruh agama [amal].” (QS. az-Zumar: 2)

Allah ta’ala juga berfirman memperjelas tentang hakikat ikhlas,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110)

Allah ta’ala berfirman menceritakan amal yang sia-sia,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka lakukan, lantas Kami jadikan itu semua bagaikan debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menafsirkan, “Yang dimaksud adalah amal-amal yang tidak berada di atas Sunnah, atau amal-amal yang dikerjakan untuk mencari selain wajah Allah.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir, Jilid 6 hal. 423)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menerangkan, “Beliau -Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka; seorang yang pandai membaca/menghafal al-Qur’an, seorang mujahid, dan seorang yang rajin bersedekah dengan hartanya. Orang-orang tersebut melakukan itu semuanya demi mendapatkan sanjungan; si fulan qori’, si fulan pemberani, si fulan ahli sedekah, akan tetapi ternyata amal-amal mereka itu tidak ikhlas karena Allah.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir, Jilid 6 hal. 424)

Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata, “Adalah dahulu para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpandangan bahwasanya dosa tidaklah membahayakan selama masih ada keikhlasan sebagaimana halnya tidak berguna amal salih apabila disertai dengan syirik. Maka Allah ‘azza wa jalla pun menurunkan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kalian menghapuskan amal-amal kalian.” (QS. Muhammad: 33)

Setelah itu, mereka pun merasa takut apabila dosa-dosa besar itu juga menyebabkan amal-amal menjadi terhapus/tidak bernilai.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 1 hal. 215)

Qatadah rahimahullah menafsirkan maksud ayat di atas, “Barangsiapa diantara kalian yang sanggup untuk tidak menghapuskan amal salih yang dilakukannya dengan amal yang buruk, hendaklah dia lakukan hal itu. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Karena sesungguhnya kebaikan itu menghapus kejelekan, sebagaimana kejelekan juga menghapus kebaikan. Dan sesungguhnya yang menjadi penentu atas seluruh amal adalah penutupnya.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 1 hal. 215)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Firman-Nya (yang artinya), ‘Janganlah kalian membatalkan/menghapuskan amal-amal kalian.’ hal ini mencakup larangan dari membatalkannya setelah dia melakukannya, yaitu dengan perkara-perkara yang merusaknya semacam mengungkit-ungkit -pemberian- atau merasa ujub, berbangga-bangga/congkak, dan sum’ah/mencari popularitas. Demikian juga termasuk di dalamnya -pembatal amalan- adalah perbuatan maksiat yang menyebabkan amal-amal menjadi sia-sia/tidak lagi bernilai dan menghapuskan pahalanya. Selain itu, ayat ini juga mengandung larangan dari merusaknya ketika dia sedang melakukan amalan itu yaitu dengan memutusnya atau sengaja melakukan salah satu sebab yang menyebabkan batalnya amalan.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 789)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sikap pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83 cet. al-Maktab al-Islami)

Wallahu a’lam bish shawaab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Download makalah [versi pdf] dari [sini]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: