//
you're reading...
Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 1]

oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini, kami sajikan kepada segenap pembaca seri pelajaran Tafsir al-Qur’an dengan membahas Tafsir Surat al-Fatihah dengan rujukan utama Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah. Semoga bermanfaat.

images

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata :

Tafsir al-Fatihah, Surat ini Turun Di Mekkah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam”

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai pada hari pembalasan”

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka,”

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai, bukan pula yang sesat.”

Tafsir Basmalah *

[* Sub judul ini dan seterusnya adalah tambahan dari penerjemah]

[Bismillah] artinya adalah aku memulai dengan segala nama Allah ta’ala. Karena kata ismi [nama] berada dalam bentuk mufrod [kata tunggal] yang disandarkan [mudhaf]. Oleh sebab itu ia memberikan keumuman cakupan makna meliputi seluruh asma’ul husna.

Kata [Allah] maknanya adalah yang dipertuhankan dan diibadahi. Dzat yang berhak untuk diesakan dalam hal ibadah. Karena hanya Allah lah yang memiliki sifat-sifat uluhiyah/ketuhanan. Sifat-sifat itu merupakan sifat kesempurnaan.

ar-Rahman ar-Rahim [Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang] ini adalah dua buah nama yang menunjukkan bahwa Allah ta’ala memiliki rahmat yang sangat luas dan agung yang meliputi segala sesuatu dan mencakup semua makhluk hidup.

Allah menetapkan rahmat-Nya itu bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa yaitu yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan rahmat secara mutlak. Adapun selain mereka hanya mendapatkan sebagian [kecil] darinya.

Faidah Ilmu Aqidah

Ketahuilah, bahwasanya salah satu kaidah yang telah disepakati oleh para pendahulu umat ini beserta para imamnya, yaitu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, demikian pula wajib mengimani hukum-hukum yang terkandung di dalam sifat-sifat itu.

Misalnya, mereka mengimani bahwa Allah Maha Rahman dan Rahim; artinya Allah memiliki sifat rahmat/kasih sayang yang melekat pada diri-Nya. Sifat rahmat yang juga melekat atau berkaitan dengan makhluk yang dirahmati. Itu artinya, segala nikmat merupakan bukti dan pengaruh dari sifat rahmat-Nya. Maka demikian pula cara kita mengimani seluruh nama-nama Allah yang lainnya.

Nama Allah al-‘Aliim [Maha Mengetahui], maka tafsirannya adalah bahwa Allah itu Maha mengetahui, Allah memiliki ilmu/pengetahuan. Dengan ilmu-Nya itu Allah bisa mengetahui segala sesuatu. Contoh lainnya, Allah itu Qadiir [Maha Berkuasa/Mampu], artinya Allah mempunyai qudrah/kemampuan, sehingga Dia mampu melakukan segala sesuatu.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Keterangan Tambahan

Dari keterangan Syaikh di atas, bisa kita simpulkan bahwa di dalam basmalah -yaitu ucapan bismillahirrahmanirrahim- terdapat tiga nama Allah yang wajib kita imani. Ketiga nama itu adalah ‘Allah’, ‘ar-Rahman’, dan ‘ar-Rahim’. Ketiga nama ini adalah bagian dari asma’ul husna. Adapun nama ‘Allah’, di dalamnya terkandung sifat uluhiyah/ketuhanan. Karena itulah Allah harus disembah, dan hanya Allah yang pantas untuk diibadahi.

Kemudian, nama ‘ar-Rahman’ di dalamnya terkandung sifat rahmat. Demikian juga sifat ini terkandung di dalam nama ‘ar-Rahim’. Karena akar kata dari kedua nama tersebut adalah sama, yaitu ‘rahmat’/kasih sayang.

Lantas, apa perbedaan antara ‘ar-Rahman’ dengan ‘ar-Rahim’?

Sebagaimana sudah diisyaratkan oleh Syaikh di atas, bahwa dari nama ar-Rahman kita bisa menyimpulkan bahwa rahmat Allah itu maha luas meliputi seluruh makhluk. Sebab dalam bahasa arab kata ‘rahmaan‘ mengikuti wazan/pola ‘fa’laan‘ yang menunjukkan makna ‘luas dan penuh dengan sesuatu‘. Sehingga makna dari ‘ar-Rahman’ ialah pemilik rahmat yang luas dan penuh dengan kasih sayang. Adapun nama ‘rahiim‘ mengikuti wazan/pola ‘fa’iil‘ yang bermakna ‘sangat’. Artinya, Allah ‘sangat penyayang’.

Di dalam keterangan di atas, Syaikh juga menegaskan bahwa rahmat Allah yang mutlak hanya diberikan kepada hamba-hamba yang bertakwa alias pengikut para nabi dan rasul. Inilah yang bisa kita sebut dengan rahmat yang istimewa atau khusus; yang hanya diberikan kepada sebagian hamba, tidak semuanya. Yaitu rahmat Allah bagi kaum beriman. Inilah yang terkandung dalam nama ‘ar-Rahiim’.

Oleh sebab itu sebagian ulama salaf menafsirkan, bahwa nama ‘ar-Rahman‘ maksudnya Allah adalah pemilik kasih sayang yang luas untuk segenap makhluk. Adapun nama ‘ar-Rahiim‘ ditafsirkan sebagai pemilik kaksih sayang yang khusus bagi kaum beriman. Demikianlah penafsiran Imam al-Khaththabi rahimahullah, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam Kitabnya Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsir [hal. 32]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Sebagian ulama menjelaskan, bahwa makna firman-Nya ‘dengan nama Allah’ [bismillah] adalah : aku memulai dengan pertolongan Allah, taufik dan keberkahan dari-Nya. Maka ini merupakan sebuah pengajaran dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Supaya mereka menyebut nama-Nya tatkala mengawali bacaan al-Qur’an maupun perkara selainnya. Sehingga permulaan urusan itu pun mendapatkan curahan berkah dari nama-Nya yang Maha Agung lagi Maha Mulia.” [lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 1 hal. 153]

Kandungan Nama ‘Allah’

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, bahwa ‘Allah’ merupakan nama bagi Rabb tabaraka wa ta’ala. Bahkan ada yang berpendapat bahwa nama ini adalah nama Allah yang paling agung atau ‘ismullah al-a’zham’. Karena seluruh sifat yang lain merupakan pensifatan bagi nama ini. Seperti misalnya dalam firman-Nya,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

(yang artinya), “Dia lah Allah, Yang tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- selain Dia. Yang mengetahui perkara gaib dan yang tampak… dst.” (QS. al-Hasyr: 22-24).

Di dalam ayat-ayat ini nama-nama Allah yang lain menjadi sifat bagi nama ini ‘yaitu Allah’

[lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Jilid 1 hal. 122]

Di dalam tafsirnya [Jilid 1 hal. 123] Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan, bahwa nama ‘Allah’ ini tidak boleh dipakai untuk menamai apa pun selain-Nya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Firman-Nya ‘Allah’ ini merupakan nama Allah yang paling besar dan paling mencakup. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan bahwa nama ini adalah nama Allah yang paling agung; ismullah al-a’zham. Dan tidak boleh memakai nama ini selain diri-Nya…” [lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 1 hal. 157]

Diantara keistimewaan nama ‘Allah’ ini sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah, “Bahwasanya nama ini adalah nama Allah yang paling banyak disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim. Nama ini telah disebutkan berulang kali di dalam al-Qur’an lebih dari dua ribu dua ratus kali. Hal semacam ini tidak terjadi pada nama selainnya. Bahkan Allah jalla wa ‘ala pun membuka tiga puluh tiga ayat dengan nama ini.” [lihat Fiqih al-Asma’ al-Husna, hal. 75]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan di dalam Tafsirnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwa makna dari nama ‘Allah’ adalah ‘pemilik uluhiyah/sifat ketuhanan dan ubudiyah/hak penghambaan atas seluruh makhluk-Nya‘. Demikian sebagaimana disebutkan Syaikh Abdurrazzaq dalam Fiqh al-Asma’ al-Husna [hal. 76]

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa di dalam nama ‘Allah’ telah terkandung penetapan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tidak boleh mempersekutukan siapa atau apapun dengan Allah dalam hal ibadah. Sehingga seluruh bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ini adalah kandungan yang pertama dari nama ‘Allah’ ini.

Kandungan kedua, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa nama ‘Allah’ bermakna yang dipertuhankan dan diibadahi. Padahal -lanjut beliau- tidak ada jalan bagi hamba untuk mengerti bagaimana cara beribadah kepada Allah kecuali melalui jalan para rasul. Dengan demikian, dari sini bisa kita simpulkan bahwa di dalam nama ‘Allah’ pun telah terkandung penetapan kerasulan; yaitu butuhnya umat manusia kepada para rasul dan dakwah serta ajaran mereka [lihat at-Tafsir al-Qayyim, hal. 8]

Kandungan Nama ‘ar-Rahman’ dan ‘ar-Rahim’

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa kedua nama ini menunjukkan kepada dzat Allah -keberadaan dzat-Nya-, penetapan sifat rahmat -pada diri-Nya- dan juga penetapan dampak atau konsekuensi dari sifat tersebut. Demikian sebagaimana beliau jelaskan dalam Tafsir al-Fatihah [lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 9]

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “ar-Rahman artinya adalah pemilik kasih sayang yang menyeluruh yaitu yang meliputi segenap makhluk, dalam hal jaminan rizki dan kemaslahatan hidup mereka; yang kasih sayang ini bersifat umum mencakup orang beriman maupun orang kafir. Adapun ar-Rahim, ini menunjukkan kasih sayang yang khusus bagi orang-orang beriman.” [lihat Zaadul Masiir, hal. 32 oleh Imam Ibnul Jauzi]

Rahmat Yang Bersifat Umum

Diantara rahmat Allah, ada yang bersifat umum atau luas mencakup siapa saja, tidak membedakan mukmin maupun kafir. Rahmat yang umum ini ditunjukkan oleh firman Allah yang menceritakan doa para malaikat

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

(yang artinya), “Wahai Rabb kami, maha luas ilmu dan rahmat-Mu mencakup segala sesuatu.” (QS. Ghafir: 7)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah rahmat yang bersifat umum yang meliputi semua makhluk. Bahkan orang kafir sekalipun. Karena di sini Allah mengiringkan antara rahmat dengan ilmu-Nya. Maka segala hal yang ilmu Allah sampai/bisa menjangkaunya -padahal ilmu Allah itu mencapai segala sesuatu- maka itu semua juga tersentuh oleh kasih sayang-Nya…” [lihat Syarh al-Wasithiyah, Jilid 1 hal. 249]

Ayat lain yang menunjukkan rahmat yang luas ini adalah firman Allah,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

(yang artinya),”Dan rahmat-Ku sangat luas mencakup segala sesuatu.” (QS. al-A’raaf: 156)

Akan tetapi, rahmat Allah bagi orang kafir sebatas dalam urusan fisik dan keduniaan semata dan amat sangat jauh berbeda dengan rahmat-Nya kepada kaum beriman. Rahmat Allah bagi orang kafir itu misalnya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pasangan hidup. Sementara rahmat yang Allah berikan kepada kaum beriman jauh lebih utama daripada itu semua, yaitu berupa bimbingan keimanan dan agama di samping rahmat dalam perkara-perkara dunia. Oleh sebab itu bisa kita jumpai bahwa keadaan orang mukmin itu jauh lebih baik daripada keadaan orang kafir, bahkan dalam urusan dunia sekalipun [lihat Syarh al-Wasithiyah, Jilid 1 hal. 249]

Allah ta’ala berfirman tentang kehidupan kaum beriman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

(yang artinya), “Barangsiapa yang beramal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Nahl: 97)

Rahmat Yang Bersifat Khusus

Diantara rahmat Allah, ada yang khusus hanya diberikan kepada orang-orang beriman. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

(yang artinya), “Dan adalah Dia [Allah] amat penyayang kepada orang-orang beriman.” (QS. al-Ahzab: 43)

Selain itu, terdapat juga ayat-ayat lain yang semakna. Misalnya, Allah ta’ala berfirman,

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

(yang artinya), “Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan penuh dengan keberkahan, maka ikutilah ia dan bertakwalah kalian, mudah-mudahan kalian mendapatkan curahan rahmat.” (QS. al-An’aam: 155)

Demikian juga firman-Nya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

(yang artinya), “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, mudah-mudahan kalian mendapatkan curahan rahmat.” (QS. an-Nuur: 56)

Demikian pula, firman Allah,

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

(yang artinya), “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan/kebaikan.” (QS. al-A’raaf: 56)

[lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 85]

[ Fan Page : Terjemah Kitab Salaf ] [ Twitter : santritauhid ]

Discussion

4 thoughts on “Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 1]

  1. Assalamu’alaykum Warohmatulohi Wabaarokatuh..

    Alhamdulillah..

    Maaf Saya yang bodoh dan agak kurang semangat dalam belajar, baru baca sebentar.. Bolehkah saya tahu cerita dahulu kapan surat tersebut turun? Dan dimana? Serta kenapa?
    Terima kasih atas perhatiannya..
    Wasallamu’alayku Warohmatullohi Wabaarokatuh.

    Posted by Djoko Nugroho | January 11, 2014, 8:25 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 1] « agus88 Mobile Blog - January 26, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: