//
you're reading...
Kalam Ulama, Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 56]

islam-crescent

Keutamaan Belajar Hadits

[581] Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Orang yang paling utama diantara kaum muslimin adalah seorang yang menghidupkan sunnah diantara sunnah-sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dimatikan. Maka bersabarlah kalian wahai para pengikut Sunnah -semoga Allah merahmati kalian- sesungguhnya kalian ini adalah orang yang paling sedikit.” (lihat al-Jami’ li Akhlaq ar-Raawi, Juz 1, hal. 112)

Belajar Di Masa Muda

[582] Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku menjumpai di Kufah empat ribu orang pemuda yang menimba ilmu.” (lihat al-Jami’ li Akhlaq ar-Raawi, Juz 1, hal. 113)

Satu Banding Seribu

[583] Syu’aib bin Harb rahimahullah berkata, “Dahulu kami yang menimba ilmu hadits sejumlah empat ribu orang. Ternyata tidaklah berhasil -menjadi ulama- diantara kami kecuali empat orang saja.” (lihat al-Jami’ li Akhlaq ar-Raawi, Juz 1, hal. 113)

Hidup dan Matinya Hati

[584] Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Bersama Nabi dan Para Sahabat

[585] Nu’aim bin Hammad rahimahullah menceritakan: Adalah Ibnul Mubarok sering duduk berlama-lama di rumahnya. Maka ada orang yang bertanya kepadanya, “Apakah anda tidak merasa kesepian?”. Beliau menjawab, “Bagaimana aku akan kesepian, sementara aku bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 470)

Menundukkan Hawa Nafsu

[586] as-Sari as-Saqathi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang mencapai kesempurnaan sampai dia lebih mengutamakan agamanya di atas syahwat/keinginan nafsunya. Dan tidaklah seorang itu akan binasa kecuali apabila dia telah lebih mengutamakan syahwatnya daripada agamanya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 472)

Salah Satu Tanda Riya’

[587] Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan banyak orang sesungguhnya dia telah memuji dirinya, dan hal itu adalah salah satu tanda riya’.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 543)

Riya’ Tanpa Modal

[588] al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu kami bertemu dengan orang-orang yang riya’ dengan ilmu yang mereka punyai. Namun sekarang, mereka telah berubah yaitu riya’ dengan ilmu yang tidak mereka miliki.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 567)

Taufik Dari Allah

[589] Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menimba ilmu untuk beramal maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa yang menimba ilmu bukan untuk beramal maka semakin banyak illmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 575-576)

Bahaya Riya’ dan Ujub

[590] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata kepada seseorang sembari menasihatinya, “Hati-hatilah kamu wahai saudaraku, dari riya’ dalam ucapan dan amalan. Sesungguhnya hal itu adalah syirik yang sebenarnya. Dan jauhilah ujub, karena sesungguhnya amal salih tidak akan terangkat dalam keadaan ia tercampuri ujub.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 578)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: