//
you're reading...
Kalam Ulama, Nasehat

Sekelumit Faedah Seputar Ilmu [Bagian 7]

13626975971364

[57] Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Kami mencari ilmu untuk dunia maka ilmu justru menunjukkan kepada kami untuk meninggalkan dunia.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/30])

[58] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang alim [ahli ilmu] orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan akan tetapi sesungguhnya orang yang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu berusaha menjauhinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/81])

[59] Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah mengisahkan: Dahulu aku mengajar suatu majelis setiap hari jum’at. Apabila orang yang datang banyak aku pun senang, dan apabila yang datang sedikit aku pun sedih. Aku menanyakan hal ini kepada Bisyr bin Manshur, dia menjawab, “Ini adalah majelis yang buruk, jangan kamu kembali kepadanya!” Setelah itu aku pun tidak lagi kembali ke majelis itu (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 12)

[60] Imam adz-Dzahabi menceritakan dari salah seorang yang hidup sezaman dengan Imam Atho’ bin Abi Robah rahimahullah. Orang itu mengatakan, “Aku telah melihat Atho’ -sedangkan dia adalah penduduk bumi yang paling diridhai manusia ketika itu- sementara tidak ada orang yang duduk hadir [belajar] dalam majelisnya kecuali sembilan atau delapan orang saja.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 12)

[61] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/84])

[62] Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Lantas lelaki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”. Ibnu Mas’ud menimpali perkataannya, “Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133]) 

[63] al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)

[64] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa yang rusak di antara ahli ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 36)

[65] Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya  ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa  kalian mengambil agama kalian.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: