//
you're reading...
Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 4]

13046.imgcache

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini kami sajikan penjelasan Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya Taisir al-Karim ar-Rahman mengenai hikmah dan faidah dari surat al-Fatihah.

Syaikh rahimahullah berkata :

Firman-Nya [yang artinya] ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ maknanya adalah; Kami mengkhususkan/membatasi ibadah hanya untuk-Mu semata demikian pula isti’anah/permintaan tolong. Karena didahulukannya objek dari kalimat ini -kepada-Mu- memberikan faidah pembatasan.

Makna pembatasan ini adalah menetapkan suatu hukum [ibadah] bagi pihak yang disebutkan [Allah] dan menafikannya dari selainnya. Seolah-olah hamba itu berkata; ‘Kami beribadah kepada-Mu dan tidak tidak kepada selain-Mu. Kami meminta pertolongan kepada-Mu dan tidak kepada selain-Mu’.

Allah menyebutkan ‘ibadah’ sebelum isti’anah/permintaan tolong adalah suatu bentuk pendahuluan dengan sesuatu yang umum sebelum perkara yang khusus. Selain itu, hal ini juga bisa ditafsirkan dalam rangka memberikan perhatian lebih kepada hak Allah ta’ala -yaitu hak untuk diiibadahi- di atas hak hamba-Nya.

Pengertian ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perbuatan dan ucapan, yang lahir maupun yang batin. Adapun isti’anah maknanya adalah bersandar kepada Allah ta’ala dalam hal mencari kebaikan/manfaat dan menolak kemudharatan. Hal itu dengan disertai kepercayaan penuh/tsiqah kepada Allah dalam berusaha mendapatkannya.

Menegakkan ibadah kepada Allah dan isti’anah kepada-Nya merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan yang abadi. Inilah jalan untuk menyelamatkan diri dari segala keburukan. Oleh sebab itu tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan melaksanakan kedua hal ini -ibadah dan isti’anah- dengan baik.

Suatu ibadah hanya akan disebut ibadah -yang benar- apabila diambil dari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta diniatkan untuk mencari wajah Allah [harus ikhlas]. Dengan kedua perkara inilah suatu ibadah akan menjadi ibadah yang benar.

Disebutkannya isti’anah setelah ibadah, padahal isti’;anah adalah bagian dari ibadah itu sendiri, disebabkan hamba dalam segala bentuk ibadahnya sangat membutuhkan untuk selalu memohon bantuan dan pertolongan kepada Allah ta’ala. Karena sesungguhnya apabila Allah tidak memberikan bantuan kepada dirinya, niscaya apa yang dikehendakinya tidak bisa tercapai; apakah itu berupa melaksanakan perintah atau menjauhi larangan.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Ringkasan Penjelasan Beliau

Dari penjelasan beliau di atas ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ringkas:

  1. Ayat ini menunjukkan kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah
  2. Ibadah adalah hak Allah semata, oleh sebab itu ibadah apa pun juga tidak boleh ditujukan/dipersembahkan kepada selain-Nya.
  3. Ibadah mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Di sisi lain, ibadah hanya akan benar jika sesuai tuntunan Nabi dan ikhlas karena Allah.
  4. Ibadah yang tidak ikhlas atau tidak sesuai tuntunan tidak diterima oleh Allah
  5. Hak Allah lebih utama daripada hak hamba
  6. Setiap hamba butuh terhadap pertolongan Allah dalam ibadahnya kepada Allah
  7. Wajibnya mengingkari peribadatan kepada selain Allah
  8. Dengan isti’anah kepada Allah maka seorang hamba akan bisa mendapatkan manfaat dan terbebas dari mudhorot yang dia khawatirkan
  9. Kebahagiaan hanya akan diperoleh dengan ibadah dan isti’anah

Keterangan Ulama Yang Lain

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf bahwa al-Fatihah menyimpan rahasia [ajaran] al-Qur’an, sedangkan rahasia surat ini adalah kalimat ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in‘. Bagian yang pertama (Iyyaka na’budu) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari syirik. Adapun bagian yang kedua (Iyyaka nasta’in) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari [kemandirian] daya dan kekuatan, serta menyerahkan [segala urusan] kepada Allah ‘azza wa jalla. Makna semacam ini dapat ditemukan dalam banyak ayat al-Qur’an.” [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. At-Taufiqiyah]

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullah berkata, “Di dalamnya terkandung penetapan tauhid uluhiyah. Dikedepankannya objek yaitu kata Iyyaka [kepada-Mu] memberikan makna pembatasan. Sehingga memberikan arti; “Kami mengkhususkan ibadah dan isti’anah/permintaan tolong hanya kepada-Mu, dan kami tidak mempersekutukan siapa pun bersama-Mu.”.” [lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 57]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Di dalamnya juga terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Iyyaka na’budu mengandung pemurnian ibadah untuk Allah semata; sehingga di dalamnya terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang menyertakan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya.” [lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 9]

Sebuah realita yang sangat menyedihkan adalah banyak diantara kaum muslimin di masa kita sekarang ini yang mengucapkan Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, akan tetapi mereka tidak memperhatikan kandungan maknanya sama sekali. Mereka tidak memurnikan ibadahnya kepada Allah semata. Mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Seperti halnya orang-orang yang berdoa -padahal doa adalah ibadah, pent- kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepada Husain, kepada Abdul Qadir Jailani, Badawi, dan lain sebagainya. Ini semua termasuk perbuatan syirik akbar dan dosa yang tidak akan diampuni pelakunya apabila dia mati dalam keadaan belum bertaubat darinya [lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19-20 oleh Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sikap pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” [lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83 cet. al-Maktab al-Islami]

Ketika mengomentari ayat Iyyaka na’bdu wa iyyaka nasta’in, Qatadah rahimahullah berkata, “Allah memerintahkan kalian untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan supaya kalian meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian.” Ayat ini bermakna “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu.” Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang bertawakal kepada makhluk telah berbuat syirik [lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19 dan 31, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34]].

Di dalam kalimat Iyyaka nasta’in terkandung bantahan bagi kaum Qodariyah (penolak takdir). Mereka beranggapan bahwa segala perbuatan hamba terjadi dengan kehendak dirinya sendiri tanpa campur tangan kehendak Allah. Kalau memang demikian lantas apa gunanya memohon pertolongan kepada-Nya?! [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 54]

Dari sisi lain, Ibnul Qayyim juga memaparkan, bahwa ayat di atas juga mengandung bantahan bagi kaum Jabriyah yang beranggapan bahwa Allah memaksa hamba-hamba-Nya dan tidak memberikan pilihan sama sekali bagi mereka di dalam hidupnya. Sebab kalau seandainya hamba memang dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya maka tidak dibenarkan baginya untuk mengucapkan “Kami beribadah” atau “Kami meminta pertolongan” [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan bahwa ayat Iyyaka na’budu bermakna; “Kami beribadah kepada-Mu dengan penuh rasa cinta, takut, dan harap”, sebab ibadah tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan ketiganya [lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 21]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, bahwa ibadah memadukan dua hal pokok; puncak rasa cinta dengan puncak perendahan diri dan ketundukan [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 65]. Adapun isti’anah (memohon pertolongan kepada Allah) memadukan dua hal pokok yang lain, yaitu: tsiqah/kepercayaan kepada Allah dan bersandar kepada-Nya [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 66]

Dari ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim juga menyatakan bahwa di dalamnya terkandung penetapan adanya kenabian dan pengutusan para rasul. Karena umat manusia tidak mungkin bisa mengenal tata-cara beribadah secara terperinci kecuali dengan perantara penjelasan para rasul [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 9]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memaknakan bahwa didahulukannya ibadah sebelum isti’anah adalah karena ibadah merupakan tujuan (ghoyah) sedangkan isti’anah adalah sarananya. Oleh sebab itu tujuan lebih didahulukan penyebutannya sebelum sarana [lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 66, Tafsir al-Qur’an al-Azhim [1/34]]

Discussion

3 thoughts on “Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 4]

  1. Reblogged this on zazazubagza.

    Posted by zazazubagza | January 23, 2014, 4:09 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Mengikhlaskan Ibadah Hanya Untuk Allah | Salsabila - January 22, 2014

  2. Pingback: Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 4] « agus88 Mobile Blog - January 26, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: