//
you're reading...
Kalam Ulama, Nasehat

Bersatu Menegakkan Pilar Kebahagiaan

lemmon_juice

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan empat buah pilar kebahagiaan di dalam kitabnya Qa’idah fil Mahabbah. Keempat pilar itu adalah:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada hari akhir
  3. Melakukan amal salih
  4. Tunduk kepada syari’at yang dibawa Rasul

Beliau menyebutkan dalilnya, yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kaum Yahudi, Nashara, dan Shabi’in. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal salih, maka bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka, dan tidak ada ketakutan bagi mereka, serta mereka tidak akan bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Ayat di atas menunjukkan ketiga pilar yang pertama. Syaikhul Islam juga menjelaskan, bahwa keempat pilar ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, ia saling berkaitan. Perselisihan di dalam masalah-masalah ini -yaitu pilar agama- termasuk bentuk perpecahan dan perselisihan yang dicela di dalam al-Kitab dan as-Sunnah.

[lihat Qa’idah fil Mahabbah, hal. 105]

Perpecahan Bertolak Belakang Dengan Tauhid

Keempat pokok inilah yang tercakup dalam istilah ad-diin/agama sebagaimana yang banyak dibicarakan di dalam dalil-dalil yang berisi larangan dari perpecahan. Diantaranya yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah din/agama mereka, sehingga mereka pun bergolong-golongan, maka engkau sama sekali tidak termasuk bagian dari mereka.” (QS. Al-An’aam: 159)

Syaikhul Islam menerangkan, bahwa perpecahan dan persengketaan semacam ini akan mengakibatkan munculnya kesyirikan. Dan pada hakikatnya hal itu -perpecahan- juga berseberangan dengan hakikat tauhid yaitu mengikhlaskan seluruh agama untuk Allah semata. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi termasuk golongan orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi bergolong-golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32) 

[lihat Qa’idah fil Mahabbah, hal. 106]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, diantara faidah dari ayat di atas -ar-Ruum 31- 32- adalah berisi peringatan keras bagi kaum muslimin agar tidak menyerupai kelakuan kaum musyrikin yang berpecah-belah dan bergolong-golongan. Padahal agama ini satu, Rasul -umat ini- pun satu, dan sesembahan -mereka- pun hanya satu.

Beliau juga menyebutkan bahwa kebanyakan persoalan agama ini telah disepakati oleh para ulama dan terjalin dengan indah dalam ikatan ukhuwah keimanan. Lantas, mengapa ini semua diabaikan begitu saja? Kemudian dibangunlah perpecahan dan perselisihan gara-gara masalah yang samar atau perkara cabang yang sifatnya khilafiyah. Sehingga hal itu mengakibatkan sebagian menyesatkan sebagian yang lain. Bukankah hal ini sejatinya merupakan salah satu bentuk penyesatan dan tipu daya setan serta misi yang dicanangkan olehnya dalam rangka mengelabui dan menipu kaum muslimin?

Dan bukankah upaya untuk menyatukan kalimat mereka serta menyingkirkan perpecahan yang ada diantara mereka yang telah dibangun di atas prinsip yang batil itu, bukankah upaya semacam ini termasuk bentuk jihad fi sabilillah yang paling utama, dan termasuk amal yang paling utama guna mendekatkan diri kepada Allah?

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 641]

Larangan Berpecah-Belah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan, dan untuk mereka itulah siksaan yang sangat pedih.” (QS. Ali Imran: 105).

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Ini merupakan larangan bagi kita supaya tidak menjadi sebagaimana orang-orang jahiliyah yang suka berpecah-belah dalam agama mereka dan berselisih. Namun, hal itu terjadi bukan karena kebodohan mereka, akan tetapi hal itu timbul karena hawa nafsu.

“Setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan”. Mereka meninggalkan keterangan-keterangan tersebut dan justru mengikuti kemauan hawa nafsunya. Sehingga faktor yang mendorong mereka menuju perpecahan ini adalah hawa nafsu -kita berlindung kepada Allah darinya-. Mereka telah mempertuhankan hawa nafsu mereka sebagai sesembahan selain Allah ‘azza wa jalla… [lihat Syarh Masa’il Jahiliyah, hal. 36-37]

Sumber Kesesatan dan Malapetaka

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata:

Barangsiapa yang mencermati keadaan kaum ahli bid’ah secara umum, niscaya akan dia dapati bahwa sebenarnya sumber kesesatan mereka itu adalah karena tidak berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah.

Hal itu bisa jadi karena mereka bersandar kepada akal dan pendapat-pendapat, mimpi-mimpi, hikayat-hikayat/cerita yang tidak jelas, atau perkara lain yang dijadikan oleh kaum ahlul ahwaa’ [penyeru bid’ah] sebagai sumber dasar hukum bagi mereka.

[lihat at-Tuhfah as-Saniyyah Syarh al-Manzhumah al-Haa’iyah, hal. 15]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang merenungkan keadaan alam semesta dan berbagai keburukan yang terjadi padanya, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa segala keburukan di alam semesta ini sebabnya adalah menyelisihi rasul dan keluar dari ketaatan kepadanya. Demikian pula segala kebaikan yang ada di dunia ini sebabnya adalah ketaatan kepada rasul.

[lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/236-237]]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat…” [lihat al-Fawa’id, hal. 104]

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah mengatakan:

Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid’ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat. [lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 39]

Sumber Perpecahan dan Pertikaian

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah memberikan keterangan berharga :

Tidaklah terjadi perselisihan dan perpecahan kecuali disebabkan oleh sikap tidak berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu sebagaimana perpecahan yang terjadi pada ahli kitab. Padahal Allah telah menurunkan kepada mereka Taurat dan Injil. Namun, tatkala mereka tidak berpegang teguh dengan ‘tali Allah’, mereka pun berpecah belah dan berselisih.

[lihat Syarh al-Manzhumah al-Haa’iyyah, hal. 48]

Syaikh al-Fauzan hafizhahullah memberikan penegasan :

Oleh sebab itu, tidak akan bisa menyatukan hati [umat] dengan jalan banyak-banyak memberi [berderma], banyaknya harta, bahkan perkara ini justru akan membuat hati-hati [manusia] menjadi semakin bertambah lari [menjauh] dan saling membenci. Bagaimana pun anda berusaha menginfakkan harta -sebanyak apapun- maka hal itu tidak akan bisa menyatukan hati-hati [mereka]. Akan tetapi sesungguhnya [jalan] yang bisa meyatukan hati hanyalah al-Qur’an dan as-Sunnah. [lihat Syarh al-Manzhumah al-Haa’iyyah, hal. 49]

Syaikh Abdullah al-Ubailan hafizhahullah berkata:

Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Suatu ketika, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ditanya, “Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”. Maka beliau menjawab, “Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[lihat al-Ishbah, hal. 86]

Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

Adapun apabila mereka -ahlus sunnah- berselisih/berbeda pendapat, maka pendapat salah satu diantara mereka bukanlah menjadi hujjah/argumen yang dengan sendirinya bisa mengalahkan pendapat pihak lain -sesama ahlus sunnah- akan tetapi yang wajib adalah mengembalikan permasalahan yang dipersengketakan itu kepada Allah dan Rasul.

Hal itu sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Kemudian apabila kalian bersengketa/berselisih mengenai suatu perkara apa pun, hendaklah kalian kembalikan hal itu kepada Allah dan Rasul. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah yang terbaik dan paling bagus hasilnya.” (QS. An-Nisaa’: 59)

[lihat al-Manhaj as-Salafi oleh Dr. Mafrah bin Sulaiman al-Qusi, hal. 360]

Oleh sebab itu, tidak heran jika Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang menjadikan seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dia jadikan satu-satunya pedoman; sehingga barangsiapa yang mencintainya maka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah -menurutnya- dan barangsiapa yang menyelisihinya adalah ahli bid’ah dan pemecah belah -sebagaimana hal itu bisa ditemui pada para pengikuti imam ahlul kalam dalam urusan agama ini ataupun selainnya- maka sesungguhnya dia adalah seorang ahli bid’ah, penyebar kesesatan dan pemecah belah. [lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 19]

Mengikuti Jalan Lurus dan Menjauhi Penyimpangan

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang Kami perintahkan adalah jalan-Ku yang lurus ini. Ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al An’aam: 153)

Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Shirathal mustaqim itu adalah jalan Allah yang diserukan oleh beliau [rasul]. Itulah as-Sunnah. Adapun yang dimaksud dengan jalan-jalan yang lain itu adalah jalan orang-orang yang menebarkan perselisihan yang menyimpang dari jalan yang lurus. Dan mereka itulah para pelaku bid’ah.” [lihat al-I’tisham [1/76]].

Ketika menjelaskan maksud “janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain’ Mujahid mengatakan, “Maksudnya adalah bid’ah dan syubhat-syubhat.” [lihat al-I’tisham [1/77]]

Dalam memaknai hakikat jalan yang lurus -sebagaimana yang disebutkan  dalam surat al-Fatihah- ada beberapa penafsiran ulama. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan bahwa jalan lurus adalah Islam. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa maksudnya adalah al-Qur’an. Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata bahwa maksudnya adalah jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semua penafsiran ini tidak bertentangan dan saling menjelaskan. Barangsiapa yang istiqomah di atas jalan yang lurus yang bersifat maknawi ketika hidup di dunia maka kelak di akherat dia akan selamat ketika meniti shirath yang sebenarnya; yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka.

[lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 21, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/37]]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: