//
you're reading...
Kalam Ulama, Nasehat, Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 5]

images

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini kami sajikan penjelasan Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya Taisir al-Karim ar-Rahman mengenai hikmah dan faidah dari surat al-Fatihah.

Syaikh rahimahullah berkata :

Kemudian Allah ta’ala berfirman [yang artinya], “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Artinya; tunjukilah, bimbinglah, dan berikan taufik kepada kami guna meniti jalan yang lurus/shirathal mustaqim. Yaitu jalan yang jelas dan mengantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Yaitu mengetahui kebenaran dan beramal dengannya. Berikanlah hidayah kepada kami ‘menuju’ jalan itu, dan berikanlah hidayah kepada kami ‘di atas’ jalan itu.

Hidayah ‘menuju’ jalan itu adalah dengan menetapi agama Islam serta meninggalkan agama-agama yang lain. Adapun hidayah ‘di atas’ jalan adalah mencakup hidayah menuju segala rincian ajaran agama, baik berupa ilmu maupun amalan. Oleh sebab itulah, doa ini merupakan salah satu do’a yang terlengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu pula wajib bagi setiap insan untuk berdoa kepada Allah dengan doa ini di setiap raka’at di dalam sholatnya. Dikarenakan mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Tambahan Keterangan

Shirath secara bahasa bermakna jalan yang jelas. Demikian keterangan Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya [lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 10]

Dalam memaknai kalimat ihdinaa [tunjukilah kami] ada empat penafsiran yang dibawakan oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, yaitu :

  1. ‘Teguhkanlah kami’ ini pendapat ‘Ali dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhuma
  2. ‘Bimbinglah kami’
  3. ‘Berikanlah taufik kepada kami’
  4. ‘Berikanlah ilham kepada kami’. Ketiga pendapat terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma

[lihat Zaad al-Masiir, hal. 34]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya di atas menjelaskan bahwa hakikat jalan yang lurus itu adalah ‘mengetahui kebenaran dan beramal dengannya’. Penafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata :

Yang dimaksud hidayah adalah hidayah berupa bimbingan dan hidayah berupa taufik. Sehingga dengan ucapan anda ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’ itu berarti anda telah memohon kepada Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih.

[lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 17]

Oleh sebab itu, para ulama membagi hidayah menjadi dua bagian :

  1. Hidayah berupa penunjukan, bimbingan, dan keterangan. Kebalikan darinya adalah dholal/kesesatan
  2. Hidayah berupa taufik, ilham, dan keteguhan. Kebalikan darinya adalah ghoyyu/penyimpangan [lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 20 oleh Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi].

Artinya, dengan membaca ayat di atas kita sedang memohon kepada Allah bimbingan -berupa ilmu dan keterangan- dan juga taufik/pertolongan agar bisa melaksanakan bimbingan itu. Oleh sebab itu Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan hidayah dalam ayat ini sebagai ‘bimbingan dan taufik’ [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/137]

Doa yang terdapat di dalam ayat ini -yaitu permohonan petunjuk menuju jalan yang lurus- mengandung cita-cita dan harapan terbesar bagi seorang hamba. Karena dengan mendapatkan hidayah meniti jalan yang lurus itu akan mengeluarkan dirinya dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Dengannya pula ia akan berhasil menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba kepada hidayah jauh lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk kehidupannya yang fana. Adapun hidayah jalan lurus merupakan bekal untuk kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini selain mengandung permohonan untuk bisa teguh dan tegar di atas hidayah, ia juga berisi permintaan tambahan hidayah. Demikian keterangan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah [lihat Kutub wa Rasa’il, hal. 152]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, faidah dari ayat ini adalah bahwasanya seorang insan sangat membutuhkan Allah ‘azza wa jalla. Yaitu agar Allah berikan kepadanya hidayah. Oleh sebab itu semestinya seorang insan tidak merasa ujub/berbangga diri, atau merasa bahwa dirinya telah berjasa kepada Islam dengan apa-apa yang telah dia lakukan. Sebab seandainya Allah tidak memberikan hidayah kepadanya niscaya dia pun tidak akan mendapat hidayah [lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 29-30] 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Firman-Nya [yang artinya] “Tunjukilah kami jalan yang lurus” di dalamnya terkandung keterangan bahwasanya seorang hamba tidaklah memiliki jalan untuk menggapai kebahagiaan dirinya kecuali dengan istiqomah meniti jalan yang lurus itu. Dan bahwasanya tidak ada baginya jalan untuk istiqomah kecuali dengan hidayah dari-Nya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan dari-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk istiqomah di atas jalan yang benar kecuali dengan hidayah dari-Nya.

[lihat al-Fawa’id, hal. 40]

Dari sini kita bisa memahami betapa doa ini merupakan doa yang sangat agung, bahkan ia termasuk doa yang terlengkap dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh as-Sa’di di atas. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa besar dan mendesaknya kebutuhan hamba terhadap hidayah itu. Karena dengan hidayah itulah dirinya akan bisa menggapai kebahagiaan dan selamat dari kehancuran. 

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: