//
you're reading...
Nasehat

Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 57]

الباكى-من-خشية-الله-400x330

Hakikat Khosy-yah

[591] Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Khosy-yah adalah rasa takut yang menghalangi dirimu dari melakukan perbuatan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla.” [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/545]

Kebutuhan Terhadap Ibadah

[592] Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang insan selalu membutuhkan Allah ‘azza wa jalla dalam bentuk ibadah dan isti’anah/permintaan pertolongan. Adapun kebutuhan dirinya kepada Allah dalam bentuk ibadah, karena sesungguhnya ibadah itu adalah bahan baku/sumber kebahagiaan dirinya. Adapun mengenai isti’anah, karena sesungguhnya apabila Allah tidak memberikan bantuan dan pertolongan kepadanya, maka Allah akan menyandarkan dia/urusannya kepada dirinya sendiri. Sehingga itu artinya Allah akan menyerahkan dirinya kepada sifat ketidakmampuan, kelemahan, dan aurat/aib. Sementara tidak mungkin tegak urusan seorang insan melainkan dengan bantuan dan pertolongan dari Allah ‘azza wa jalla.” [lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 22-23]

Akar Perpecahan

[593] Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Tidaklah terjadi perselisihan dan perpecahan kecuali disebabkan oleh sikap tidak berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu sebagaimana perpecahan yang terjadi pada ahli kitab. Padahal Allah telah menurunkan kepada mereka Taurat dan Injil. Namun, tatkala mereka tidak berpegang teguh dengan ‘tali Allah’, mereka pun berpecah belah dan berselisih.” [lihat Syarh al-Manzhumah al-Haa’iyyah, hal. 48]

Hukum Mencela Sahabat Nabi

[594] al-Qadhi rahimahullah berkata, “Mencela salah seorang diantara mereka [sahabat Nabi] adalah termasuk perbuatan maksiat dan dosa besar. Madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama menyatakan bahwa pelakunya harus diberikan hukuman pelajaran/ta’zir, namun tidak sampai dihukum bunuh. Sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pelakunya layak untuk dijatuhi hukuman bunuh.” [lihat al-Minhaj, 8/149]

Ciri Orang Bahagia

[595] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang yang berbahagia adalah yang merasa khawatir terhadap amal-amalnya kalau-kalau itu tidak tulus ikhlas karena Allah dalam melaksanakan agama, atau barangkali apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah melalui lisan Rasul-Nya.” [lihat Mawa’izh Syaikhil Islam, hal. 88]

Manfaat Ilmu Di Tengah Fitnah

[596] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu bisa mengenali fitnah di saat kemunculannya. Apabila fitnah itu telah berlalu, maka orang yang berilmu dan jahil/tidak berilmu pun bisa sama-sama mengetahuinya.” [lihat al-Fitnah wa Atsaruha al-Mudammirah, hal. 218]

Manfaat Majelis Ilmu

[597] Luqman al-Hakim berkata kepada putranya, “Wahai putraku, duduklah bersama para ulama dan dekatilah mereka dengan kedua lututmu. Karena sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati dengan hikmah sebagaimana menghidupkan tanah yang mati dengan curahan hujan deras dari langit.” [lihat al-Fitnah, hal. 220]

Keutamaan Manhaj Salaf

[598] Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mewasiatkan, “Barangsiapa yang menginginkan keselamatan wajib atasnya untuk mengenali madzhab salaf dan berpegang teguh dengannya, serta mendakwahkan kepadanya. Inilah jalan keselamatan. Ia laksana bahtera Nuh ‘alaihis salam; barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya pasti binasa dan tenggelam dalam kesesatan. Oleh sebab itu tiada keselamatan bagi kita kecuali dengan madzhab salaf.” [lihat Manhaj as-Salaf ash-Shalih wa Haajatul Ummah Ilaih, hal. 11]

Peringatan Bagi Para Penimba Ilmu

[599] Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah berpesan, ”Ketahuilah, bahwasanya segala sanjungan yang diberikan kepada ilmu dan ulama ini hanya berlaku bagi orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, orang-orang yang baik dan bertakwa. Mereka yang meniatkan dengan ilmunya untuk meraih wajah Allah yang mulia. Mereka yang bermaksud dengan ilmunya untuk mencari kedekatan diri di sisi-Nya di surga-surga yang penuh dengan kenikmatan. Bukan orang yang mencari ilmu dengan niat buruk, atau dibarengi perilaku yang kotor. Atau mencari ilmu dalam rangka mengejar kepentingan dan ambisi-ambisi dunia. Berupa kedudukan, harta, atau berbanyak-banyakan pengikut dan santri/penimba ilmu…” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 45]

Urgensi Hidayah Dari Allah

[600] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Firman-Nya [yang artinya] “Tunjukilah kami jalan yang lurus” di dalamnya terkandung keterangan bahwa seorang hamba tidaklah memiliki jalan untuk menggapai kebahagiaan dirinya kecuali dengan istiqomah meniti jalan yang lurus itu. Dan tidak ada baginya jalan untuk istiqomah kecuali dengan hidayah dari-Nya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan dari-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk istiqomah di atas jalan yang benar kecuali dengan hidayah dari-Nya.” [lihat al-Fawa’id, hal. 40]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: