//
you're reading...
Tafsir

Tafsir Surat al-Fatihah [Bagian 6]

images (6)

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah

Berikut ini kami sajikan penjelasan Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam kitabnya Taisir al-Karim ar-Rahman mengenai hikmah dan faidah dari surat al-Fatihah.

Syaikh rahimahullah berkata :

Jalan yang lurus ini adalah ‘jalannya orang-orang yang Engkau berikan kenikmatan kepada mereka’ yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang salih.

‘bukan’ jalannya ‘orang-orang yang dimurkai’ yaitu orang-orang yang mengenali kebenaran dan justru meninggalkannya, seperti halnya kaum Yahudi dan yang serupa dengan mereka.

Dan bukan pula jalannya ‘orang-orang yang sesat’ yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran di atas kebodohan dan kesesatan. Seperti halnya kaum Nashara dan yang serupa dengan mereka.

[lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39]

Tambahan Faidah :

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

Di dalam firman-Nya [yang artinya] “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.” Terdapat dalil yang menunjukkan bahwasanya kenikmatan agama ini jauh lebih besar daripada kenikmatan dunia. Karena diantara orang-orang yang dimurkai dan tersesat itu ada yang diberikan kenikmatan-kenikmatan di dunia yang sangat besar oleh Allah. Akan tetapi nikmat-nikmat dunia ini semuanya tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan nikmat-nikmat agama. [lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 36-37]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka itu adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu. [lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan:

Barangsiapa yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa yang rusak di antara ahli ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi. [lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 36]

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa nikmat ilmu dan amal adalah nikmat yang sangat agung. Itulah nikmat yang setiap hari kita mohon kepada Allah dalam doa kita ‘Ihdinash shirathal mustaqim’. Karena petunjuk menuju jalan lurus itu mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal salih, sebagaimana diterangkan para ulama.

Apakah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat? al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertanam di dalam hati dan ilmu yang hanya mampir di lisan. Ilmu yang tertanam di dalam hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu lisan itulah hujjah/bukti dari Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” [lihat al-Hadiyah fi Mawa’izh al-Imam Ibni Taimiyah, hal. 130]

Kebutuhan Terhadap Ilmu dan Amal

 

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Umat manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sepanjang waktu.” [lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 91]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang melata di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” [lihat al-‘Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96]

Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Lantas lelaki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”. Ibnu Mas’ud menimpali perkataannya, “Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.” [lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal 1/133]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu sebagaimana penyesalanku terhadap suatu hari yang tenggelam matahari pada hari itu sehingga berkuranglah ajalku padanya sedangkan amalku tidak kunjung bertambah.” [lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i 2/11]

Ibnu ‘Ajlan rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi baik suatu amal tanpa tiga hal, yaitu: ketakwaan kepada Allah, niat baik, dan cara yang benar.” [lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19]

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” [lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131]

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: