//
you're reading...
Kalam Ulama, Nasehat

Mengikhlaskan Niat

2124613738_c7b8e2fccb_o

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diperolehnya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

A. Makna Hadits Secara Global

Hadits ini berisi kaidah yang sangat agung di dalam Islam, yaitu bahwasanya segala amal perbuatan hamba dinilai jika dilandasi dengan niat dan hamba akan mendapatkan balasan pahala sesuai dengan kadar niat yang dia miliki. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya untuk ikhlas dalam beramal salih, karena amalan yang tidak ikhlas tidak akan diterima. Suatu amalan yang serupa bisa mendapatkan balasan yang berbeda karena faktor niatnya.

B. Pengertian Amal

Di dalam Islam, amal merupakan bagian dari iman. Oleh sebab itu para ulama kita mengatakan bahwa iman mencakup ucapan dan perbuatan atau amalan. Anggapan yang menyatakan bahwa amal bukan bagian dari iman merupakan pendapat sesat sekte Murji’ah. Adapun para ulama Ahlus Sunnah menyepakati bahwa amal adalah bagian dari iman.

Para ulama juga menjelaskan, bahwa amal itu ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Amal ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat sunnah. Ada amalan yang apabila ditinggalkan membuat berdosa besar dan ada pula amalan yang apabila ditinggalkan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Para ulama sepakat, bahwa orang yang tidak mengucapkan syahadat tidak dihukumi sebagai muslim.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Adalah suatu hal yang telah disepakati diantara para sahabat, tabi’in, ulama sesudah mereka, dan para ulama yang kami jumpai bahwasanya iman terdiri dari ucapan, amalan, dan niat. Salah satu saja tidak sah apabila tidak dibarengi oleh bagian yang lainnya.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1145)

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Telah sepakat para sahabat dan tabi’in serta orang-orang sesudah mereka dari kalangan para ulama Sunnah, bahwasanya amal adalah bagian dari iman. Mereka mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amalan, dan aqidah/keyakinan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1145)

C. Pengertian Niat

Niat dalam pembahasan syari’at bisa dipisahkan ke dalam dua bidang ilmu. Niat dalam pembahasan ilmu fikih adalah niat yang biasa kita kenal. Misalnya, niat sholat, niat puasa, niat haji, dan lain sebagainya. Yang kedua adalah niat dalam pembahasan ilmu tauhid dan akhlak yang lebih dikenal dengan istilah ikhlas. Letak niat adalah di dalam hati dengan kesepakatan para ulama, dan tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk mengucapkannya.

Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah mengatakan, “Dalam konteks syari’at, niat memiliki dua sisi pembahasan. Salah satunya adalah niat dalam artian ikhlas dalam beramal untuk Allah semata. Ini adalah makna niat yang paling tinggi. Niat dalam makna ini dibicarakan oleh para ulama tauhid, akhlak dan perilaku. Adapun yang kedua, adalah niat yang berfungsi untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah yang lain. Niat dalam makna ini dibicarakan oleh para fuqoha/ahli fikih.” (lihat Taisir al-‘Allam Syarh ‘Umdat al-Ahkam [1/10])

Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah berkata, “Mengeraskan niat bukan sesuatu yang wajib, juga bukan sesuatu yang dianjurkan dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Bahkan, orang yang mengeraskan niat adalah orang yang melakukan kebid’ahan dan menyelisihi syari’at. Apabila dia melakukan hal itu dengan keyakinan bahwa hal itu termasuk bagian dari syari’at, maka dia adalah orang yang tidak paham (jahil) dan berhak diberi pelajaran.” (lihat al-Muhkam al-Matin fi Ikhtishar al-Qaul al-Mubin, hal. 48)

D. Syarat Diterimanya Amalan

Para ulama menjelaskan, bahwa hadits ini berisi salah satu syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas. Ini merupakan syarat diterimanya amal secara batin. Adapun syarat diterimanya amal secara lahir adalah harus sesuai dengan sunnah/tuntunan. Syarat yang kedua ini terkandung di dalam hadits ke-5 di dalam kitab Arba’in; yaitu hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah/tuntunannya dari kami, maka tertolak.” (HR. Muslim).

Kedua syarat diterimanya amalan ini terdapat di dalam akhir surat al-Kahfi. Allah ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Amal yang salih adalah amal yang sesuai dengan tuntunan dan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan tidak berbuat syirik artinya amal itu ikhlas untuk Allah. Amal hanya akan diterima jika terpenuhi kedua syarat ini; ikhlas dan mutaba’ah/mengikuti tuntunan. Apabila ikhlas tapi tidak sesuai tuntunan maka tidak diterima, demikian juga sebaliknya; tidak akan diterima meskipun sesuai tuntunan tapi tidak ikhlas.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap amalan yang tidak ikhlas dan tidak berada di atas ajaran syari’at yang diridhai [Allah] maka itu adalah batil/sia-sia.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/103])

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)

Kedua syarat ini pula yang terkandung dalam bagian awal surat al-Mulk. Allah ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Maksud dari ‘yang terbaik amalnya’ sebagaimana ditafsirkan oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah adalah ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Ikhlas adalah jika dipersembahkan untuk Allah semata, sedangkan benar ialah apabila di atas sunnah/tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan, para ulama juga menerangkan bahwa kedua syarat diterimanya amalan ini juga telah tercakup di dalam surat al-Fatihah, yaitu di dalam ayat,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah.”

Hal ini disebabkan, ibadah tidaklah dikatakan ibadah kecuali apabila diambil dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa ibadah itu harus ikhlas dipersembahkan kepada Allah semata. Karena didahulukannya objek -yaitu kata  Iyyaka/kepada-Mu- menunjukkan makna pembatasan dan pengkhususan. Sehingga seorang hamba yang membacanya seolah-olah ingin mengatakan ‘Kami beribadah kepada-Mu dan tidak kepada selain-Mu’. Inilah yang kita kenal dengan istilah tauhid.

E. Pengertian Ibadah

Ibadah merupakan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah yang dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan ataupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah ada yang sifatnya wajib dan ada yang sifatnya sunnah/mustahab.

Ibadah ini merupakan tujuan dan hikmah penciptaan jin dan manusia. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah tidak akan diterima apabila tercampur dengan kesyirikan. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Jika kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah mengatakan, “Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya. Maka ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah dikatakan ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Apabila syirik mencampuri ibadah maka ia menjadi rusak, sebagaimana hadats yang menimpa pada thaharah.”

Ibadah juga tidak akan diterima jika tidak dilandasi dengan iman. Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang kufur kepada iman maka sungguh terhapus semua amalnya, dan dia di akhirat nanti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maa’idah: 5)

Dan cukuplah seorang disebut tidak beriman [kafir] meskipun dia hanya mengingkari salah satu rukun iman. Sebagaimana yang terjadi di masa Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma. Ketika itu ada sebagian orang yang mengingkari takdir. Mereka biasa dikenal dengan sekte Qadariyah. Ibnu ‘Umar berkata, “Seandainya salah seorang diantara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian dia infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya dari mereka sampai mereka beriman kepada takdir.”

Ibadah kepada Allah ini merupakan tugas dan kebutuhan setiap hamba sepanjang hayat. Allah ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin/kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Oleh sebab itu pula, Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Dengan membawa misi ibadah inilah para rasul diutus oleh Allah kepada seluruh manusia. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus para sahabatnya untuk berdakwah, maka beliau mewasiatkan kepada mereka untuk memprioritaskan dakwah tauhid. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari)

Tauhid inilah yang terkandung dalam kalimat syahadat laa ilaha illallah. Arti syahadat ini adalah tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah. Konsekuensi syahadat ini adalah kita tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, apapun atau siapapun dia; apakah malaikat, nabi, wali, orang salih, apalagi batu dan pohon. Kalimat ini menuntut setiap muslim untuk beribadah kepada Allah semata, dan meninggalkan segala sesembahan selain-Nya. Karena itulah Allah ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Allah ta’ala juga berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup, dan matiku adalah untuk Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. Al-An’aam: 162)

Syirik kepada Allah disamping menyebabkan amal tidak diterima, maka ia juga menyebabkan pelakunya -jika mati dalam keadaan belum bertaubat darinya- pasti akan kekal di neraka. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan akan mengampuni apa-apa yang di bawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Sehingga pelaku syirik diharamkan masuk surga dan dihukum kekal di dalam neraka. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan kepadanya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS. Al-Maa’idah: 72)

Demikian pula orang-orang kafir selain kaum musyrikin akan dihukum kekal di dalam neraka, karena mereka tidak membawa bekal keimanan. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا

“Sesungguhnya orang-orang kafir yaitu dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Tidaklah bermanfaat di akhirat kelak bagi orang-orang kafir itu banyaknya harta dan keturunan mereka. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, tidak akan bermanfaat bagi mereka harta dan anak-anak mereka guna melindungi dari siksa Allah barang sedikit pun. Dan mereka itulah bahan bakar api neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 10)

Pada hari kiamat kelak, hanya mereka yang membawa hati yang selamat dari syirik dan kekafiran yang akan selamat dari kekalnya azab Allah. Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari itu tidaklah bermanfaat harta dan tidak pula keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Amal-amal yang dilakukan oleh orang kafir pun sia-sia, bak debu yang berterbangan. Tidak diterima di sisi Allah, karena ia dibangun di atas kekafiran. Allah ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami teliti segala amal yang telah mereka lakukan -di dunia- kemudian Kami jadikan ia laksana debu-debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan, “Apa yang dahulu telah mereka amalkan” yaitu berupa amal-amal kebaikan. Adapun mengenai makna “Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan” maka beliau menjelaskan, “Karena sesungguhnya amalan tidak akan diterima jika dibarengi dengan kesyirikan.” (lihat Zaadul Masir, hal. 1014)

Oleh sebab itulah segala amal ibadah harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, tidak boleh tercampuri dengan riya’ apalagi syirik-syirik besar. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dengan hanif/meninggalkan syirik, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17] cet. Mu’assasah ar-Risalah)

Dengan keikhlasan dan tauhid inilah seorang hamba akan mencapai hakikat ketakwaan. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Ketakwaan dari lubuk hati inilah yang akan sampai kepada Allah, bukan semata-mata amalan lahiriah dengan kurban dan lain sebagainya. Allah ta’ala berfirman,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, tidak pula darah-darahnya, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari [hati] kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

Ketakwaan hati -yaitu yang berporos pada keikhlasan- inilah yang menjadi sebab utama keselamatan. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sikap pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam, hal. 83)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: